Selasa, 24 Mei 2011

Penyakit POWER SYNDROME DAN POST POWER SYNDROME

Penyakit POWER SYNDROME DAN POST POWER SYNDROME
(SINDROM KEKUASAAN dan BAYANGAN KEKUASAAN)

(diperkaya dari isi Manna Sorgawi, No. 159 Tahun XIV, Juni 2011)

Hidup ini selalu disertai dengan perubahan, artinya Hidup adalah perubahan, jika tidak berubah itu adalah kematian, sementara yg sudah matipun juga berubah. Maka bukan kehidupan namanya kalau tidak ada perubahan. Perubahan tersebut bisa dari keadaan yang baik menjadi buruk, atau sebaliknya dari hal yang buruk menjadi baik, dari orang penting yang berkuasa, menjadi orang yang tidak ada apa-apanya. Setiap kita harus siap menghadapi perubahan apapun, sehingga kita tidak kehilangan damai sejahtera, melainkan tetap bersuka cita di dalam Tuhan ketika perubahan terjadi. Mungkin saat ini kita dikenal sebagai pemimpin tertinggi dalam sebuah institusi, tapi bisa saja suatu saat ada orang yang lebih tepat yang akan menggantikan kita. Mungkin saat ini kita dikenal sebagai orang yang punya kekayaan tapi suatu saat kita tidak memiliki apa-apa;
Manusia, bumi dan segala isinya memang harus mengalami perubahan dan selalu demikian, yang tidak akan pernah berubah dari awal mula, sekarang, esok dan sepanjang segala abad adalah TUHAN sang MAHA, dan ditanganNyalah perubahan itu terjadi, misalnya saja dalam bahasa nyanyian Kristiani (Batak) dituliskan : Nang na mora i, tarbaen IBANA do pogos, nang na pogos i tarbaen IBANA do mora, alani pasahat ma langkam tu DEBATA, asa sahat ho tu pinarsinta ni roham (maknanya : Tuhan dapat menjadikan kita kaya, berkuasa dan dapat pula menjadikan kita tidak punya apa-apa, yang pasti serahkan dirimu padaNya)
Karena itu jangan pernah mendasarkan hidup dan harga diri kita pada kekuasaan (politik, ekonomi, sosial-budaya), karena kekuasaan tidak akan bertahan. Kalaupun kita dipercayakan untuk memimpin dan atau mengatur orang lain, janganlah semena-mena terhadap sesama. Lakukanlah itu dengan kasih dan kerendahan hati. Mat 23 : 11 berkata, “Barang siapa terbesar diantara kamu, kendaklah ia menjadi pelayanmu”. Tidak sedikit orang percaya yang menunjukkan perilaku negatif dan menyakiti sesamanya, hanya karena kekuasaan. Karena kekuasaan, orang rela melakukan apa saja untuk menyingkirkan bahkan membunuh sesamanya. Sehubungan dengan kekuasaan kita akan membahas mengenai post power dan power syndrom.

Pengertian Power Syndrome dan Post Power Syndrome

Power Syndrome. Secara harfiah, “syndrome” adalah kumpulan gejala, sedangkan “power” adalah kekuasaan. Dengan demikian power syndrome dapat diartikan sebagai kumpulan gejala kekuasaan yang nampak dalam diri seseorang. Umumnya orang memahmi power syndrome atau sindrom kekuasaan sebagai gejala yang bersifat negatif. Orang yang mengalami sindrom kekuasaan berasa bahwa dialah yang berkuasa untuk mengatur, memerintah dan harus didengarkan. Si pendertita akan juga memproteksi diri dengan kekuasaan yang dipegangnya, jangan sampai ada orang yang merebut dari tangannya. Ia bahkan mau melakkan tindakan tidak terpuji sampai pada pembunuhan, hanya demi mempertahankan kekuasaan. Sebagai orang percaya, kita perlu berhati-hati terhadap penyakit ini. Selalu terapkan prinsip melayani seperti yang Yesus ajarkan, walaupun kita adalah seorang pemimpin. Gejala orang yang terkena power syndrome (PS) ini adalah berlagak bossy atau berlagak paling berkuasa, selalu mau mengatur dan tidak mau diatur, suka memerintah dan selalu minta dihormati.

Post Power Syndrome. (PPS) bisa diartikan sebagai gejala-gejala pasca kekuasaan. Umumnya orang orang yang mengalami PPS ini adalah mereka tadinya mempunyai kekuasaan atau jabatan, namun akhirnya kehilangan semua itu. Kehilangan disini bisa disebabkan karena pensiun, PHK, atau sakit. Ketika ia tidak menjabat atau tidak berkuasa lagi, akan timbul berbagai gejala kejiwaan atau emosi yang kurang stabil. Biasanya gejala ini bersifat negatif. Secara sederhana, post power Syndrome adalah gejala yang terjadi dimana seseorang hidup dalam bayang-bayang kejayaan atau kebesaran masa lalu, khususnya yang menyangkut jabatan atau kekuasaan. Karena dibayangi kejayaan masa lalu, penderita PPS sulit menjalani kenyataan yang dihadapi dan ada sekarang. PPS hampir selalu dialami orang-orang lanjut usia, yang pensiun dari pekerjaannya.
Kita tidak menisbikan ada orang-orang yang mampu melalui tahap ini dan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, namun banyak orang yang tidak bisa menerima kenyataan itu dengan tulus dan lapang dada, tidak kuat menerima kenyataan hidup.

Gejala yang nampak pada orang yang mengalami PPS dapat dibagi dalam 3 bagian :
1.Gejala fisik. Secara fisik nampak perubahan drastis. Penderita kelihatan menjadi cepat tua, rambut memutih dengan cepat, wajah berkerut, menjadi pemurung dan tidak bersemangat, tubuh cepat sekali sakit, berat badan berkurang cepat, wajah tidak ceria. Meskipun tidak semua gejala ini disebabkan PPS, namun biasanya orang yang mendertia PPS akan menunjukkan gejala fisik seperti ini.
2.Gejala emosi. Penderita PPS menunjukkan emosi yang tidak stabil. Suka marah-marah, mudah tersinggung, dan merasa tidak berharga/dihargai, selalu negatif thinking terhadap orang lain
3.Gejala perilaku. Menarik diri dari pergaulan, malu bertemu orang lain, suka menunjukkan kemarahan dan melakukan pola pola “kekerasan” dimanapun dia berada.

POWER SYNDROME DALAM ALKITAB

Kita tidak menemukan contoh yang jelas di dalam Alkitab mengenai orang-orang yang terkena PPS, tetapi beberapa tokoh menunjukkan gejala perilaku negatif yang disababkan oleh PS atau sindrom kekuasaan. Sindrom ini merupakan sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan juga sesama :
•Raja Saul; Saul adalah raja Israel yang pertama. Ketika melihat kehebatan Daud pada saat mengalahkan goliat, Saul langsung jatuh hati kepada Daud. Hari itu juga Saul membawa Daud ke istananya, dan mengangkat dia mengepalai para prajurut (1 Sam 18:5). Tetapi ketika melalui nyanyian para wanita Israel menyatakan kehebatan Daud yang melebihi Saul, maka Saul mulai membenci Daud. Ada kekuatiran yang besar dalam diri Saul bahwa suatu saat Daud akan merebut kekuasaan darinya. “...akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya” (1 Sam 18:8). Sejak saat itu Saul menunjukkan emosi yang tidak terkontrol. Berkali-kali ia berusaha membunuh Daud. Ketika Yonatan, anak Saul mengkritik keinginan ayahnya untuk membunuh Daud, Saul bahkan rela melemparkan tombaknya kepada Yonathan untuk membunuhnya ( 1 Sam 20:33). Saul akhirnya mati dalam peperangan dengan orang Filistin, dan mungkin saja dalam ketidakrelaan melihat Daud menggantikannya sebagai raja.
•Herodes. Ketika Herodes mendengar kelahiran Yesus, ada kegelisahan di dalam dirinya,. Ia memanggil para majus dan dengan teliti menanyakan tentang bintang yang nampak menunjukkan kelahiran seorang raja. Herodes berdusta kepada orang majus bahwa iapun akan datang menyembah bayi Yesus, padahal hatinya dipenuhi kedengkian dan ketakutan bahwa ia akan tersingkirkan. Herodes bisa dikategorikan sebagai orang yang terkena PowerSyndrome. Gejolak emosi yang ada dalam dirinya kemudian diwujudkan dalam tindakan kekerasan dimana ia memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah. “....lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya yaitu anak-anak berumur dua tahun ke bawah...” Menurut catatan sejarah Herodes adalah orang yang begitu haus akan kekuasaan. Orang-orang yang dianggapnya bisa mengancam tampuk kekuasaannya, akan disingkirkan baik secara halus maupun dengan cara dibunuh. Ia pernah menyingkirkan beberapa anggota Sanhendrin yang berseberangan dengannya, dan lebih tragis lagi ia juga melakukan hal yang sama terhadap kerabat dekatnya. Ia pernah membenamkan Aristobulus, iparnya yang menjadi Imam besar sampai mati. Iparnya yang lain bernama Kostobar juga dihukum mati dengan tuduhan permufakatan. Di kemudian hari, ia tega menghabisi anak-anaknya masih gara-gara kekuasaan. Atas nama kekuasaan, Herodes juga telah melakukan kekerasan dan pemburuhan. Peristiwa pembunuhan anak-anak di Betlehem seperti tertulis dalam Mat 2 : 16-18 merupakan puncak kejahatannya, karena begitu dikuasai oleh ambisi untuk berkuasa. Ia sangat takut kalau ia akan dilengserkan oleh bayi Yesus yang baru lahir itu. Orang yang dikuasai oleh sindrom kekuasaan bisa hilang kendali, emosinya tidak lagi terkontrol. Setelah beberapa kali gagal bunuh diri, akhirnya Herodes mati karena kerusakan pembuluh darah. Orang seperti Saul ataupun herodes yang semasa berkuasa begitu mengagung-agungkan kekuasaan dan takut kehilangannnya, pada akhirnya akan mengalami PPS ketika mereka tidak lagi berkuasa.

•Izebel. Kita mengenal Izebel sebagai wanita yang bengis di dalam Alkitab. Sebenarnya yang menjadi raja adalah suaminya Ahab, namun pada prakteknya Izebel lah yang memegang kendali kekuasaan. Ketika Ahab bersedih karena Nabot tidakmau menyerahkan kebun anggurnya, Izebel langsung bertindak menyusun rencana untuk membunuh Nabot,. Ia membunuh nabi-nabi Tuhan, dan mengancam akan membunuh Elia juga. Izebel adalah gambaran wanita atau tepatnya istri yang hasus akan kekuasaan, sehingga Ahab menjadi “terbenam” dalam kedominanan sang isteri.

Peringatan : Apakah suami kita adalah seorang pemimpin di bidang sekuler ataupun pemimpin di bidang rohani, maka sebagai istri dari para pemimpin, hendaklah menjadi istri yang berhati lembut dan bijak. Jangan sampai kita dikuasai oleh ambisi untuk berkuasa, mengatur, dan mencampuri apa yang bukan porsi kita. Ia menjadi peringatan bagi semua istri pemimpin/ gembala yang seringkali begitu dominan dan berambisi mengatur segala sesuatunya dalam tugas suami/pelayanan gereja.
Masing-masing orang hendaklah mampu menguasai diri dan menempakan diri sesuai porsi yang dipercayakan kepadanya. Orang yang dikuasai oleh sindrom kekuasan lebih sering membawa pengaruh negatif bagi sesamanya.

TINDAKAN-upaya PENCEGAHAN

•Hendaknya disadari bahwa semua yang kita miliki, harta-status termasuk jabatan atau kekuasaan adalah kepercayaan yang Tuhan berikan. Bukan karena kuat dan gagah kita, sehingga memperoleh semua itu. Dengan mendapatkan kuasa, berarti Tuhan memercayakan kita untuk menjalankan suatu tanggungjawab “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan rohKu, firman Tuhan semesta alam” (Zak, 4:6). Jika kita menanamkan ini di dalam hati, maka kita tidak akan menggemgam erat kekuasaan itu sebagai miliki yang harus dipertahankan.
•Kita perlu menyadari bahwa kekuasaan tidak akan bertahan selamanya. Kekuasaan tidak bersifat permanen, suatu saat kekuasaan itu bisa berpindah kepada orang lain. Karena itu perlu kita mempersiapkan diri untuk perubahan-perubahan yang akan datang. Jika kita mulai mempersiapkan segala sesuatunya, maka ketika perubahan itu datang kita akan mampu menghadapinya dengan tenang.
•Jangan mendasarkan harga diri pada kekuasaan. Harga diri orang percaya tidak terletak pada kekuasaan ataupun jabatan yang dimilikinya, melainkan pada ketaatannya melakukan kehendak Tuhan.
•Apa gunanya seseorang memiliki kekuasaan dan memperoleh penghormatan dari manusia, tetapi tidak dari Tuhan. Para penderita PS maupun PPS umumnya adalah orang orang yang terlalu bangga dengan kekuasan, jabatan dan menganggap kekuasaan dan jabatan sebagai ukuran nilai diri mereka. Orang-orang seperti ini menganggap bahwa mereka akan lebih dihargai jiwa memiliki kekuasaan. Karena itu mereka akan terus mengejar kekuasaan. Ini adalah pemikiran yang sangat keliru, karena Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk mengejar kekuasaan melainkan mengejar kekudusan (Ibr. 12, 14)
•Selama Tuhan memercayakan kekuasaan tersebut, jangan berpikir untuk mempertahankannya. Selalu berpikir untuk kebaikan dan kemajuan selanjutnya dari lembaga maupun orang-orang yang kita pimpin. Dan yang lebih penting, senantiasa mengedepankan kepentingan Tuhan dan kerajaanNya., bukan kepentingan diri untuk mencari kekuasaan. Jika kita memegang prinsip itu, maka ketika kita menjadi pemimpin, kita akan berpikir untuk mempersiapkan generasi penerus serta mengkader mereka. Ke depannya nanti ketika kita tidak lagi memegang tampuk kekuasaan sebagai pemimpin, segala sesuatunya akan tetap berjalan, karena ada orang-orang yang sudah kita persiapkan. Ini merupakan salah satu cara mempersiapkan diri menghadapi perubahan di masa mendatang, ketika kita pensiun atau tidak lagi memimpin. Justru dengan mem[persiapkan generasi berikutnya dan mendidik mereka, orang akan mengingat dan tetap menghargai kita kelak. Mereka menghargai bukan kerana kekuasaan yang kita miliki, namun lebih kepada cara kita menyikapi kekuasaan yang pernah Tuhan percayakan kepada kita.
•Miliki kerendahan hati yang selalu menganggap orang lain lebih penting dari kita. Begitu banyak orang yang baru mendapatkan sedikit kepercayaan sebagai pemimpin saja, sudah menganggap diri paling penting dan berlaku sewenang wenang terhadap sesamanya. Kita perlu belajar dari kerendahan hati Yohannes Pembaptis. Ketika murid-muridnya datang menemui dia untuk mengadukan Yesus yang juga membaptis seperti dirinya, Yohannes menanggapinya dengan tenang. Katanya “ Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga (Yoh 3,27). Yohannes menyadari bahwa dia tidak ada apa-apanya, dia hanyalah utusan yang mendahului Mesias. Selanjutnya Johannes mengucapkan sebuah kata-kata yang lebih mempertegas sifat kerendahan hatinya “ Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh 3:30)
•Banyaklah berbuat baik selama berkuasa, berbagi kasih dengan sesama. Cara bijak memakai kepercayaan yang diberikan selama memimpin atau berkuasa, adalah dengan berbuat baik dan benar. Kekuasaan yang kita miliki bukan agar dihormati orang. Ada orang-orang yang menindas dan menyakiti hati orang lain melalui kekuasaan yang ia miliki, hanya demi menunjukkan pengaruhnya. Hati-hatilah, karena orang yang seperti ini akan sangat mudah mengalami PPS. Pakailah kekuasaan yang dipercaakan kepada kita untuk menyejahterakan orang lain dan jangan memerintah seperti orang dunia dengan tangan besi dan paksaan. (band. Mat 20-25-28)
•Bagi mereka yang sudah mendekati massa pensiun, persiapkan kegiatan-kegiatan lain yang masih bisa dilakukan ketika pensiun. Temukan aktualisasi diri yang baru, baik itu dengan melakukan hobi, atau kegiatan-kegiatan yang yang membuat kita tetap berkreasi. Hal ini akan sangat menolong untuk menjaga agar kita tetap merasa berharga. Bahkah melakukan hobi yang bisa menghasilkan uang, seperti berkebun, beternak dsb, selain dapat menopang ekonomi rumah tangga juga akan membantu agar otak kita tidak cepat pikun. Bisa juga dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan kerohanian, sehingga kita tetap aktif dan tidak terjebak dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu.
•Belajar menyikapi perubahan dengan hati lapang. Tidak ada yang kekal dalam kehidupan ini, jadi apapun yang diperhadapkan kepada kita, jalanilah dengan sukacita. Inilah kehidupan yang terhadi di dunia ini, yang satu datang, yang lain pergi. Buang berbagai kekuatiran dan perayalah bahwa sekalipun segalanya berubah, namun kasih Tuhan tidak akan beranjak dari kita. Ia akan selalu memampukan kita melewati setiap proses dalam kehidupan kita.

PERAN ORANG-ORANG TERDEKAT membantu RASA PERCAYA DIRI

Khusus bagi yang mengalami PPS, dukungan orang-orang terdekat seperti keluarga, sangat berpengaruh. Tunjukkanlah bahwa sebagai keluarga, kita mengerti keadaannya yang tidak lagi memiliki kemampuan seperti dulu. Dengan tidak menuntut banyak terhadapnya, apalagi mengejek, menyindir, dan bersungut-sungut padanya, penderita PPS akan lebih bisa menerima kondisi sekarang dengan lebih tenang. Sebagai keluarga, tetaplah tunjukkan rasa hormat dan penghargaan kita, sehingga yang bersangkutan akan tetap merasa berharga.
Di lingkungan pelayanan, ada hamba-hamba Tuhan senior yang karena usia mereka yang sudah lanjut, harus memasuki masa pensiun,. Orang orang terdekat yang menjadi penerus, ataupun jemaat Tuhan yang pernah dilayaninya haruslah bijak dan peduli dengan kondisi baru itu atau perubahan yang sedang dihadapi hamba Tuhan senior tersebut. Tidak ada salahnya melibatkannya sebagai seorang penasihat, atau posisi lain yang akan tetap membuatnya merasa dibutuhkan. .

Mutiara Kata :
-Nikmati jika anda dapat, dan tanggunglah jika memang anda harus menanggungnya (Johann Wolfgang van Goethe)
-Do what you can, with what you have, where you are (Theodora Roosevelt)
-Bagi orang yang berpikiran sehat, tiap hari adalah hari pertanggungjawaban (John W.Gardner)
-Jangan melihat di mana anda terjatuh, tetapi lihatlah di mana anda tergelincir (African poet)
-Kebanyakan kita harus belajar keras setiap hari untuk mengingat apa yang sering kita lupakan (Frank A.Clark)
-Kalau anda tidak berdamai dengan diri sendiri, maka orang lain tak akan dapat berdamai dengan anda
-Anda dapat berada di tempat yang tinggi tanpa berdiri di atas pundak orang lain. Anda dapat menang tanpa mengorbankan orang lain (Harriot Woods)
-Anda harus mengangkat tangan, sebelum Tuhan turun tangan (David Jeremiah)
-Janganlah takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidak sempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.
-Mereka yang tidak pernah mendaki, jarang jatuh (John Greenleaf Whittier)

(Ditulis kembali dan di upload pada saat pikiran “sesak” menjaga ananda Senovian yang sedang sakit, 17 Mei 2011 di Medan, setelah kembali dari Penang Adventis Hospital)

Tidak ada komentar: