Rabu, 30 Desember 2009

10 ATURAN/TITAH (PATIK) DALAM ADAT MASYARAKAT BATAK

Bagi masyarakat Batak, untuk hidup dalam kebersamaan, memelihara kesatuan dan persatuan antar sesama, saling membantu (tolong menolong), seperasaan-sepenanggungan dan saling menghargai, maka sejak dahulu kala nenek moyang orang Batak memberikan 10 aturan/patik atau titah yang menjadi tuntunan, petunjuk dan larangan yakni :
1. Sungkun mula hata, Sise mula uhum (bertanya awal kata, menyapa awal hukum) artinya dalam setiap perjumpaan atau pembicaraan sehari-hari maupun acara adat, harus selalu diawali dengan bertanya dan bertegur/tutur sapa, agar tidak terlalu maju dan menghormati hak masing-masing.
2. Jongjong adat naso jadi sitabaon, peak na so jadi sihosingon, arbat na so jadi silangkaan artinya berdirinya hukum adat istiadat tidak boleh ditebang, terletak tidak boleh diguling, terbentang tidak boleh dilangkahi, yang memberi pengertian bahwa hukum adat manapun tidak boleh dihilangkan atau diabaikan.
3. Boni na so jadi sidudaon artinya benih tidak boleh digiling atau dikonsumsi; sebab bila benih juga sudah dikonsumsi maka tidak ada lagi bahan/bibit untuk diperbanyak-diproduksi.
4. Parinaan ni manuk naso jadi siseaton, artinya Induk ayam tidak boleh dipotong; memberi makna larangan dan tidak boleh dilakukan karena Induk/indunglah yang akan menumbuhkan generasi baru/penerus keturunan,
5. Tung pe binoto goar ni bao, tung so jadi do goaron artinya Kendati kita tahu nama panggilan besan, namun kita tidak boleh memanggil nama, artinya tata hubungan keluarga dalam adat dalihan natolu harus dihormati, apalagi besanan adalah sesuatu yang tabu untuk saling memanggil nama.
6. Elek marboru, somba marhula-hula, ingkon manat mardongan tubu, ini adalah hukum adat yang harus dipatuhi terutama disebut ingkon manat untuk dongan tubu (teman semarga atau setara dengan klan) betul-betul harus hati-hati/waspada agar tidak menimbulkan sakit hati atau perselisihan yang sulit didamaikan.
7. Jempek abor na so boi silangkaan, Na ni handang dang boi raksaon, na pinarik naso jadi sitolbahon, bermakna ada aturan untuk setiap hubungan antar warga, tidak diskriminatif dan tidak memandang status sosial seseorang; yang pendek tidak boleh dilangkahi, yang dikandang tidak boleh dirusak dan yang ada bentengnya harus dipelihara, tidak boleh dirusak atau dihapus.
8. Ndada simanuk-manuk, sibontar andora; Ndada sitodo turpuk siahut lomo ni roha; maknanya kita tidak mungkin mengatur nasib, jodoh, rezeki karena hanya Tuhan yang tahu.
9. Pantun hangoluan, tois hamagoan, na hinilang gabe mambur, jala tongka pajolo gogo, pepudi uhum, maksudnya Etika moral adalah hidup dan kehidupan, iri-dengki-sirik-apatis adalah kehancuran, menjadikan sesuatu berkat/rezeki akan hilang, tidak boleh mendahulukan kekuatan membelakangkan hukum.
10. Rahasia na so jadi paboaon tu Ina-ina, alau tu Ina boi do; artinya sesuatu rahasia tidak boleh diungkapkan kepada sembarang orang wanita, tetapi kepada seorang Ibu masih dapat, sebab bila sembarang wanita mengetahui hal tersebut tidak lagi menjadi rahasia.
(Sumber : Kartolo Simbolon (Ompu Manatap ) pada seminar Budaya Batak Toba-Samosir tgl. 1-2 Des. 2009)

Tidak ada komentar: