Selasa, 19 April 2011

HASIL STUDI LAPANG PENGELOLAAN ATRAKSI WISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN

Selasa, 13 Juli 2010
DI PT.TAMAN SAFARI INDONESIA, DESA CIBEREUM, KEC. CISARUA, KABUPATEN BOGOR
KELOMPOK I STULA : LINGKUNGAN FISIK

Pendahuluan
- Informasi umum yang diperoleh bahwa PT.TSI adalah sebuah perusahaan swasta murni yang mengelola TSI sejak dibangun secara fisik tahun 1980-1981 dan diresmikan bulan Maret 1981 sebagai Taman Safari oleh Menparpostel dan sebagai Lembaga Konservasi ext situ oleh Menteri Kehutanan, yang diarahkan bagi pelestarian, perlindungan dan pemanfaatan bagi lingkungan hidup
- TSI adalah bekas kebun teh yang tidak berproduksi lagi/ditinggalkan dan merupakan tanah negara yang dibebaskan atau diminta ijin pengelolaan dengan sertifikat Hak Pakai dan HGB, berlokasi di dalam desa Cibereum, Kec.Cisarua Kabupaten Bogor dipunggung kawasan Gunung Pangrango, pada ketinggian lokasi 1.800 dpl dan temperatur 18 oC, dengan luas wilayah kawasan 165 Ha dengan 30 % areal untuk pembangunan, saat ini areal terbangun 12,31 % untuk fisik, infrastruktur dan bangunan pendukung.
- TSI dirancang untuk fungsi konservasi, pendidikan, penelitian dan rekreasi (support event) dan dalam rangka konservasi di link dengan program In situ. Dikelola dalam 3 zona.
- TSI dihuni oleh 2500 ekor satwa dari 270 sp, yang pada awalnya 400 ekor satwa dari 190 sp, yang ditangani oleh 1085 karyawan perusahaan baik sebagai pegawai tetap, tenaga honor, tenaga harian lepas. 50 persen dari karyawan adalah warga masyarakat lokal Bogor, selebihnya dari luar Bogor, baik sebagai perawat (keeper), tenaga teknis, tenaga administrasi dsb sesuai keterampilan masing-masing.
- Program kerja pembangunan dan pengembangan kawasan TSI telah dituangkan dalam DPPL dengan tetap memperhatikan daya dukung dan fungsi utama dari Taman sebagai konservatorium satwa dan alam (lingkungan hidup).
- Kawasan zona rekreasi, mungkin dapat mengganggu ketenangan satwa dengan kebisingan mesin, sound system, cable car- bis/mobil.

Hasil studi lapangan
1. Daya tarik wisata yang berhasil diamati di TSI dan dikelola dengan prinsip berwawasan lingkungan, antara lain (sumber daya alam ) :
* penanganan satwa (minimal ) disesuaikan dengan habitat aslinya baik dari sisi penempatan, perawatan (makan minum), sehingga satwa dapat hidup dan berkembang
* tanaman/tumbuhan dari berbagai jenis pepohonan dan tumbuhan perdu yang selalu dirawat bahkan dilindungi (untuk tidak dirusak oleh satwa)
* pengaturan air mengalir untuk kebutuhan satwa dan penanganan limbah dengan 6 danau buatan, dan membedakan saluran air minum dan air kotor.
2. Manajemen pengelolaan TSI mengikuti prinsip pengelolaan daya tarik wisata, misalnya ada DPPL, ada SOP penanganan satwa, lingkungan, pedagang, pengunjung dsb, bahkan SDM pengelola melaksanakan learning by doing.
3. Campur tangan pemerintah dalam pengembangan daya tarik, melalui pembangunan infrastruktur jalan dan fasilitas lain yang dibutuhkan ke kawasan TSI, bahkan pemberian kemudahan dalam perijinan, pasokan bahan baku, pengiriman satwa (karantina satwa), departemen perdagangan memberi ijin pasokan makanan kanguru.
4. Sumber daya alam yang menjadi daya tarik wisata, adalah Core Event : Flora dan Fauna; Event Tambahan : Taman Bermain/Atraksi Satwa. Event Pendukung : Taman Rekreasi........ Bergeser ke arah menghirup udara segar, alam yang sejuk dan indah, ......kelompok sasaran menengah.

5. Apa ada perubahan fisik ? Ada yakni dari 400 satwa/fauna menjadi 2500 satwa, areal penyangga bertambah 100 ha, flora selalu ditambah dan diperlihara, pengelolaan taman rekreasi (water park, taman permainan satwa, parkir, restoran dsb) oleh perusahaan ...tidak mempengaruhi kualitas daya tarik wisata.
6. Proses pembangunan dilakukan dengan DPPL, harusnya dengan AMDAL; tidak ada pencemaran, tidak ada penebangan hutan-perusakan hutan.
7. Apakah daya tarik wisata diterima dan diakui oleh masyarakat lokal ? Pada awalnya ada konflik kepentingan, namun setelah beberapa tahun akhirnya konflik dapat diselesaikan dengan dukungan pemerintah daerah, pemerintah desa dan tokoh masyrakat setempat, bahkan mereka dibantu dengan Corporate Social Responsibility. Masyarakat sangat mendukung pengamanan dan penjagaan kawasan.
8. Apa daya tarik dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat lokal ? Mereka terlibat dalam perencanaan sektor pendukung melalui musrenbang, tenaga kerja di perusahaan baik sebagai penjaga satwa, flora, tenaga teknis. Ikut serta program pemeliharaan lingkungan seperti one man one tree.
9. Apa manfaat ekonomi yang dirasarakan daya tarik wisata : Ikut serta sebagai tenaga kerja 50 % dari masyarakat lokal, penyedia bahan baku makanan satwa (rumput, daging dsb), tenaga penarik ojek, tukang), pedagang souvenir/oleh-oleh, mereka awalnya buruh tani.
10. Daya dukung optimal untuk menjaga daya tarik tersebut untuk tetap berwawasan lingkungan :
- Ada standar operasional prosedur pengelolaan sampah, kotoran, air, parkiran, kegiatan rekreasi.
- Satu tahun wisatawan 900 ribu orang per tahun dan 5 % wisman, kapasitas kenderaan 1000 mobil, 300 bus, roda 2 50-100, ada bis safari gratis.; tiket 60.000 /anak dibawah 6 tahun; 75.000/dewasa.
------- mereka bukan mass tourism, tapi minat khusus.

Saran dari kelompok 3 (Karsel) dan dari Sulut;
- Kemampuan masyarakat sekitar untuk menangkap peluang ekonomi dari pariwisata.
- Core bisnis adalah satwa, kalau satwa mati jadi masalah, kalau manusia bagaimana
- Bagaimana penjualan buah-wortel yang tidak laku, dibeli oleh TSI.
- Penambahan luas areal untuk mendukung TSI konservasi, untuk menjaga tidak muncul usaha baru atau kegiatan baru di sekitar, TSI membeli.
• Wajar dong, kalau kami manfaatkan waktu karena yang dibahas terkait wawasan lingkungan
(sosial, ekonomi, alam
• Manajemen bisnis... taman reptil, taman primata, taman perikanan, hotel
• Statemen > daya tarik wisatawan berwawasan lingkungan....... apa bisa dijamin dengan jumlah pengunjung, perubahan emisi, mereka rencanakan bukan mass tourism, pengembangan sesuai kebutuhan, pembatasan pengunjung dengan besaran karcis masuk, makanan tidak boleh dibawa oleh pengunjung.
• Produk TSI .....brandnya adalah manajemen pengelolaan satwa... dari pasar Eropah.

The Guiding Principle “ If u cant measure, how can u manage it?
Indicator :

 Pengembangan (kolaboratif ) pengelolaan daya tarik wisata : External Destination Marketing dan Internal Destination Marketing....

 Arah kinerja/kolaboratif pengembangan daya tarik wisata berwawasan lingkungan adalah Kepuasan konsumen dan Lepuasan Wosatawan

Tidak ada komentar: