Jumat, 16 Januari 2009

LOMBA DESAIN UKIRAN KAYU
TUKTUK SIADONG, SAMOSIR, TANGGAL 4– 3 DESEMBER 2008
DIANGKAT DARI MITOLOGY BATAK

.......Pada waktunya, para ratu mengandung dan melahirkan beberapa anak. Paling terkenal dari anak-anak Batara Guru, kendati bukan putra apalagi bukan sulung, adalah Si Buru Deang Parujar, Si Deak Ujarujaran, Si Deak Utiutian. Kakaknya bernama Si Boru Sorbajati dan abang sulungnya seorang pria adalah Datu Tantan Debata, yang kadang-kadang mendapat sebutan juga Raja Domia (Raja Dunia). Pada borunya (ipar) lahir seorang putra ajaib alias aneh. Roman tubuhnya seperti kadal dan mimikri. Ia tinggal di rumah berterali besi dan bertangga keemasan. Karena itu, ia disebut Si Tuan Ruma Uhir, Si Tuan Ruma Gorga, Pemilik Rumah berukir dan berwarna-warni. Di sana ia dilengkapi dengan segala amulet, ilmu dan pustaka batak asli, Pustaha Tumbaga, berlipat-lipat sampai setebal orang berdiri. Amuletnya juga luar-biasa, sanggup mengobati bermacam penyakit dan menerpa siapa saja. Pendeknya dia angker dan tak terhampiri, lengkap dengan terali dan pengawas orang yang mendekat. Pada Soripada dengan Si Boru Panuturi, lahir pula seorang putra ajaib mulia, yang dilengkapi dengan segala bakat kesucian, kekudusan untuk menjadi Imam Agung Batak. Namanya adalah Si Raja Indainda Si Raja Indapati. Kepadanya disifatkan segala karakter imam agung, sehingga dimadahkan oleh manusia: Si Raja Indainda, Si Raja Indapati, pajujungjujung pinggan di hos ni mataniari; pasahatsahat somba tu ompunta Mulajadi, na hinsa suruan, na girgir mangalapi; Pagorjokgorjok udan papilngaspilngas ari, na pantas mananginangi, Raja ni Huhuasi. (Si Raja Indainda, Si Raja Indapati, menjungjung pinggan persembahan tatkala surya kulminasi, penyampaian sembah sujud kepada Tuhan Mulajadi; lincah untuk diutus, cekatan untuk memanggil; Mengguntur-guntur hujan menerikkan matahari; sedia mendengarkan serta cekatan bermusyawarah berkat). Semua sifat-sifat ini adalah atribut dari seorang imam agung sejati.

Tatkala anak-anak menjadi akil, mereka adalah untuk dinikahkan seturut adat Dalihan Natolu. Baik Mulajadi Nabolon maupun Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan, sepakat mengikuti Stelsel Dalihan Natolu. Maka mula-mula Si Boru Sorbajati, putri sulung Batara Guru, dipertunangkan kepada Si Tuan Ruma Uhir Si tuan Ruma Gorga, putra Mangala Bulan. Tak cukup nyali, sang putri Batara Guru menampik dengan resolut. Seturut adat Dalihan Natolu, maka Mulajadi Nabolon dan Batara Guru membujuk Si Boru Deang Parujar, adiknya. Pinangan putra Mangala Bulan mula-mula menarik hatinya, karena keistimewaan dan ketenaran Si Tuan Ruma Uhir. Tetapi sebelum menerima pinangan, Si Boru Deang Parujar ingin mengenal paribannya secara lebih dekat. Ia mengintip dan mencuri-curi menyelonong masuk rumah Si Tuan Ruma Uhir, yang angker. Ia terperanjat memandangi wajah Si Tuan Ruma Uhir, yang berbentuk kadal raksasa, dengan hidung yang mengerikan, sedang kakinya seperti buaya berduri-duri. Matanya seperti mata gong berkilau-kilau mengerikan dan suaranya seperti bom ledak kemiri.

Oleh keterperanjatannya, ia segera menghindar dan pulang ke rumah ayahnya. Dalam hati ditetapkan tidak akan pernah menikahi Si Tuan Ruma Uhir. Tapi kesantunannya kepada ayahnya dan Mulajadi Nabolon membuat ia mencari dalih yang terhormat. Ia bertenun sepanjang hari dan malam. Bila selesai sehelai ulos, ditanggalinya kembali agar tersedia alasan belum selesai. Tetapi bagaimanapun, gelendong benangnya semakin mengecil dan kehabisan kapas-benang. Pada saat-saat yang terjepit dan kritis seperti itu, ia mencari akal sejadi-jadinya agar keluar dari desakan Eyangnya untuk pernikahan. Ia mendapat akal (yang membenarkan namanya sideak utiutian, sideak ujarujaran, sibanyak akal dan licik).Ia berhasil membujuk Si leangleang Nagurasta membuka pintu kayangan. Ia melemparkan gelondong benangnya kebawah lung. Ia turun menyusur benangnya itu. Ia sampai ke Laut Lapaslapas. Ia diterpa gelombang yang dahsyat. Kakinya digigiti oleh Ketam raksasa. Ia menangis sejadi-jadinya, berayun-ayun pada benangnya. Sang mahahadir dan mahasadar, Si Leangleang Mandi, langsung melihat keanaasan ini dan ia melapor pada Mulajadi Nabolon. Sang Mahabelaskasih, Mulajadi Nabolon, mula-mula membujuknya supaya kembali ke Kayangan. Tetapi yang Si Boru Deang Parujar, mengingat kengerian wajah Si Tuan Ruma Uhir, menampik dan tidak menurutinya. “Lebih baik aku mati di sini daripada bertemu dengan Si Tuan Ruma Uhir”. Sebaliknya sikeras hati Si Boru Deang Parujar memohon lewat Si Leangleang Mandi segenggam tanah untuk ditempanya diatas laut menjadi kediamannya. Permohonan ini dikabulkan. Maka mulailah dia menempa tanah itu, yang berkembang sangat ajaib setiap hari bertambah panjang dan lebarnya. Alangkah sukacitanya.
Naga Padoha, raja Banua Toru (benua bawah), merasa beban bertambah berat diatas kepalanya. Ia pun mulai berkisar hendak melepaskan bebannya. Seketika itu juga tanah Si Boru Deang Parujar menjadi runtuh dan hancur. Ia terkejut dan menangis terhiba-hiba. Ia memasang daya sidiknya yang terkenal ampuh untuk menelisik apa gerangan yang menjadi sebabnya. Ia melihat Naga Padoha sedang berwajah seri. Alangkah geramnya hati Si Boru Deang Parujar. Tetapi hal itu tidak ditunjukkannya. Sebaliknya, ia seolah membujuk Naga Padoha agar menjadi lebih jinak. Yang terakhir pun menyambut sikap lembut ini dan mengajak putri Dewata berwawancara. Tetapi putri Batara Guru berkonsentrasi menaklukan Naga Padoha. Ia memohon lewat Si Leangleang Mandi sekali lagi segenggam tanah. Juga dipintanya agar penghuni Banua Ginjang (benua atas) memberikan juga pedang, ranting beringin Tumbu Jati dan sebuah kerangkeng besi yang kuat. Tatkala Mulajadi Nabolon menggenapi semuanya itu, ditambahkannya juga sehelai kerudung. Ini untuk menaungi dirinya, karena ia akan mencipta tujuh matahari, sehingga semuanya menjadi delapan. Tujuannya ialah untuk mengeringkan laut, agar Naga Padoha gampang ditaklukan.

Jadilah demikian. Si Boru Deang Parujar berhasil menikamkan pedangnya kepada Naga Padoha sampai ke gagang. (Waktu gempa, Batak berseru suhul,suhul, untuk mengingatkan Naga Padoha bahwa dia sudah ditaklukan dan menghentikan gempa). Naga Padoha juga berhasil dipenjarakan dalam kerangkeng besi, sungguh takluk tetapi tidak mati. (Kelak ia akan bangkit lagi sehingga terjadi gempa).
Sesudah penaklukan Naga Padoha, amanlah penempaan banua Si Boru Deang Parujar. Tetapi terdapat beberapa masalah : Delapan matahari membuat kehidupan terlalu panas. Banua Si Boru Deang Parujar, yang menjadi Bumi yang kita diami sekarang, Banua Tonga, terlalu datar dan tanpa tumbuhan. Si Boru Deang Parujar mengajukan tiga permohonan kepada Eyangnya, Mulajadi Nabolon, yakni agar buminya dijadikan berbukit, berlembah, bergunung dengan aliran sungai untuk menyuburkannya.

Permohonan kedua adalah agar matahari dikurangi tinggal satu sehingga bumi itu terdiami dan kondusif untuk pembagian siang-malam bersama bulan, pembagian musim penghujan dan kemarau sehingga tanaman menjadi subur. Permohonan ketiga ialah agar Banua Ginjang






mengirimkan segala benih tanaman dan binatang, sehingga tercipta satu kehidupan yang sesuai dengan tuntutan kehidupan dibumi ini.

Semua permohonan ini disampaikan lewat Si Leangleang Mandi. Banua Ginjang mengabulkan ketiga permohonan bersama dengan kebutuhan pendasaran kehidupan manusia di atas bumi.
Mula-mula Mulajadi Nabolon mengadakan lalo pamupus, gempa pemantap. Diadakan gempa ilahi – buka gempa Naga Padoha – sehingga bumi Si Boru Deang Parujar yang sudah sangat luas itu membentuk gunung, bukit, lembah dan aliran sungai lewat hujan. Hujan diatur lewat musim penghujan dan kemarau. Pada waktu itu terjadilah Pusuk Buhit yang menjadi gunung suci. Terjadi pula Batu Hobon yang menjadi pertanda kehidupan di atas bumi. Dari batas ‘gerbang laut’ ini keatas, ke arah darat dan pusuk buhit, adalah secara tropografis tempat Sianjur Mulamula Sianjur Mulatompa. Catatan di sini, mitologi belum berbicara mengenai Limbong Mulana dan Pansur Sipitu Dai (pancuran air 7 rasa), bersama jabijabi tempat mata air memancar.
CATATAN:
Dari cerita Mitology Batak ini ada dua yang ditokohkan yaitu:
1. Si Tuan Ruma Uhir, Si Tuan Ruma Gorga, atau juga disebut Si Raja Odap-Odap digambarkan sebagai mahluk yang angker, berkuasa, memiliki ilmu yang sangat tinggi, bentuknya seperti kadal raksasa, hidung yang mengerikan, kakinya seperti buaya berduri-duri, matanya seperti mata gong berkilau-kilau. Dari gambaran wujud tokoh ini, masing-masing orang mungkin akan membayangkannya secara berbeda. Bisa saja seseorang membayangkan mukanya seperti manusia, bentuk tubuh seperti kadal raksasa, kaki seperti kaki buaya, tangan seperti tangan manusia, dll.
2. Si Leangleang Mandi digambarkan sebagai mahluk yang ringan langkah dan menjadi kurir. Dia sangat rajin terbang ke sana-sini, siap disuruh untuk mengantarkan sesuatu dan murah hati. Dari berbagai tulisan lain Si Leang-leang Mandi digambarkan sebagai burung walet (swallow), tetapi seseorang dapat juga membayangkannya seperti manusia yang ada sayapnya dengan wajah yang cantik dan damai, tetapi bisa saja orang lain membayangkannya seperti burung walet dengan wajah seperti manusia dan kaki seperti tangan manusia, dll.

SELAMAT BERKARYA DENGAN IMAJINASI MASING-MASING, TERHADAP 2 TOKOH TERSEBUT DI ATAS UNTUK DIWUJUDKAN DALAM KARYA UKIR UNTUK MEMPERKAYA DESAIN KARYA UKIR DI KABUPATEN SAMOSIR YANG BERAKAR DARI BUDAYA (MITOLOGY) BATAK.

Narasi ini telah menghasilkan 10 Desain Baru Karya Ukir Samosir.

1
PERINGKAT : TERBAIK PERTAMA
NAMA PENGUKIR : LAURENTUS SIDABUTAR
ALAMAT : TOMOK
NAMA DESAIN : BATARA GURU

2.
Nama Ukiran : Mula Tompa
HasilLomba :Juara II
Nama Pengukir: Tanjung J. Tamba
Alamat :
Telepon :
3.
Nama Ukiran :
Hasil Lomba : Juara III
Nama Pengukir: Eston Tamba
Alamat : Tuktuk
Telepon :
4.
Nama Ukiran :
Hasil Lomba : Juara IV
Nama Pengukir: Lajinmar J. Tamba
Alamat : Tuktuk
Telepon :
5
Nama Ukiran : Mula Ni Jolma
Hasil Lomba : Juara V
Nama Pengukir: Luhut Manik
Alamat : Tomok
Telepon:
6
Nama Ukiran : Boru Deak Parujar
Hasil Lomba :Nominasi
Nama Pengukir: Benarin Nainggolan
Alamat : Tuktuk
Telepon:
7
Nama Ukiran :
Nama Pengukir: Saut Tua Sinaga
Hasil Lomba :Nominasi
Alamat : Sosor Tolong
Telepon:
8
Nama Ukiran : Sianjur Mula Mula,
Sianjur Mula Tompa
Hasil Lomba :Nominasi
Nama Pengukir: Tumbur Siallagan
Alamat : Siallagan
Telepon:
9
Nama Ukiran :
Nama Pengukir: Sarmawanto S
Hasil Lomba :Nominasi
Alamat : Sosortololng
Telepon:
10
Nama Ukiran :
Nama Pengukir : Benny Silalahi
Hasil Lomba : Nominasi
Alamat :
Telepon:Tuktuk










TUKTUK SIADONG, 13 DESEMBER 2008

· Penyelenggara : Dinas KOPERINDAG, Kab. Samosir
DEKRANASDA , Kab. Samosir
· Penasehat :
1. Bupati Samosir
2. Wakil Bupati Samosir

· Pengarah : 1.Drs. Tigor Simbolon, Sekretaris Daerah
2. Ny. Artha. Mangindar Simbolon, Ketua Umum
DEKRANASDA Kab. Samosir

· Ide Cerita : Buku Penataan Pusuk Buhit
· Penulis Buku : MGR. Dr. A.B. Sinaga
· Narasi Lomba : Drs. Jasmin Limbong
· Penanggung
Jawab : Drs. Jasmin Limbong, Kadis KOPERINDAG

· Pengarah Teknis :
1. Syarhruddin Harahap
2. Brisman Silaban

· Tim Juri :
1. Dr. Daulat Saragi
2. Syarhruddin Harahap, MSi
3. Brisman Silaban, Msi

· Koordinator Pelaksana:
Ir.Hulman Sagala

Tidak ada komentar: