Selasa, 22 April 2014

ARTI DAN MAKNA LAMBANG KABUPATEN SAMOSIR

PENJELASAN SINGKAT LAMBANG KABUPATEN SAMOSIR  :


1. DASAR SEGI LIMA BERWARNA KUNING DAN HIJAU
        Bentuk ini bermakna bahwa bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 tetap menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945dalam berprilaku maupun dalam melaksanakan program pembangunan di segala bidang. Untuk itu Kabupaten Samosir yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia dalam upayanya untuk membangun daerah tetap berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai azas pemersatu dan kesatuan. 
        Warna kuning artinya luhur, halus dan gembira, sedangkan warna hijau artinya harapan dan segar. Berkaitan dengan pengertian warna ini maka segala kegiatan yang diprogram secara matang dan erarah harus mengacu terhadap kepentingan masyarakat serta memiliki esensi yang bertendensi universal. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Samosir beserta jajarannya selaku pelaksana pemerintahan diharapkan mampu membuat terobosan-terobosan baru yang inovatif untuk menciptakan pembangunan yang adil dan merata melalui pola piker yang jernih dan cita-cita luhur. 

2. SEMBILAN SINAR BERWARNA PUTIH 
        Sinar melambangkan 9 (Sembilan) kecamatan, artinya bahwa pada era berdiri Kabupaten Samosir telah terbentuk 9 (Sembilan) kecamatan. Sinar bersumber dari kabupaten Samosir yang berada dalam globe. Dengan demikian 9 (Sembilan) kecamatan tersebut menjadi cahaya dari Kabupaten Samosir. Artinya bahwa Kabupaten Samosir tidak lagi diidentifikasikan sebagai daerah mati dan gelap tetapi akan bersinar dengan menggali dan menginovasi sumber daya yang ada untuk mengangkat martabat dan taraf hidup masyarakat dari ketinggalan menuju masyarakat yang adil, makmur dan berbudaya. 
Sinar berwarna putih artinya putih bersih suci. Hal ini dimaksudkan bahwa wujud Kabupaten Samosir yang memiliki potensi wisata yang bertaraf internasional serta artefak masyarakat Samosir yang spesifik akan bersinar ke seluruh penjuru dunia. Untuk itu kebersihan dan kesucian alam yang terdapat di wilayah Kabupaten Samosir  harus tetap dijaga dan dilestarikan melalui tangan-tangan yang bersih dan suci pula.

3. TIGA LINGKARAN PENGIKAT GLOBE BERWARNA MERAH, PUTIH DAN HITAM 
         Pada umumnya ketiga warna ini dimasyarakat Batak Toba dikenal istilah 3 (tiga) bolit, artinya bahwa alam semesta terdiri dari 3 (tiga) bagian, yaitu Banua Toru, Banua Tonga dan Banua Ginjang. Penguasa Banua Toru adalah Batara Guru, penguasa Banua Tonga adalah Debata Sori dan penguasa Banua Ginjang ialah Mengala Bulan. Ketiganya dikenal dengan sebutan “Debata Si Tolu Sada”. Pembagian ala mini sangat berpengaruh terhadap kebudayaan Batak, antara lain : 
a. Rumah adat batak terdiri dari Bara, Bagas dan Bonggar;
b. Ornamen (gorga) Batak terdiri dari 3 (tiga) warna;
c. Bonang Manalu terdiri dari 3 (tiga) warna;
d. Talitali (berbentuk topi) juga terdiri dari 3 (tiga) warna;
e. Dalihan Natolu, somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa makna dari 3 (tiga) lingkaran dalam lambang adalah pengikat dan pelindung terhadap seluruh aspek kegiatan di Kabupaten Samosir. 

4. GLOBE BERWARNA MERAH DAN PUTIH
        Globe melambangkan dunia, Merah dan putih adalah lambang bendera bangsa Indonesia dan Indonesia adalah bagian Negara-negara dunia. Kabupaten Samosir yang merupakan bagian dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dengan membawa bendera bangsa Indonesia diyakini akan memiliki daya tarik yang tinggi di mata dunia dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, karena wilayah Kabupaten Samosir memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan menjadi kebanggaan dari masyarakat Sumatera Utara dan Bangsa Indonesia.

5. KABUPATEN SAMOSIR TERDIRI DARI : 

        A. PULAU SAMOSIR BERWARNA HIJAU 
             Pada dasarnya daratan Kabupaten Samosir secara territorial bukan hanya pulau Samosir, tetapi beberapa daerah kecamatan termasuk pada pulau sumatera, yaitu : Kecamatan  Sianjur Mulamula, Kecamatan Harian dan Kecamatan Sitio-tio.dari segi intensitas dan popularitas maka pulau samosir dan danau toba telah mewakili beberapa daerah di sekitarnya.
        B. DANAU TOBA BERWARNA BIRU 
Biru artinya tenang, sejuk dan dingin. Danau Toba adalah danau air tawar yang paling indah di seantero dunia yang mengelilingi pulau samosir, juga telah menjadi daerah tujuan wisata (DTW) karena keindahan alamnya. Keindahan yang alami dan asri member ketenangan dan kesejukan bagi masyarakat di sekitarnya dan juga wisatawan domestic maupun manca Negara. Untuk itu perlu penataan yang lebih profesional dalam menjaga kelestarian Danau Toba dalam rangka mewujudkan industri pariwisata yang modern. Selain itu Danau Toba adalah sumber kehidupan masyarakat untuk air minum dan bahkan sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan dan tempat penangkarn berbagai jenis ikan tawar. 

6. SAPA BERWARNA HITAM, MERAH DAN PUTIH 
        
        Sapa adalah tempat makan kelompok keluarga pada zaman dulu kala. Jika dilihat dari fungsinya, sapa adalah media yang mengandung filosofis yakni menciptakan kebersamaan dan cinta kasih. Karena pada saat mencicipi makanan diantara anggota keluarga terjadi interaksi social yang menciptakan suasana keakraban, satu perasaan dan bersifat edukatif. Sapa berisi nasi yang menggunung sering dilambangkan kemakmuran (parindahan na susuk), karena nasi termasuk kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat di Kabupaten Samosir dan umumnya di masyarakat Indonesia. 

         Dalam lambang Kabupaten Samosir yang merupakan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (merah putih) dan bagian dari dunia (globe) yang diikat cincin berwarna hitam, putih dan merah (tiga bolit) merupakan satu kesatuan yang diidentifikasikan menjadi nasi yang menggunung yang berada di atas sapa. Selain sebagai sapa juga menggambarkan “Saoan” yaitu tempat air minum (aek sitiotio). Air minum sangat dibutuhkan dalam hidup manusia. Dalam budaya batak toba, ir minum mengandung makna filosofis yakni dengan meminum aek sitio-tio diharapkan menjadi “Tio Panaili”, “Tio Parhorasan” dan “Tio Panggabean”. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sapa/saoan melambangkan tempat indahan (nasuksuk dan aek sitiotio) yang merupakan kebutuhan masyarakat di Kabupaten Samosir . selanjutnya dijelaskan bahwa pada tapak sapa/saoan berbentuk segitiga melambangkan “Dalihan Na Tolu” (tataring) yang berfungsi untuk landasan periuk pada saat memasak 

         Dikalangan masyarakat Batak Toba “ Dliahn na Tolu” mengandung makna “somba marhula-hula”, “manat mardongan tubu” dan “elek marboru”.Artinya ketiga pola inilah yang mejadi dasar atau pedoman dalam kehidupan social maupun kegiatan lainnya di masyarakat Batak. Dilihat dari posisi “Dalihan na Tolu” terdapat perbedaan structural dan bahkan perbedaan prinsip, akan etapi melalui peran “dalihan na tolu” seluruh aspek kegiatan tetap mengacu kepada hasil yang terbaik .  
Dengan demikian Pemerintah Kabupaten Samosir beserta seluruh jajarannya dan juga masyarakat tetap dilandasi prinsip “Dalihan Na Tolu” untuk menjadikan Kabupaten Samosir menjadi kabupaten yang makmur, maju dan berbudaya.

7. TULISAN “SATAHI SAOLOAN” BERWARNA HITAM 
         
         Motto “Satahi Saoloan” adalah suatu kalimat singkat dan mengandung makna filosofis dan merupakan landasan untuk menciptakan persatuan dan kesatuan yang identik dengan azas kebersamaan atau gotong royong dalam konteks yang berdampak positif untuk membangun Kabupaten Samosir.  Seluruh aspek pembangunan Kabupaten Samosir diharapkan tetap didasari motto “Satahi Saoloan”.

8. AKSARA BATAK TOBA “HORAS” BERWARNA HITAM 

       “Horas” adalah sapaan universal (akrab) dari masyarakat batak yang berarti “Selamat”. Pada hakikatnya, “Horas” juga merupakan doa spontanitas kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sapaan “Horas” ditulis dengan aksara batak, membuktikan bahwa nenek moyang orang batak elah memiliki peradaban yang tinggi. Selain aksara, masyarakat batak juga memiliki bahasa daerah yaitu bahasa batak. Aksara ini diharapkan dapat memotivasi generasi penerus untuk mengetahui dan melestarikannya. 
Kata “Horas” bagian dari lambang artinya bahwa Pemerintah Kabupaten Samosir beserta jajarannya demikian juga masyarakatnya semoga selamat mengemban tugas dalam rangka membangun Kabupaten Samosir menjadi Kabupaten yang bersinar ke seluruh penjuru dunia, makmur, maju dan berbudaya. Masyarakat Kabupaten Samosir diharapkan selalu berprilaku yang baik, bersahabat dan penuh cinta kasih dalam menyambut kedatangan pengunjung/wisatawan ke wilayah Kabupaten Samosir.

9. ULOS BATAK BERTULISKAN KABUPATEN SAMOSIR BERWARNA BIRU KEHITAM-
        HITAMAN
        
        Ulos batak terkenal karena bentuk dan motifnya yang spesifik. Ulos pada mulanya berfungsi untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun gigitan serangga kemudian fungsi ulos berkembang sesuai dengan perkembangan jalan dan bentuknya beraneka ragam selain untuk melindungi tubuh, secara filosofis juga mengandung makna untuk melindungi rohani (tondi) manusia, sesuai dengan suasana maupun bentuk adat yang dilaksanakan. Pada saat tertentu ulos juga digunakan untuk : 
a. Topi (tali-tali);
b. Pakaian ebesaran (topi, ampe-ampe dan abit)

Selain itu ulos batak dicontohkan dalam perumpamaan yaitu ulos ganjang dan ulos sigodang rambu. Artinya semoga panjang umur, banyak rejeki dan semoga banyak keturunan (torop pomparan). Dapat ditarik kesimpulan fungsi ulos batak adalah untuk melindungi/mengayomi  badan dan rohani manusia (mangulosi daging dohot tondi). Dalam lambang ulos batak bertuliskan Kabupaten Samosir artinya semoga Kabupaten Samosir terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan dan seluruh aspek kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada sehingga tujuan yang dicitacitakan tercapai yakni masyarakat adil, makmur, maju dan berbudaya.

Ulos terdiri dari 1 (satu) lembar, pangkal maupun ujung ulos memiliki 7 hela benang (rambu), artinya Kabupaten Samosir berdiri pada tanggal 7 bulan Januari  tahun 2004. Tulisan berwarna putih artinya bahwa Kabupaten Samosir benar-benar memiliki karakter dan intensitas yang dapat dibanggakan serta diwujudkan melalui pola pikir yang bersih dan tekad yang suci dan mulia.

10. RUMAH ADAT BATAK TOBA DAN UKIRAN (GORGA) BERWARNA HITAM 

        Rumah adat batak toba memiliki gaya arsitektur yang unik, karena bahan yang digunakan dikelola hanya dengan menggunakan tali yang terbuat dari ijuk. Pada masyarakat batak toba, rumah dikenal dengan sebutan “Sibaganding Tua” na hot di batu-batu na martua sigomgom dohot di hansing-hansingna, hatubuan ni anak dohot boru, jabu na marsangap na martua sigomgom saluhut na sa isina, pangalapan gogo pangalapan tua. 
Dari keberadaan rumah adat batak toba, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa rumah memiliki makna material dan filosofis. Didalam lambang, rumah adat batak toba diidentifikasi sebagai Pemerintah Kabupaten Samosir yang menjadi pelindung (pengayoman), sumber program dan sebagai wadah yang dapat menampung aspirasi masyarakat. 
Untuk itu diharapkan agar Pemerintah Kabupaten Samosir sebagai pelaksana pemerintahan memiliki kemampuan untuk mendaya gunakan segala potensi yang dimiliki sesuai dengan makna yang dikandung rumah adat batak toba. Demikian juga halnya dengan ornament (gorga)Batak, bentuk ornamen (gorga) ini adalah sebagai bukti nyata bahwa orang batak sejak zaman dahulu kala telah sanggup mengidentifikasi bentuk-bentuk alam ke dalam ukiran. Dengan kata lain bahwa rumah adat batak toba beserta ornamen (gorga) meupakan artefak masyarakat Kabupaten Samosir yang harus dikembangkan dan dilestarikan sebagai salah satu daya tarik untuk wisatawan domestic maupun manca Negara yang bermuara pada kemakmuran masyarakat di Kabupaten Samosir. 

Tidak ada komentar: