Kamis, 08 November 2018

Film, Tanggungjawab Pilot

JAKARTA --:

Film besutan Clint Eastwood dengan judul Sully membukakan mata kita tentang dunia penerbangan.
Apalagi film itu berangkat dari sebuah kisah nyata.
Film tentang perjuangan seorang pilot US Airways, Chesley Sullenberger,
*menyelamatkan jiwa 155 penumpang setelah mesin pesawatnya terbakar karena ada burung yang masuk ke mesin jet*.
       
 Dalam film itu diceritakan bagaimana seorang pilot harus mengambil keputusan yang tepat dalam waktu yang begitu pendek.
Ia harus memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di bandar udara terdekat atau di landasan terbatas yang tersedia.
Karena ketinggian pesawat terus menurun, akhirnya dia putuskan untuk mendarat di Sungai Hudson yang dingin karena hendak memasuki musim dingin.
         
Dari film itu kita menjadi lebih paham bahwa dunia penerbangan bukan hanya urusan Kementerian Perhubungan, perusahaan penerbangan, petugas darat, awak penerbangan, dan penumpang.
Di sana juga terlibat industri pembuat pesawat terbang, industri perawatannya, pengelola bandara, dan komite pengawas keselamatan penerbangan.

Bahkan ketika terjadi kecelakaan seperti di Sungai Hudson, ada peran kapal penyelamat, helikopter tim search and rescue, petugas medis, ambulans, rumah sakit, dan petugas keamanan.
         
 Setelah kecelakaan terjadi, pilot dimintai pertanggungjawaban.
Sebuah panel ahli duduk untuk meminta penjelasan atas pilihan pilot mendaratkan pesawat di atas sungai karena sangat berisiko. Tegangan permukaan air yang kuat bisa memecahkan pesawat apabila sudut masuknya salah.

Apalagi hasil simulasi dari industri pembuat pesawat sempat menunjukkan bahwa pilot seharusnya bisa mendaratkan pesawat di dua bandara terdekat yang ada di sekitar New York.
         
Pilot Sully bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan baik. Ia mengatakan ada waktu yang dibutuhkan sebelum dirinya mengambil keputusan dan itulah yang membuat pesawat tidak mungkin mencapai bandara terdekat sekalipun.
*Setelah dilakukan penyesuaian antara waktu berpikir dan mengambil keputusan selama 35 detik, simulasi memang menunjukkan bahwa pesawat akan jatuh di permukiman penduduk sebelum sampai ke landasan pacu*.
           
Film yang menceritakan secara rinci semua drama yang terjadi sejak awal penerbangan, saat-saat krisis terjadi, dan pascakecelakaan memberi gambaran kepada kita tentang apa yang terjadi dengan pesawat Lion Air JT601.

Pesawat itu sempat meminta untuk kembali ke bandara karena ada masalah yang dihadapi. Sayang, pesawat yang sudah terbang sekitar 5.000 kaki itu tidak bisa kembali, tetapi justru terjun menukik dan pecah ketika menghantam permukaan air di perairan dekat Karawang.
         
Kita belum bisa menarik kesimpulan apa pun atas peristiwa yang tragis itu.
Apalagi pilot dan kopilot termasuk 188 korban yang meninggal dunia.
Kita hanya bisa merekonstruksi dari flight data recorder yang ditemukan tim penyelam. Yang pasti kita harus kehilangan 188 penumpang.
Bagi keluarga korban, kehilangan sanak keluarga yang begitu tiba-tiba merupakan cobaan yang berat.  Kita tentu berharap ke depan kejadian seperti ini tidak terulang.
*Kuncinya semua pemangku kepentingan jangan pernah mengabaikan soal keselamatan*. *Hal itu harus ditempatkan pada posisi yang pertama*.

Dunia penerbangan sendiri sudah membuat aturan yang begitu ketat.
Tidak boleh ada toleransi sedikit pun dalam menjalankan aturan, termasuk perawatan pesawat yang tidak bisa ditunda-tunda.
         
Dalam kasus pesawat Lion Air JT610 sudah ada empat keluhan yang berkaitan dengan kondisi pesawat. Bahkan semalam sebelum peristiwa nahas terjadi, pesawat tersebut tertunda lebih dari 2 jam di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, sebelum bisa terbang ke Jakarta.
*Pesawat itu tidak sempat lagi menjalani pemeriksaan mendalam karena keesokan paginya sudah harus terbang yang pertama ke Pangkalpinang*.
           
Pelajaran bagi perusahaan penerbangan untuk memperhatikan keluhan dari para pilot. *Bagian teknik harus memastikan semua persoalan sudah ditangani karena ketika pesawat sudah mengudara, tidak ada ruang lagi untuk terjadinya kesalahan*.
         
Komite Nasional Keselamatan Transportasi mempunyai tugas untuk mengungkap semua proses yang terjadi. Dari hasil analisis, evaluasi, dan pemeriksaan panel kepada direksi Lion Air akan kita ketahui apa yang menjadi penyebab dari musibah ini.
         
Pengungkapan secara tuntas diperlukan karena ini berkaitan dengan keselamatan penerbangan. Tidak boleh ada satu pun dari sistem besar penerbangan ini yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
*Koreksi perlu dilakukan agar semua pihak menjalankan aturan secara sungguh-sungguh*. Apalagi aturan penerbangan ini tidak hanya berlaku pada satu negara.
Semua negara anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional harus bisa memenuhi aturan ini.

Mereka yang tidak mampu menjalankan aturan yang sudah disepakati dilarang untuk melakukan penerbangan internasional.  Kita sekarang ini termasuk negara yang memenuhi regulasi dan karena itu diperkenankan untuk bisa menerbangkan pesawat berkode Indonesia ke seluruh dunia.

Jangan sampai karena nila setitik rusak susu sebelanga.
*Industri penerbangan bukan hanya menjadi alat transportasi modern yang menyatukan dunia, melainkan juga menjadi pendukung pariwisata*.
*Sekarang kita sedang gencar untuk membangun itu.
(Copas dari WA grup Garsantara)

Senin, 05 November 2018

Daniel Taruliasi Harahap (fb)
Reformasi HKBP? Mulailah dari diri sendiri kata kawan saya Saut, mirip syair lagu. Reformasi selalu dimulai dari pinggir kekuasaan kata Abang saya Gomar. Reformasi bukan perayaan melainkan aksi tulis  Erwin Marbun. Setuju. Itu adalah juga pikiran dan sikap saya.

Supaya saya tidak dianggap asal bunyi atau holan hata, atau hanya berani bicara di medsos seperti tudingan beberapa orang anggota group, saya pikir saya harus memberitahukan sejumlah pembaharuan kecil yang telah, sedang dan akan terus saya lakukan di jemaat2 yang saya layani. Bukan hanya ingin atau akan, melainkan telah dan sedang dilakukan.

1. Transparansi keuangan. Siapa yang bisa dipercaya dalam hal kecil bisa dipercaya dalam hal besar sabda Tuhan. Uang adalah hal kecil dibanding sorga. Sebab itu kita mulai dari membereskan dan merapihkan keuangan gereja. Silakan cek di semua jemaat yg saya lalui keuangan gereja (bahkan panitia2 dan SM) pasti transparan. Dilaporkan secara tertulis dan rinci dan saban minggu (termasuk panpemb atau bahkan panitia natal). Anggaran dibagikan ke semua anggota jemaat. Audit disampaikan di Rapat Huria.

2. Pembangunan database. Yesus kenal semua domba2Nya dan dalam perumpamaan Dia mencari satu ekor domba yang hilang walaupun masih ada 99 ekor domba di kandang. Saya mengartikan hal ini sebagai tanggungjawab yg diberikan Tuhan untuk merawat jemaat. Terjemahannya: bangun sistem database. Dulu saya adalah salah satu arsitek database hkbp namun kini saya user atau pemakainya. Silakan cek lewat Litbang aktivitas database gereja kami. Dimanapun saya ditempatkan saya berusaha untuk tahu nama lengkap, tanggal lahir, alamat dan nomor henpon jemaat yang dipercayakan kpd saya dan kami Parhalado.

3. Keterbukaan informasi. Warga jemaat berhak mendapatkan informasi yang akurat tentang kehidupan berjemaat dan saya menghargainya. Silakan cek di semua jemaat yang pernah saya lalui dan sekarang saya layani, warta jemaat selalu kaya dengan informasi detil. Semua hal boleh dan harus dibuka kpd jemaat secara jelas kecuali rahasia jabatan yg berhubungan dengan pribadi. Pengalaman saya keterbukaan ini justru semakin memperkuat dukungan dan sense of belonging warga terhadap gereja.

4. Pelayanan tanpa dikenakan biaya. Gereja termasuk saya pendeta hidup dari persembahan bulanan dan mingguan serta persembahan syukur warga. Saya diberi belanja (gaji) dan berbagai tunjangan serta fasilitas oleh gereja. Tak ada alasan lagi bagi saya untuk meminta uang tambahan kepada anggota jemaat dalam rangka melakukan tugas kependetaan saya (melayani kebaktian sektor, membaptis, sidi atau pemberkatan nikah). Apalagi meminta hamauliateon atas pelaksanaan tugas saya di waktu mereka sakit atau berduka. Sila dicek: saya tidak menerima amplop di pemakaman atau di rumah sakit! Bukan berarti saya telah berkelimpahan atau tidak butuh uang. Jika saya kekurangan mending saya minta kepada Parhalado agar belanja dan tunjangan dinaikkan. Bukan kpd Ruas yang kaya atau malah yang sangat pas-pasan.

5. Ibadah yang khidmad. Dimana pun saya ditempatkan saya berusaha sekuat tenaga agar ibadah2 berjalan dengan khidmad. Bukan asal2an. Saya dengan riang selalu memeriksa kesiapan ibadah termasuk kebersihan ruangnya. Agar ibadah khidmad dan tidak seperti festival maka dimanapun  melayani saya  berusaha dan selalu berhasil meyakinkan parhalado bahwa jumlah koor dalam satu ibadah maksimal (baca: maksimal) tiga. Idealnya sih dua. Dalam hal koor lebih baik meningkatkan kualitas daripada sekadar kuantitas bernyanyi. Saya selalu meminta agar semua pelayan ibadah serius. Dan saya sendiri juga mempersiapkan kotbah saya. Dan tidak pernah neko2 saat berkotbah.

6. Perhatian khusus dan pembelaan kepada anak2 dan Remaja. Sesuai dengan poda tohonan yg saya terima saat menerima tahbisan kependetaan, dimanapun saya ditempatkan saya akan memberi perhatian khusus atau bilamana perlu pasang badan membela kepentingan anak2. Saya selalu memposisikan diri sbg wakil anak2 di rapat2 parhalado dan huria. Saya pernah jadi Ketua Panpemb Gereja Anak di Rawamangun. Saya mengajak jemaat Serpong marpadan utk memberikan ruang2 gereja terbaik untuk anak2. Dan kini di Balikpapqn Baru ged SM kami lebih dulu dipasang AC dan direnovasi daripada gereja dewasa. Dan saya ikut aktiv mencari dana agar anak2 kami punya taman bermain dan perpustakaan. Apakah saya bohong? Tidak. Sila cek di semua jemaat yg saya sebut.

7. Pembaharuan sistem persembahan. Saya bukan tipe orang yang suka mengeluh tanpa berbuat sesuatu. Saya bukan pelamun atau cuma omong. Apa yang saya yakini sungguh2 benar dan baik akan saya perjuangkan untuk terwujud. Apa yang saya anggap salah akan saya koreksi walau riskan. Menurut keyakinan saya terdalam sistem persembahan hkbp dengan banyak kantong tidak lagi benar. Itu sangat merusak makna teologis persembahan sebagai bagian liturgi. Apakah saya hanya mengeluh atau berkesah? Tidak. Dimanapun saya ditempatkan saya akan berusaha meyakinkan Parhalado dan Jemaat untuk membaharui sistem persembahan: cukup satu kali satu kantong dalam satu kebaktian. (Hanya pada saat2 khusus saja ada persembahan khusus). Dan pembaharuan itu saya lakukan apapun risikonya. Kritik saya kepada HKBP: kita terlalu banyak berteori namun sangat sedikit bertindak. Saya tidak mau hanya mengeluh. Mari lakukan perubahan dari diri dan tempat kita sendiri. Jangan bicara perubahan besar jika perubahan kecil (al: sistem persembahan banyak kantong) pun tak berani kita lakukan.

8. Penghapusan lelang. Tak ada salahnya dengan lelang secara an sich. Namun dalam prakteknya di gereja HKBP lelang acap menjadi ajang pameran kekayaan dan kehebatan memberi dan itu sangat mengecilkan hati warga jemaat yang miskin dan pada gilirannya merusak persekutuan. Dimana pun saya ditempatkan saya berusaha mengupayakan cara2 pengumpulan dana yang lebih bersifat gerejawi. Yang menerima berkat banyak pantas memberi banyak. Itu bukan sesuatu untuk dibanggakan. Yg menerima berkat sedikit wajar memberi sedikit. Itu bukan sesuatu yang membuat malu. Persembahan adalah bagian ibadah. Persembahan bukan sumbangan untuk Tuhan namun mengembalikan sebagian yg diberikan Tuhan sebagai tanda pengakuan, syukur dan iman.

9. Penghormatan kepada kalender gerejawi. Peribadahan di HKBP tidak boleh dilakukan suka2 sesuai selera pendeta atau anggota jemaat, melainkan sesuai kalender liturgi yang ditetapkan oleh bapa2 gereja sebagaimana tercantum dalam Agenda dan Almanak HKBP. Dimana pun ditempatkan saya mengajarkan parhalado dan warga jemaat akan makna liturgi termasuk tahun liturgi di dalamnya. Secara spesifik saya akan meyakinkan parhalado dan jemaat betapa penting dan bahagianya kita jika mau bersabar bernatal sesudah empat minggu Adven. Juga mengikuti rangkaian minggu pra paskah sebelum merayakan kematian dan kebangkitan Yesus. Gereja harus berani membiasakan yang benar bukan sebaliknya membenarkan kebiasaannya.

10. Integritas pendeta. Saya bukan manusia sempurna. Saya hanya orang berdosa yang dibenarkan Allah dalam Kristus dan diijinkan melayaniNya melalui gerejaNya. Dan saban hari saya juga masih harus berjuang melawan dosa yang masih melekat dalam diri saya. Sebab itu saya merendahkan hati saya, memberi diri dikritik, diawasi dan dikoreksi.  Saya bukan pusat atau orientasi gereja. Saya hanya seorang pendeta yang dipercaya melayani, menggembalakan dan memimpin jemaat sesuai Alkitab, RPP, Agenda dan AP. Saya kadang suka minum bir apalagi wine tapi saya tidak pernah mabuk. Saya hormat dan selalu menjaga jarak dengan warga jemaat perempuan. Saya tidak (lagi) merokok untuk menjadi salah satu bukti bahwa saya mampu menguasai dan mengatur diri saya sendiri. Saya mungkin bisa jadi keliru atau salah mengambil keputusan namun saya tidak bohong. Satu lagi saya tidak menganggap diri saya lebih kudus atau lebih mulia dari warga jemaat. Semua kita adalah hamba Tuhan. Yang beda hanya tugas pokok dan fungsinya saja. Sebab itu dimanapun ditempatkan saya pertama-tama menghapuskan perbedaan makanan parhalado dan jemaat, juga sofa untuk pendeta dan tamu vip di pesta2 gereja. Di hadapan Tuhan kita semua setara dan bersaudara. Dalam even2 gereja malah saya sengaja selalu makan belakangan untuk mengingatkan diri saya bahwa saya adalah pelayan dan memastikan semua jemaat telah mendapatkan makanan.

11. Gereja yang bersih dan asri. Bagi saya itu bukan sekadar angan-angan melainkan perintah yg harus diwujudkan sekarang. Thesis saya jika yang kelihatan saja jorok apalagi yang tak kelihatan spt hati. Silakan cek gereja yang saya layani selalu bersih dari senin sampai minggu, sebelum dan sesudah kebaktian. Lihatlah pesta2 yg dilakukan gereja kami: bersih dan teratur.  Lihatlah halaman gereja2 yang pernah saya layani: penuh bunga dan pepohonan. Membersihkan gereja, menanam pohon dan merawatnya adalah bagian ibadah harian. Bukan seremoni atau pencitraan!

12. Gereja kontekstual. Gereja HKBP tumbuh dan berakar di Tanah Batak dan budaya Batak. Sudah lebih 20 tahun saya berada di garis depan melayani perjumpaan Injil dan budaya Batak. Saya menemukan titik temu Injil dan Kebatakan: transparansi, partisipasi, egalitarianisme, desentralisasi. Dimanapun ditempatkan saya pasti mengangkat dan mengedepankan tema2 tersebut dalam ibadah juga dalam seluruh praktek kehidupan  ber-HKBP.

Begitulah dulu. Mungkin ada yang menganggap saya meninggikan diri (sebelumnya menuduh saya suka mengeluh). Saya tidak terlalu pusing. Saya hanya mau menggarisbawahi pendapat tiga orang teman pendeta yg namanya saya sebut di awal postingan: pembaharuan harus dimulai dari diri sendiri, dari pinggiran atau tepi kekuasaan, dan bukan seremoni melainkan aksi. Horas HKBP. Ekklesia reformata semper reformanda. Gereja yang dibaharui adalah gereja yang selalu membaharui diri

(Bersambung)

Sabtu, 03 November 2018

*KABAR DARI BUKIT*
_Tuhan dan Sesama_

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini (Mrk 12:30-31).

Tidak terasa dalam empat minggu ke depan, kita sudah masuk ke Minggu Adven, awal kalender gerejawi. Firman Tuhan hari Minggu ini, Mrk 12:28-34, masih bertema yang sama dengan hari kemarin, yakni tentang dua hukum utama Kristiani di atas. Dalam Luk 10:25-37 nas ini diberi contoh tentang orang Samaria yang murah hati yang bersedia menolong korban perampokan di jalan, sementara orang Lewi yang lewat, hanya melihat dari jauh. Kasih yang tidak nyata dan tidak dalam kebenaran (1Yoh 3:18).

Hukum utama pertama dikutip Yesus dari PL, tetapi Dia menambahkan satu poin, yakni: "dengan segenap akal budimu" yang tidak terdapat pada Ul 6:5. Poin ini menjadi penting, mengasihi tidak semata oleh hati dan jiwa, tetapi juga oleh pemahaman akal budi. Sebuah totalitas. Penekanan aspek "dengan segenap akal budi" membuat kasih itu tidak sekedar emosional hati, tetapi didasari pemahaman yang kuat jelas dan tanggung jawab. Poin ini meneguhkan kasih dalam Kekistenan, yakni kita mengasihi sesama dengan hati dan perbuatan, tindakan nyata, tidak omong doang, karena didasari kasih kepada Allah. Ini juga membedakan kita dengan agama lain, yang lebih menekankan mencari "imbal jasa" atau dengan dalih kemanusiaan semata.

Hukum utama: dua menjadi satu, saling melengkapi. Sepuluh hukum Taurat yang diterima Musa mengkristal yakni kewajiban manusia kepada Allah penciptanya dan tanggung jawab kepada sesama yakni saudaranya. Semua relasi dasarnya kasih. Perbedaan dan pertentangan diarahkan berakhir dengan pemulihan dan iman yang bertumbuh, bukan sakit hati, dendam dan menjadi jauh dari Allah. "Allah itu Esa" kata Yesus, dan diamini ahli Taurat yang hadir.

Jawaban Yesus ini diapresiasi oleh seorang ahli Taurat dengan menambahkan, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan (ayat 33). Ini firman yang mengacu pada Hos 6:6. Respon ini membuat Yesus sangat berkesan dan melihatnya orang bijaksana, lantas Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus (ayat 34).

Pesan nas minggu ini menjadi jelas, membawa kita berintrospeksi: sudah sedalam apa kita mengasihi Allah dengan mencintai firmanNya dan mengikuti perintah-Nya? Berapa banyak waktu yang kita berikan untuk bisa bersamaNya? Sudah sejauh mana kita mengasihi sesama dengan memberi hati dan pengorbanan kita kepada mereka? Adakah saudara di sekeliling kita yang terabaikan? Jawabannya hanya pada kita sendiri. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

_Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba_