Minggu, 23 September 2018

[24/9 09:51] ‪+62 853-4110-2812‬: TANTANGAN JURNALIS
DI ERA INFORMASI DAN MEDIA DIGITAL

Oleh: Wilson Lalengke


1. PENDAHULUAN

“Siapa menguasai informasi, dia menguasai dunia”, demikianlah sebuah kalimat bijak yang sering kita dengar. Ungkapan itu dalam kenyataannya bukanlah sebuah utopia belaka. Realitas telah memberikan bukti di sepanjang sejarah manusia. Seseorang yang memiliki informasi selalu memenangkan setiap kesempatan yang ada. Kemajuan seseorang maupun sebuah bangsa amat ditentukan oleh kepemilikan atau penguasaan informasi. Negara-negara kaya di benua Eropa adalah contoh kongkrit sebagai bukti bahwa penguasaan informasi adalah mutlak bagi pencapaian keberhasilan sebuah usaha. Faktor kecepatan memperoleh informasi juga menjadi amat penting. Penguasaan informasi boleh sama antara satu pihak dengan pihak lainnya, namun dampak dan efektivitas kepemilikan informasi tersebut akan berbeda, salah satunya disebabkan oleh faktor siapa yang terlebih dahulu menguasai informasi tersebut.

Dahulu kala masyarakat hanya mengandalkan berita dari orang per orang melalui proses verbal, suara dari mulut ke mulut, dan kemudian berkembang kepada bentuk tulis dan baca. Pada mulanya manusia hanya mampu saling berkomunikasi antara individu satu dengan individu lain, sementara saat ini seseorang bisa menyampaikan informasi kepada banyak orang bahkan tiada terhitung jumlah penerima informasinya. Dalam hal sistim pertukaran informasi seperti terakhir ini, dari satu pihak kepada banyak orang/pihak, manusia membutuhkan wadah khusus yang dinamakan “media massa” atau dikenal juga dengan istilah umum “pers”. Salah satu entitas penting dalam dunia media massa adalah wartawan atau jurnalis .

Abad berganti, peradaban bergeser. Ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian perjalanan peradaban manusia yang masuk dan mempengaruhi hampir setiap sisi kehidupan manusia, di manapun jua di atas permukaan bumi ini. Pola interaksi dalam berbagi informasi tidak luput dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, dunia informasi ini merupakan sisi peradaban manusia yang paling terkait-kelindan dengan kemajuan teknologi. Peralihan wadah (baca: media) penyampai informasi dari analog (berbentuk cetakan, benda kasat mata, dan sejenisnya) ke sistim digital (termasuk online, streaming, dan bentuk informasi elektronik lainnya) amat muskil dielakkan.

Dalam kondisi dunia pers yang berbasis teknologi informasi seperti sekarang ini, jurnalis yang sejak awal mulanya sebagai pion dan ujung tombak media massa, merupakan kalangan yang rentan tertimpa berbagai tantangan berat dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai jurnalis. Makalah ini bermaksud memberikan berbagai telaah dan alternatif solusi sebagai bahan pemikiran bagi para jurnalis.


2. BEBERAPA PERSOALAN UMUM

Berdasarkan hasil riset tentang komunikasi dan media massa di tahun 1970-an, para ilmuwan komunikasi umumnya menggunakan model pendekatan powerful-effect dalam menganalisis pola interaksi dan dampak yang ditimbulkan oleh sebuah sistim pemberitaan di media massa. Noelle-Neumann, seorang ahli komunikasi, melalui pandangannya mengenai gelombang kebisuan pendukung teori ini, yang menganggap bahwa media memiliki pengaruh yang kuat, terutama media televisi dengan tayangan visualnya. Media massa menurut Wilbur Schramm, 2005 , dapat memperluas wawasan masyarakat. Media massa adalah pembentuk kebudayaan dan peradaban manusia, dari masa ke masa. Sejalan dengan itu, teori komunikasi massa populer “uses and gratifications”, mencoba menjawab pertanyaan, “Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan untuk media?” (McQuail, 2002). Sebuah studi pernah dilakukan untuk mengkaji tentang perilaku komunikasi khalayak dalam relasinya dengan pengalaman langsung-nya dengan media massa. Khalayak diasumsikan sebagai bagian dari publik yang aktif dalam memanfaatkan muatan media saat mengkonsumsi media massa. Masyarakat konsumen media massa diasumsikan sebagai partisipan aktif dan diarahkan oleh tujuannya sendiri. Dalam penelitian itu media massa dianggap hanya sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan individu, dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan cara lain.

Riset yang dilakukan dengan pendekatan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarfeld yang meneliti alasan masyarakat atau pendengar terhadap acara radio berupa opera sabun dan kuis serta alasan mereka membaca berita di surat kabar (McQuail, 2002). Hasilnya, kebanyakan perempuan yang mendengarkan opera sabun di radio beralasan bahwa dengan mendengarkan opera sabun mereka dapat memperoleh gambaran ibu rumah tangga dan istri yang ideal atau dengan mendengarkan opera sabun mereka merasa dapat melepas segala emosi yang mereka miliki. Sedangkan para pembaca surat kabar beralasan bahwa dengan membaca surat kabar, selain mendapat informasi yang berguna, mereka juga mendapatkan rasa aman, saling berbagi informasi dan rutinitas keseharian.

Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa setiap pengguna media massa senantiasa memiliki motivasi kuat terhadap media massa yang pada intinya dimaksudkan untuk mengisi kekosongan rasa, jiwa, dan pikir. Kekosongan itu melahirkan keingin-tahuan terhadap sesuatu yang harus dipenuhi. Jawaban atas keingin-tahuan itu tidak lain adalah informasi, yang selanjutnya –bagi publik– akan  dijadikan pedoman dalam bersikap dan berperilaku di kehidupan sehari-hari. Pada kondisi yang lebih luas, sebuah media massa dapat memenuhi rasa ingin tahu masyarakat dalam jumlah yang besar terhadap suatu masalah. Pada saat yang hampir bersamaan sesungguhnya media massa telah melakukan pembentukan opini, sikap dan perilaku publik terhadap sesuatu masalah tersebut, yang seringkali berbentuk dukungan, pilihan, atau penolakan terhadap suatu hal. Prinsip komunikasi massa melalui pemberitaan di media massa ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menggalang dukungan dan kekuatan bagi tercapainya tujuan jurnalistik, yakni “Menyediakan informasi yang cukup kepada pembaca (publik) agar mampu membentuk paradigma (keputusan) diri sendiri.”   Untuk itu, amat relevan kiranya agar setiap jurnalis terus belajar dan meningkatkan kompetensinya demi peningkatan kemampuan kerja jurnalistiknya.

Pada dua dekade terakhir, para jurnalis sebagai elemen penting dari sebuah sistim publikasi dan media massa di Indonesia menghadapi berbagai persoalan. Hal ini diperberat oleh perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, yang berakibat kepada perubahah paradigma media massa dan sistem yang diberlakukan di internal pekerja media dan publikasi. Kehadiran berbagai ruang berbagi informasi seperti media sosial, jejaring komunikasi berbasis mobil phone, dan berbagai variannya, menjadi faktor vital yang mempengaruhi pola kerja para jurnalis. Awalnya sebagai kuli tinta, kemudian bergeser menjadi kuli disket, dan hari-hari ini dipanggil si Junol (Jurnalis Online) ataupun si Juned (Jurnalis Digital).

Beberapa permasalahan yang harus menjadi perhatian serius bagi seorang jurnalis di era digital ini antara lain, sebagai berikut:

a. Rendahnya Kualitas Jurnalis

Banyak kalangan mengakui bahwa salah satu persoalan mendasar bagi bangsa Indonesia saat ini adalah pengelolaan dunia jurnalisme yang bergeser dari rel yang diharapkan. Pemberitaan dan publikasi informasi yang bebas kebablasan sering menjadi bahan gunjingan dimana-mana. Hal itu tentu saja terkait langsung dengan kerja-kerja jurnalis yang dianggap tidak melakukan tugasnya sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Kode etik jurnalistik seakan hanya pajangan semata, dan tidak lagi menjadi acuan dalam pelaksanaan tugas seorang jurnalis.

Sebenarnya yang terjadi adalah kemampuan kerja rata-rata jurnalis Indonesia saat ini umumnya berada pada tingkat yang memprihatinkan. Ketrampilan menulis berita yang faktual, aktual, informatif dan bernilai kebenaran tidak sebanding dengan idealisme yang dimiliki jurnalis. Tingkat pendidikan rata-rata para jurnalis yang kurang memadai, baik dari segi kesesuaian pendidikan dengan kerja-kerja jurnalisme maupun dari sisi levelitas pendidikan yang masih rendah, menyebabkan kualitas hasil karya kebanyakan jurnalis yang berseliweran di media massa amat memprihatinkan.

Kehadiran jutaan “pemain” informasi yang bebas berkeliaran di media sosial dan berbagai jaringan komunikasi berbasis internet, menambah rumitnya persoalan kualitas SDM pekerja informasi belakangan ini. Suply informasi di media sosial yang sering menjadi “bahan baku” pembuatan berita oleh banyak jurnalis, baik berita tulis, berita foto, maupun berita video, tidak jarang menjadi blunder tersendiri bagi pemberitaan di media-media, tidak hanya di tingkat lokal, namun seringkali juga di level media mainstream nasional.

b. Minimnya Sarana/Prasarana Kerja Jurnalis

Kinerja yang kurang maksimal juga disebabkan oleh minimnya sarana dan prasarana kerja kebanyakan jurnalis kita. Hal ini dengan mudah dapat dilihat dari pola kerja seadanya dari para jurnalis berbagai media, baik media besar terlebih lagi media-media berskala kecil. Ketidakberdayaan untuk melengkapi diri dengan peralatan kerja, seperti kamera, laptop, alat komunikasi handphone, notebook, dan lain-lain merupakan imbas dari rendahnya pendapatan para jurnalis. Tidak tersedianya peralatan mobilitas kerja, seperti kendaraan dan biaya transportasi menjadi hambatan tersendiri bagi umumnya pekerja media di lapangan.

Kemampuan sebahagian besar badan pengelola publikasi untuk mengadakan peralatan kerja bagi jurnalisnya juga tidak begitu baik, sehingga umumnya para pengusaha media membebankan pengadaan sarana kerja kepada masing-masing jurnalisnya. Rendahnya arus keluar-masuk dana bagi sebagian besar pengusaha media massa menjadi pertimbangan utama dalam program pemberian kelengkapan kerja jurnalis yang bekerja di perusahaan mereka. Dalam kondisi tidak dibebankan peralatan kerja jurnalispun, belakangan ini satu per satu perusahaan media mengalami kebangkrutan dan gulung tikar selamanya.

Kondisi ini berdampak langsung terhadap hasil kerja para jurnalis. Kehilangan moment penting pada suatu liputan menjadi keseharian mereka. Perekaman situasi yang kurang memadai akibat terbatasnya peralatan dokumentasi seperti kamera dan alat rekam lainnya menyebabkan hasil liputan menjadi tidak sempurna, bahkan jauh dari harapan sijurnalis itu sendiri. Akhirnya, publikpun disajikan infromasi dan data publikasi apa adanya, seada-adanya.

c. Minimnya Penghargaan dan Fasilitas bagi Jurnalis

Sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan jurnalis di Indonesia amat rendah. Beberapa kalangan bahkan menempatkan profesi jurnalis sebagai penerima penghasilan yang paling rendah setelah buruh pabrik garmen. Upah seorang jurnalis di Indonesia malah lebih rendah dari penghasilan pedagang kaki-lima! Bagi mereka yang berstatus jurnalis tetap sebuah media massa mainstream menengah ke atas, bolehlah berbangga dengan gaji bulanan antara 2,7 hingga 5 juta rupiah. Sesuatu yang sulit bagi para jurnalis lepas yang sehari-hari serabutan mengejar berita sana-sini, namun rata-rata dalam sehari hanya membawa pulang 50 ribu hingga 100 ribu rupiah di kantongnya. Dengan penghasilan demikian itu, bagaimana mungkin seorang jurnalis mampu memenuhi kebutuhan sandang dan papannya?

Kesulitan mendapatkan penghasilan yang memadai bagi para jurnalis di negeri ini merupakan salah satu kendala terbesar dalam meningkatkan kualitas kerja dan hasil karya jurnalistiknya. Himpitan ekonomi yang seakan tiada berubah membaik dari waktu ke waktu menjadi persoalan klasik nan krusial. Terlebih lagi bagi mereka yang sudah berkeluarga, tentu beban pikiran untuk mendapatkan penghasilan yang lebih memadai menjadi faktor penghambat dalam menghasilkan karya-karya jurnalistik yang baik.

Pada kondisi yang demikian, tidak jarang terjadi penurunan tingkat idealisme para jurnalis, yang bermuara kepada perilaku melenceng dari pribadi seorang jurnalis sejati. Pameo ada dana ada berita menjadi prinsip dalam bekerja. Lebih parah lagi, banyak terjadi terima uang berita hilang. Tidak berlebihan kiranya jika banyak kalangan memberi label “bodrex”, WTS, wartawan tempo, dan sejenisnya kepada sebagian jurnalis.

Alhasil, ruang publikasi media massa kita, baik cetak, elektronik, maupun online, dipenuhi dengan informasi yang kurang akurat, ABS, penuh kamuflase, lebay, bahkan jauh dari fakta dan kebenaran. Akbatnya, publik sebagai penikmat informasi yang tersaji di tengah-tengah mereka mengambil kesimpulan dan keputusan yang salah, karena kesalahan informasi yang diterimanya. Fatalitas terjadi di mana-mana, menyebabkan keburukan dan kemunduran peradaban di tengah masyarakat kita.

d. Kurangnya Sinergitas Antar Pemangku Kepentingan di Dunia Jurnalistik

Dari sisi eksternal, ketidak-berdayaan kaum jurnalis Indonesia juga disebabkan oleh faktor pendukung yang kurang memadai. Kebijakan pemerintah dan perundangan yang ada belum berpihak kepada peningkatan kualitas dunia jurnalisme di dalam negeri. Tumpang-tindih dan ketidak-sesuaian antar aturan yang diberlakukan terhadap para pekerja informasi dan publikasi menjadi penghambat bagi pembangunan jurnalisme secara umum, dan peningkatan kualitas karya para jurnalis secara khusus. Egosentris setiap lembaga dan pengambil kebijakan bidang informasi dan publikasi yang amat tinggi, menyebabkan ketidak-harmonisan dalam sinergi kerja-kerja jurnalistik di lapangan.

Sebagai contoh sederhana, menurut UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, digariskan bahwa pers adalah lembaga sosial (pasal 1 ayat 1), namun pada ayat 2 di pasal yang sama dinyatakan tentang perusahaan pers yang merupakan badan hukum Indonesia... Bagaimana mungkin lembaga sosial berbentuk perusahaan? Lagi, pada banyak kasus penyiaran dan publikasi berita, jurnalis harus berhadapan dengan kriminalisasi atas hasil karya jurnalistiknya walau dalam UU Pers tersebut telah dicantumkan dengan jelas tentang jaminan kebebasan pers sebagai Hak Asasi Manusia yang paling asasi, selevel dengan HAM memiliki agama dan kepercayaan apapun.

Pemerintah bersama lembaga-lembaga yang dibentuk untuk menangani dunia informasi dan publikasi terlihat belum memberikan perhatian serius dan memadai terhadap keberadaan rakyatnya dari kelompok jurnalis. Selama ini, kalangan jurnalis dianggap sebagai kelompok mapan ilmu pengetahuan dan kemampuan “survive” di tengah masyarakat, sehingga dipandang tidak perlu diperhatikan. Akibat dari paradigma berpikir pemerintah yang demikian itu, maka belum pernah terdengar adanya program pemberdayaan jurnalis, semisal beasiswa khusus bagi jurnalis, program perumahan bagi jurnalis, pemberian kredit usaha bagi jurnalis, atau bentuk pemberdayaan lainnya. Jadilah para jurnalis harus berjuang sendiri mengatasi masalahnya masing-masing dengan cara masing-masing pula. Sebagian kecil berhasil keluar dari himpitan masalah, yang umumnya dengan cara meninggalkan dunia jurnalistik dan memasuki dunia kerja baru yang lebih menjanjikan.


3. ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA JURNALIS

Mengeluh dan menangisi nasib sebagai jurnalis yang termarginalkan tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada. Bahkan, kalangan jurnalis diharamkan untuk berharap banyak mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah sekalipun, apatahlagi dari rekan sesama jurnalis dan pemimpin redaksi serta pemilik media. Sangat sedikit dari kalangan yang disebutkan terakhir ini yang benar-benar memahami situasi dan kondisi para jurnalisnya dan membantu mereka sesuai kebutuhan secara memadai. Kondisi perusahaan media massa tempat para jurnalis bekerja juga belakangan ini banyak yang kembang-kempis, bahkan kolaps diterpa berbagai krisis internal yang umumnya terkait dengan penurunan omset yang berakibat kepada krisis keuangan yang parah.

Berikut ini dipaparkan beberapa konsep yang mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, bahasan, referensi dan acuan dalam menyiasati berbagai persoalan yang dihadapi para jurnalis, sebagai berikut:

a. Pelatihan Jurnalistik Intensif

Untuk mengatasi masalah rendahnya kemampuan kerja para jurnalis, hal ini dapat diatas dengan pengadaan beragam program pelatihan jurnalistik, baik dalam bentuk workshop, magang, pelatihan inensif, maupun tutor sebaya, dan lain-lain. Peningkatan wawasan dan pengetahuan tentang ilmu jurnalistik juga merupakan hal penting yang harus diagendakan bagi setiap perkeja media massa. Penyelenggaraan seminar, forum diskusi, kuliah umum jurnalistik, dan berbagai bentuk pembelajaran, baik yang membahas jurnalisme maupun bidang ilmu pengetahuan lainnya amat penting diinisiasi sepanjang masa.

Setiap orang memiliki keterbatasan ingatan, keterbatasan memori untuk menampung berbagai informasi dan data dalam benaknya. Upgrading, updating, dan pengulang-ingatan atas berbagai bidang ilmu, terutama yang terkait dengan jurnalistik mutlak dilakukan secara terjadwal dan terus-menerus. Perkembangan dunia informasi, media massa, sistim publikasi, dan teknologi informasi yang begitu pesat, juga menjadi alasan kuat mengapa para jurnalis perlu diberikan sentuhan pelatihan dan pengembangan wawasan demi mencapai wujud jurnalis yang profesional, handal, dan berkualitas serta bertanggung-jawab.

Hampir tidak ada cara lain, selain pengadaan kegiatan semacam pendidikan dan pelatihan bagi jurnalis dalam rangka meningkatkan kemampuan dan ketrampilan kerja mereka. Pendidikan dapat ditempuh melalui lembaga pendidikan formal seperti sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga kursus reguler. Namun, peningkatan kualitas diri jurnalis juga dapat melalui pelatihan-pelatihan temporer, parsial sesuai kebutuhan, dan pelatihan bidang khusus. Penyelenggaraan semestinya dilakukan oleh pemerintah, namun dapat juga diinisiasi oleh kalangan dunia media massa maupun lembaga-lembaga pemerhati dunia jurnalistik kita.

b. Penyediaan Sarana/Prasarana Kerja yang Memadai

Kelengkapan peralatan kerja amat menentukan hasil kerja seseorang. Sarana/prasarana yang dimiliki setiap jurnalis haruslah menjadi perhatian serius bagi semua penyenggara kegiatan publikasi, dari jenis apapun juga. Melengkapi jurnalis dengan perangkat kerja yang cukup dapat memperlancar proses penyediaan informasi yang cukup dan berkualitas bagi media yang bersangkutan.

Sepatutnya, penyediaan sara-prasarana kerja para jurnalis menjadi tanggung jawab dari lembaga media massa yang mempekerjakannya. Berbagai cara dapat ditempuh untuk menyiasati berbagai kendala dalam penyiapan perangkat kerja jurnalistik kepada para jurnalis. Misalnya, penyediaan perangkat dalam jumlah yang terbatas namun dapat digunakan secara bergantian sesuai momentum dan kebutuhan lapangan. Strategi lainnya, dapat juga melaui pola sewa peralatan dari pihak lain, yang dengan demikian dapat memperkecil biaya awal yang mesti dikeluarkan. Dan lain-lain strategi yang dapat dilakukan.

Akan tetapi, sebagai seorang jurnalis, alangkah bijaknya jika setiap pekerja media massa itu melengkapi diri dengan peralatan kerjanya. Ibarat seorang petani, ia harus menjunjukkan dirinya sebagai petani profesional sejati dengan kepemilikan atas sarana-prasarana kerja pertanian. Semakin canggih dan modern alat pertaniannya, semakin baik dan profesional-lah yang bersangkuran. Dengan performa petani yang lengkap peralatan kerjanya, maka sang petani itu diyakini mampu mengerjakan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya. Semestinyalah juga semua jurnalis berupaya semaksimal mungkin melengkapi dirinya dengan peralatan kerja dengan selengkap mungkin.

c. Peningkatan Penghasilan dan Fasilitas Jurnalis

Terkait dengan usaha meningkatkan penghasilan seorang jurnalis, penulis cenderung menyarankan agar para jurnalis berhenti berharap untuk mendapatkan penghasilan lebih atau meningkat dari pekerjaan sebagai jurnalis. Marilah kita mengembalikan posisi kerja-kerja pers sebagai suatu kegiatan sosial, kerja mengabdi bagi peradaban bangsa. Sebagai kerja sosial, tentu bukan imbalan uang yang menjadi ukuran keberhasilan, namun kepuasan bathin yang terwujud sebagai hasil membantu orang lain, membantu publik dalam mengambil sikap dan keputusan penting dalam hidup mereka. Biarkanlah infromasi sebagai barang bebas, tidak terikat oleh angka-angka, tidak mengikuti kurs rupiah.

Lalu, bagaimana kita menyiasati kebutuhan hidup sehari-hari? Adalah sebuah keniscayaan bahwa terdapat banyak peluang bagi seorang jurnalis untuk mengerjakan berbagai hal yang berorientasi ekonomi, baik yang terkait dengan jurnalistik maupun bidang lain yang berberda sekali dengan profesi jurnalis. Ketersediaan informasi, pertemanan, dan jaringan yang luas dengan berbagai kalangan yang terbentuk sebagai akibat dari kerja-kerja jurnalistik seperti wawancara, koordinasi, komunikasi dan kontak hubungan lainnya, adalah cukup potensial dalam memulai bisnis pribadi di luar jurnalisme. Berkolaborasi dengan pihak lain adalah jalan awal yang mudah untuk dilakukan dalam membangun usaha baru.

Usaha bisnis ini menjadi yang utama, kerja sebagai jurnalis sebagai kegiatan sosial yang menunjang usaha bisnis utama tersebut. Banyak bidang yang bisa diupayakan, semisal menerbitkan buku dengan berbagai ragam, usaha penyewaan buku bacaan anak-anak dan remaja, dan sejenisnya. Di luar jurnalistik dapat berbentuk koperasi jurnalis yang bergerak di bidang transportasi, perdagangan, pertanian, bahkan properti dan ekspor-impor. Saat ini, bisnis di dunia maya berbasis internet menjadi ladang yang tidak terbatas dengan potensi yang juga tidak terbatas. Pilihan usaha tersedia amat banyak, mulai dari toko online, penyediaan artikel atau jurnal ilmiah online, hingga ke perdagangan valuta dan komoditi emas, dan lain-lain. Pemberdayaan anggota keluarga, bagi jurnalis yang sudah berkeluarga, merupakan hal mutlak dalam menggalang kekuatan ekonomi keluarga.

d. Koordinasi dan Kerjasama antar Instansi Terkait

Poin ini hakekatnya lebih ditujukan kepada para stake holder di tingkat pengambil kebijakan, khususnya di bidang jurnalistik. Di internal pelakon jurnalisme, jajaran pemimpin redaksi dan pemilik usaha media massa menjadi institusi penting yang mesti terlibat langsung dalam proses kerjasama yang baik dan harmonis satu sama lainnya. Peningkatan sinergitas dan koordinasi antar lembaga dan instansi terkait penting didorong agar dapat dilahirkan berbagai aturan, kebijakan dan program-program yang pro kepada kepentingan para pekerja media massa terutama kalangan jurnalis. Sudah selayaknya jika pemerintah bersama perangkatnya melahirkan berbagai program dan strategi pemberdayaan jurnalis, semisal penyediaan kesempatan belajar, kesempatan berusaha melalui kemitraan dengan dunia usaha, dan lain-lain.


4. HARAPAN AKHIR

Karya jurnalistik yang dihasilkan oleh seorang jurnalis profesional, berkualitas, berwawasan dan piawai dalam mengolah informasi akan memberikan pencerahan yang baik dan berkualitas bagi publik konsumen karya jurnalistik tersebut. Kondisi ini pada akhirnya akan bermuara kepada terbentuknya komunitas masyarakat yang cerdas, trampil, dan mampu mengambil keputusan bagi hidupnya, keluarganya, komunitas dan bangsanya dengan baik dan benar. Muaranya, pembentukan budaya dan peradaban bangsa Indonesia yang tinggi nan luhur dapat diwujudkan, untuk kemudian dipertahankan dan dilestarikan dari generasi ke generasi. (*)
[24/9 09:52] ‪+62 853-4110-2812‬: Ternyata anda Bung Wilson sudah mengetahuinya walaupun tulisannya belum mengarah lebih dalam lagi.

Dari tulisan Bung Wilson, ternyata tidak ada pengaruhnya kalau sebuah perusahaan media berbentuk sebuah perusahaan (PT) atau tidak berbentuk PT, tetapi malah membuat jurang lebih dalam antara profesi jurnalis yang mengabdi dan memburu uang.

Ada peraturan dan selebaran dewan PERS yang perlu direvisi dan dihilangkan lagi yaitu sebuah perusahaan media perlu memakai PT, CV dll. Perlu dikembalikan seperti dulu... Karena hal itu lebih membuat dunia jurnalis memburu uang daripada hobi dan pengabdian...👆
[24/9 09:52] ‪+62 853-4110-2812‬: Perlu diketahui juga, jurnalistik zaman dulu jauh lebih profesional dibandingkan zaman sekarang walau tidak ada pelatihan jurnalistik yang berbayar, karena 98% itu jurnalistik berasal dari jiwa dan 2% itu jurnalistik berasal dari yang lainnya, walaupun begitu peralatan pun turut masuk di 2 % tersebut (Muhammad Davi Emalda)
[24/9 09:52] ‪+62 853-4110-2812‬: Tambahan lagi, karena edaran edaran dewan PERS lah yang membuat Pemerintah, terutama pemerintah daerah melalui Kominfo dan sandinya yang memilah milah seperti politiknya dewan PERS (belah bambu) terhadap dunia jurnalistik...
[24/9 09:53] ‪+62 853-4110-2812‬: Jurnalistik adalah seni perjuangan dan seni pengabdian sekaligus penyaluran hobi kesenian berbentuk tulisan, gambar (audio dan visual) yang terbagi dua yaitu seni tulisan opini (pemikiran,emosi) dan seni tulisan fakta aktualitas menggambarkan keadaan lingkungan sehari-hari yang terlepas dari emosi dan pemikiran penulisnya (Muhammad Davi Emalda)
[24/9 09:53] ‪+62 853-4110-2812‬: Bahkan....
Pemerintah sendiri melalui Kominfonya bahkan membuat perusahaan media sendiri sehingga selalu beralasan kurangnya dana penerbitan bahkan tidak ada dana penerbitan dalam programnya.
Ini perlu dipelajari dan didalami karena membuka peluang korupsi di dinas-dinas terutama dinas dipemerintahan daerah.
Perlu kerjasama spesifik dengan KPK yang mana koordinasi itu sudah berjalan walau belum maksimala dan segelintir orang saja...
[24/9 09:53] ‪+62 853-4110-2812‬: Perlu ditertibkan dan dievaluasi ulang bahkan dibuatkan larangan dari persoalan diatas ini 👆
[24/9 09:53] ‪+62 853-4110-2812‬: Ini sedikit percakapan saya di grup lain dengan salah seorang pejuang PERS sekaligus tokoh PERS dan Ketum Organisasi PERS.🙏

Kamis, 20 September 2018

Daftar Calon Anggota DPRD Samosir 2019-2024, sesuai SK KPU Samosir nomor 294/PL.01.4-SD/1217/Kab,IX/2018,

PKB:

Dapil I :
1. Nasip Simbolon
2. Sudung D Sitanggang
3. Tinorma Manik, A.Md
4. Ir Gortap Sitanggang
5. Saut Endra Putra Sihaloho
6. Meriana Simbolon
7. Maria Sitanggang
8. Tatar P. Pasaribu

Dapil II :
1. Roin Siallagan
2. Angga Bolonaro Sinurat, SE
3. Ukap Brando Sidabutar, S.T.P
4. Desy Irnawan Sitanggang, S.Pd
5. Hasoloan Situmorang
6. Haposan Sidauruk

Dapil III :
1. Viktor Simbolon
2. Noni Sulvia S, S.Pd
3. Reynol Pandapotan Simbolon
4. Eben Ezer Situmorang
5. Nelsida Siregar
6. Mangapar Limbong

Dapil IV :
1. Ramly A.P Sihotang
2. Pestaria Simanihuruk
3. Pantas Lasidos Limbong
4. Riama Simamora, SE
5. Manise Stora Situmorang, SH

Partai Gerindra

Dapil I :
1. Ir Mardan Sihotang
2. Hotlen Sitanggang
3. Marnatal Lesna Simbolon
4. Saurtua Silalahi, ST
5. Eslina Sitanggang
6. Pendi Naibaho

Dapil II :
1. Beatus Pangkiriman Situmorang, ST
2. Kaldin Sinabariba, S.Sos
3. Hannauli Sitanggang
4. Juwita Rumahorbo
5. Lenator Samosir

Dapil III :
1. Nurmerita Sitorus, S.Sos
2. Rida Sinaga
3. Heppry Rumapea
4. Dasma Ulyna Rama Cinta

Dapil IV :
1. Kalara Sitanggang

PDI Perjuangan

Dapil I :
1. Arnold Hujogo Sitanggang
2. Pilipus Pandiangan
3. Dra Sorta Ertaty Siahaan
4. Renaldi Naibaho
5. Siska Ambarita
6. Maringan Naibaho
7. Rimpuanna Simarmata, SH
8. Krimson Malau

Dapil II :
1. Pardon ME Lumban Raja
2. Wisnu Wardana Sidabutar
3. Rismawati Simarmata
4. Paham Gultom
5. Dumaris Turnip, A.Md
6. Juliman Hutabarat, ST

Dapil III :
1. Megianto Sinaga, SS
2. Mangaraja Simbolon
3. Marnika Sirait
4. David K. Lumban Raja, ST
5. Dorcan Nainggolan
6. Hary Jono Situmorang

Dapil IV :
1. Saut Martua Tamba, ST
2. Basaruddin Situmorang, S.Pd
3. Romauli Panggabean, SE
4. Marlomak Sihotang, A.Md
5. Dra Norna Tamba

Partai Golkar

Dapil I :
1. Rosinta Sitanggang
2. Polten Simbolon, SE, MM
3. Freddy Hutajulu
4. Fransiskus Sitanggang
5. Pardamean Malau
6. Dumarisma Simbolon
7. Monanglan Ronny Simarmata
8. Helmi Perawati

Dapil II :
1. Ridwan Liberti EP Sinaga, ST
2. Diana Tutur T. Silalahi, SE
3. Hotma Ambarita
4. Ramesti Sihaloho
5. Karani Situngkir, S.Sos

Dapil III :
1. Parluhutan Sinaga
2. Freddy Tulus Lumban Tungkup
3. Bertauli Simbolon
4. Manatap Juara Sinaga
5. Mindo Okto Berliana Silitonga

Dapil IV :
1. Jonny Sagala
2. Rotua Siboro, ST
3. Kerselina Lumban Siantar
4. Maria Theresia Situmorang
5. Drs Lundak Sagala

Partai Nasdem

Dapil I :
1. Marco Christian Simbolon, S.IP
2. Polma Hasehaton Gurning
3. Lasma Simalango
4. Hendrik Naibaho
5. Beresman Sinaga
6. Rosmei Alim Sinurat
7. Drs Jonner Simbolon, M.MMP
8. Rolumbang Tioma Simbolon

Dapil II :
1. Herdon Samosir, A.Md
2. Drg Magdalena Nurainy Sitinjak, MM
3. Drs Melani Butar-butar, MM
4. Nikson Panjaitan, SH
5. Tumpal Marulak Halomoan Sidauruk
6. Ruslina Sidabutar, SE

Dapil III :
1. Ir Basrun Sihombing
2. Batahan Siringo-ringo, SE, MM
3. Armelia Chris Laurent Sirait
4. Masro Sitanggang
5. Repinna Berliana Marbun
6. Melvarina Tamba

Dapil IV :
1. Sarhockel Martopolo Tamba, ST, MM
2. Pangihutan Sinaga
3. Andreita Evelina Sinaga
4. Norivel Ritni Situmorang
5. Pantas Marroha Sinaga

Partai Garuda

Dapil II :
1. Jefri Fernandus Sitindaon, S.Kom
2. Herlina Sitohang, SH
3. Andrianus Sihaloho, A.Md

Partai Perindo

Dapil I :
1. Candra Sihotang
2. Yanti Novita Sari
3. Risrio Silalahi
4. Helen K. Naibaho
5. Parulian Sitanggang

Dapil III :
1. Bermanhot Simbolon, S.Pd
2. Lirayanti Marbun
3. Jhon Sinaga
4. Junawan Pandiangan
5. Lasmaudur Parhusip
6. Asima Netty F. Nababan

Dapil IV :
1. Drs Tumpal Simanjorang
2. Ulianna Sinabang
3. Marulam Situmorang

PSI

Dapil I :
1. Sonny Simbolon, A.Md
2. Fajar Hisar Malatua
3. Sri Meliana Saragih, A.Md

Dapil II :
1. Menti Ana Manik, S.Ak

Dapil IV :
1. Osner Tamba, A.Md
2. Mardianita Panggabean

PAN

Dapil I :
1. Pasintu Yes Rajagukguk
2. RR Boleuson Pangondian Sihotang
3. Tiominar Sinurat
4. Tulus Sitanggang
5. Marhan Simbolon
6. Murni Simbolon

Dapil IV :
1. Ronal Nirma Sihotang
2. Asido Amandus Siboro
3. Mawanty Pasaribu
4. Hardiono Tamba
5. Manalita Sihombing

Partai Hanura

Dapil I :
1. Jungjungan Situmorang, SE
2. Lasdin Siringo-ringo
3. Wanti Yuliana Simbolon
4. Veronika Simbolon
5. Raya Siringo-ringo
6. Gilbert Simbolon
7. Jhon Suhardi Malau
8. Doranita Sinaga

Dapil II :
1. Sri Elisabet Sitanggang
2. Manginar Sitanggang

Dapil III :
1. Suhanto Sitanggang
2. Sandis Marajun Situmorang
3. Lismawati Sigalingging
4. Hotrina Simbolon
5. Manaha P. Marbun
6. Manutur Siboro

Dapil IV :
1. Lamhot Sitinjak
2. Ellis Suriani Siringo-ringo

Partai Demokrat:

Dapil I :
1. Russel Beringin Jaya Sihotang
2. Hendro Jintar Muliadi Sihaloho
3. Arli Nerawaty Sibatuara
4. Sampe Sitohang
5. Meliana Sigalingging
6. Tumpal Naibaho, SE

Dapil II:
1. Dapot Siallagan
2. Parluhutan Samosir, SP, M.Si
3. Marlina Sibarani
4. Damaris Berliana Butar-butar
5. Drs Kampu Manik, MM
6. Pantas Alasim Simarmata

Dapil III :
1. Pernando Batur Pandapotan Sinaga, S.Sos
2. Sariaman Situmorang
3. Sasmita Sarma Riama Sinaga
4. Mikronesia Sinaga
5. Hiday Saudur Lumban Raja
6. Frantri Sinaga

Dapil IV :
1. Bolusson Parungkilan Pasaribu
2. Lasma Rohana Marbun
3. Ebed Kristo F. Sihotang
4. Aken Parlindungan Parrisius Siringo-ringo
5. Tamaisi Lumban Batu.


Bangfauzi.com – Tidak terasa tahun 2019 akan segera tiba, tahun politik secara nasional, sebab di tahun 2019 akan dilaksanakan pemilu dan pilpres. Indonesia akan punya anggota DPR/DPRD baru dan pasangan Presiden / Wakil Presiden baru untuk periode 2019-2024. Maka kita sudah bisa menduga saat ini, begitu hiruk pikuknya tahun 2019 dengan banyak cerita dan dinamika, itulah tahun politik.
Tahun politik yang menentukan kepada siapa Rakyat menyerahkan mandatnya, kepada Caleg dan Partai Politik yang mana nantinya Rakyat memberikan kepercayaan “suaranya.”
Karena yang menentukan siapa yang terpilih adalah Rakyat, Caleg 2019 bersama Parpolnya harus menjadikan Rakyat sebagai objek utama untuk dipengaruhi.
Parpol dan Caleg 2019 harus bersinergi, saling menyatukan visi dan misi sehingga Rakyat tidak benci. Supaya Caleg 2019 adalah putra/i terbaik, kader yang handal, maka, Parpol sudah menetapkan kriteria yang harus diikuti para Caleg 2019.
Menjadi Caleg 2019 sesungguhnya adalah cita-cita mulia. Tidak sembarang orang bisa dengan kesadarannya yang tulus mengikrarkan diri untuk mengabdi dengan mendaftarkan dirinya menjadi Caleg.
Ada lima hal yang harus diperhatikan bagi kawan-kawan kita yang sudah bertekad menjadi Caleg 2019. Pertama, niat yang kuat. Saya katakan untuk menjadi Caleg 2019 kita butuh niat yang kuat. Niat yang setulus-tulusnya, niat yang sebenar-benar niat. Kekuatan niat akan menjadi ruh bagi kerja-kerja kampanye diri yang akan dilakukan berhari-hari nantinya. Kalau hanya sekedar ikut-ikutan dan tes nasib, pasti akan gagal.
Sebab, yang akan kita hadapi adalah orang-perorang, yang memiliki pikiran, punya hati nurani dan perasaan, memiliki penilaian yang ditentukannya sendiri, bahkan orang-perorang yang sudah profesional dengan berbagai latar belakang dan usia yang beragam.
Kalau seorang Caleg tidak punya niat yang kuat, baru dua atau tiga kali melakukan kampanye, Saya yakini dirinya akan lemah dan minder. Baru mengikuti dua atau tiga kegiatan dialog dan perdebatan dengan Rakyat yang akan memilihnya, akhirnya memilih apatis, kalah dan malas untuk berdialog kembali.
Maka itu, dengan niat yang kuat, secara vertikal kepada Tuhan YMK kita sudah berdialog, meminta kekuatan untuk ikut menjadi Caleg 2019 dengan keyakinan bahwa kita harus menang dengan didukung Rakyat. Dialog ini akan memengaruhi perjuangan kita. Sehingga kita tidak cepat lelah, pantang menyerah, selalu sabar dengan cacian, sindiran dan kritikan.
Satu lagi, dengan niat yang kuat, kita terhindar dari “kemarok politik,” ikut-ikutan tren. Sehingga kita bisa mengukur kekuatan yang kita miliki, melihat kenyataan apa adanya, menyusun strategi yang realistis dan mendapat dukungan keluarga.
Kedua, setelah niat yang kuat, bagi kawan-kawan yang akan menjadi Caleg 2019 perlu perhatikan kekuatan sosial. Daerah pemilihan sebaiknya adalah daerah asal kita, kampung ibu atau tempat kelahiran kita. Daerah pemilihan yang kita tidak mengenal dengan baik akan memengaruhi kekuatan sosial yang kita miliki.
Kekuatan sosial yang Saya maksud diantaranya, keluarga, tetangga, kawan kecil dan bermain. Kalau daerah pemilihan kita adalah kampung asal kita, maka, keluarga yang terdiri dari abang/adik dan terombo dekat semuanya, harus didatangi. Sanak famili yang jauh dan terhubung dari suku harus dikunjungi, agar semua keluarga dekat dan jauh mengetahui ada kerabatnya atau kemanakan atau adiknya yang maju menjadi Caleg 2019. Keluarga menurut pengalaman Saya yang ikut menjadi Caleg 2014 lalu adalah kekuatan sosial yang sangat diandalkan. Keluarga adalah modal sosial yang tak bisa dinilai dengan materi apapun besarnya. Jika kita sebagai Caleg 2019 sudah mampu merangkul keluarga menjadi kekuatan politik untuk mendukung kita, maka, mereka akan bergerak dengan sendirinya meyakinkan Rakyat untuk memilih kita.
Kawan kecil yang Saya maksud disini, bisa tetangga kita, bisa kawan sekolah kita, bisa kawan bermain kita, bisa kawan lama yang sudah jarang kita berkomunikasi dengan mereka. Ini juga kekuatan sosial yang tidak bisa diabaikan. Kawan kecil ini adalah kawan lama yang mengenal kita dengan apa adanya. Kawan kecil adalah kawan yang tidak membenci kita karena kepentingan. Kawan kecil adalah kawan yang suka dengan kita bukan karena “sesuatu.” Sehingga kawan kecil ini memang benar-benar kawan yang makan nasi bukan kawan yang makan kawan.
Kawan kecil harus kita tulis ulang namanya kembali, cari tahu dimana berada, walaupun sudah merantau tidak domisili di daerah pemilihan kita lagi, tetap hubungi lagi, karena, ada keluarganya disini. Ada kerabat-kerabat dan kawan-kawannya yang lain yang kita tidak kenal tetapi bisa diyakinkannya untuk memilih kita pada tahun 2019 nanti.
Ketiga, setelah niat dan kekuatan sosial, kawan-kawan Caleg 2019 harus memperhatikan kekuatan uang. Saya letakkan kekuatan uang diurutan ketiga untuk menegaskan bahwa kekuatan uang bukan yang utama, masih ada dua kekuatan diatasnya.
Sudah tidak bisa kita hindari, bahwa untuk menjadi Caleg 2019 kita harus melakukan sosialisasi diri, menjumpai kerabat dengan silaturahmi, berdialog dengan banyak orang dari satu tempat ke tempat lain. Kegiatan-kegiatan tersebut butuh menampilkan sosok kita sebagai Caleg 2019 yang “meyakinkan,” Rakyat. Kita butuh tampil elegan dengan kepatutan yang umum. Kita butuh kekuatan uang, untuk punya pakaian yang bersih sebagai ciri khas kita, sepatu yang bisa dipakai, rambut harus rapi, punya kendaraan dan suka traktir kalau dialog di warung nasi atau warung kopi. Kita butuh uang untuk mencetak balio, spanduk atau alat peraga lainnya yang menurut kita efektif guna meyakinkan rakyat untuk memilih kita. Mulailah dihitung dari sekarang, untuk kegiatan-kegiatan tersebut di atas, kita punya uang berapa banyak?
Selain itu, yang perlu kita perhatikan terkait kekuatan uang ini adalah kegiatan kita saat kampanye sampai pemungutan suara pada Pemilu 2019 nanti. Selain saksi dari Parpol kita, Saya sarankan kita juga harus punya saksi di TPS yang kita sudah yakini ada pemilih kita. Jika kekuatan uang kita cukup untuk membiayai satu TPS satu saksi, siapkanlah.
Pertanyaan yang menggelitik kita tentu soal jumlah berapa besar uang yang dibutuhkan untuk bisa menang pada tahun 2019 nanti? Jawaban Saya, hal itu tergantung dengan keyakinan para Caleg 2019 terhadap dua kekuatan sebelumnya, yaitu, Niat dan kekuatan sosial yang dimiliki. Pengalaman Saya di tahun 2014 lalu, ada yang sudah keluarkan uang sampai batas diatas satu miliar rupiah untuk menang dan terpilih menjadi anggota DPRD, akhirnya kalah dan gagal. Saya menghabiskan kurang lebih 800 juta rupiah, bersumber dari utang dari orang lain, lalu keluarga dan tabungan sendiri.
Keempat, kawan-kawan Caleg 2019 harus memperhatikan pemilih cerdas. Saat kita sudah ikrarkan diri menjadi Caleg 2019, maka, kita harus punya strategi untuk menang. Saya menawarkan kelompok pemilih cerdas harus kita kejar dan pikat hatinya. Sebagai orang baru yang akan maju menjadi Caleg 2019 kita tidak punya karya. Yang bisa kita jual adalah diri kita sendiri, mulai dari penampilan fisik, kecerdasan intelektual, gelar pendidikan, visi misi pribadi kita, sampai kejujuran yang kita punya. Sama kelompok pemilih yang sudah mengikuti peristiwa Pemilu dari tahun ke tahun, pasti kita akan menemukan kesan penolakan dengan bahasa-bahasa pesimis, “kalau udah jadi lupa juganya nanti,” ada juga, “kalau kampanye janji banyak kali udah jadi nanti mulut bisu kupingpun tuli,” macam-macamlah banyak kalimat pesimis yang akan kita terima nanti.
Kelompok pemilih cerdas itu banyak, ada di kalangan pemuda, ada di kelompok profesi, ada tetangga kita, ada juga pemilih pemula. Artinya kita bisa bertemu dengan pemilih cerdas, setelah kita turun bertemu dengan kekuatan sosial yang sudah kita inventarisasi sebelumnya tadi. Pasti kita temukan. Keunggulan kelompok ini tidak transaksional dan bisa memengaruhi orang lain.
Kelima, kompak dengan Parpol dan Caleg lainnya. Ini hal yang perlu kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Parpol dan pengurusnya adalah kawan kita. Kawan-kawan caleg yang satu daerah pemilihan adalah kawan kita. Saling sapa dan tidak menjelekkan satu sama lain adalah semangat baik yang perlu kita jaga. Jika kita saling menguatkan maka suara yang diperoleh bukan tidak mungkin bisa membawa dua atau tiga ke kursi DPRD. Saya saat mencalonkan di tahun 2014 lalu adalah Caleg yang banyak dibantu Caleg lainnya. Karena daerah pemilihan kita itu luas, tidak semuanya diantara kita bisa masuk dan bertemu dengan Rakyat. Melalui parpol kita kompak, melalu pemilu kita bersatu, Rakyat pun akan suka memilih kita.
Semoga catatan kecil dikolom opini bangfauzi ini bisa membantu memberikan semangat yang besar buat kawan-kawan yang sudah bercita-cita untuk menjadi Caleg 2019 melalui Parpolnya masing-masing. (MFH)