Kamis, 18 September 2014

SEMINAR PARIWISATA FDT 2014 DI BALIGE, HASILKAN 7 REKOMENDASI

Seminar Pariwisata dalam rangka Festival Danau Toba (FDT) tahun 2014 bertajuk 'Mari sama-sama kita tingkatkan kunjungan melalui pelestarian budaya dan pengembangan destinasi pariwisata kawasan Danau Toba' yang diseleggarakan di TB Centre Balige, 18/9. Seminar ini diinisiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov.Sumatera Utara dibuka oleh Wakil Bupati Tobasa Liberty Pasaribu SH didampingi Kabid Pemasaran Disbudpar Provsu Drs.Muchlis dan Kabid Sejarah-Kepurbakalaan Edward Sinaga SH, MAP.

Seminar ini dimulai pkl.10.00 diikuti sekitar 80 orang peserta dari Kab.Tobasa, Kab.Humbang Hasundutan dan Kab.Samosir terdiri dari perwakilan Tokoh Agama, Tokoh Adat/Budayawan, PHRI, MPI, HPI, LWG/FPP (DMO) menampilkan 3 (tiga) orang  Narasumber dari Akademisi USU
Di sesi pertama Prof.Dr.Paham Gintings SE, MSc, yang memaparkan hasil penelitiannya 2002 menyangkut tingkat kepuasan wisatawan di destinasi wisata Danau Toba. Kesimpulan yang disampaikan Dr.Paham bahwa tingkat kepuasan wisatawan mempengaruhi tingkat kunjungannya ke suatu destinasi. Kepuasan yang paling tinggi adalah terhadap variable Keramahtamahan pelayan hotel dan kepuasan atas tarif hotel, sedang tingkat kepuasan yang paling rendah menyangkut variabel Infrastrukur-ssrana dan prasarana wisata yang sangat buruk.

Sesi kedua Prof.Dr.Robert Sibarani, MS dengan judul paparannya Kearifan Lokal Kesopansantunan sebagai modal peningkatan ekonomi kerakyatan di daerah pariwisata. Prof Robert menyampaikan bahwa kearifan lokal kesopansantunan sebgai nilai budaya untuk kesejahteran dan kedamaian rakyat merupakan potensi besar yang perlu direvitalisasi dan dilestarikan. Kesopansantunan yang dimaksud menyangkut bahasa, cara berpakaian/berdandan dan cara bertindak/berperilaku. Merevitalisasi berarti menghidupkan kembali, mengelola, mewariskan; melestarikanlestarikan artinya melidungi, mengrembangkn dan memanfaatkannya. Salah satu cara adalah melalui pendidika formal di sekolah denhan kurikulum muatan lokal, pendidikan informal melalui pelatihan, sosialisasi penyuluhan dan pendidikan non formal di lingkungan keluarga, gereja dan linfkungan masyarakat.Pemerintah perlu mengintervensi kebijakan utk merebitalisasi dan melestarikan kearifan lokal untuk menunjang dan mendukung pengembangan pariwisata. Kedepa diharapkan akan tercipta generasi muda ang berkaraktrr sopan sntun yang dapat melayani wisatawan dengan baik, sekligus dapat mempromosikan destinasi wisata serta dapat meningkatkan ekonomi kerakyatan di kawasan Danau Toba.

Sesi ketiga, Drs.Jhonson Pardosi MSi, Ph.D membahas Pesona budaya dalam meningkatkan kunjungan wisatawan dikawsan Danau Toba. Dipaparkan bahwa sesungguhnya pengaruh perkembangan teknologi informasi telah menhubah persepsi manusia terhadap dunia yang berubah nenjadi global village, terjadi perapatan ruang dan waktu. Dunia semakin terasa sempit dan sesak oleh atus sirkulasi dan globalisasi yang membawa informasi dan pengetahuan merasuk ke dalam kehidupan manusia dan memaksa manusia untuk 'berimigrasi' alias kunjungan/berwisata semakin meningkat.



Data WTO menyebutkan pergerakan manusia/melakukan perjalanan tahun 2010 sebesar 1.046 juta dengan pertumvuhan 1,46 persen dan diperkirakan hingga tahun 2020 pergerakan manusia menjadi1.602 juta orang. Selanjutnya beliau sebutkan bahwa trend wisatawan saat ini dan kedepan telah berubah dari mobilitas destinasi sektor negara modern dan industri ke destinasi warisan tinggalan budaya. Perubahan ini harus diperhatikan sehingga peluang peningkatan kunjungan wisata makin meningkat.

Respons peserta atas paparan para Narasumber sangat baik, ini terlihat dari antusias peserta menyampaikan bahasan, saran, kritikan dalam diskusi untuk pengayaan pemahaman terhadap pokok bahasan dan tema seminar.  Dalam suasana diskusi seorang peserta menyampaikan kritik atas tidak adanya pejabat Pemerintah Daerah selaku Pengambil keputusan dan kebijakan terkait pengembangan keparisataan kawasan Danau Toba yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Memang dalam seminar ini tidak seorangpun Bupati/wakil bupati di kawasan Danau Toba yang hadir, sehingga ada kekuatiran bahwa hasil seminar ini tidak akan dapat direalisasikan.

Di akhir seminar, panitia meminta peserta untuk membentuk tim perumus, dan secara sukarela untuk merumuskan hasil-hasil seminar sebagai rekomendasi ke pihak-pihak terkait dis lingkup pemerintah kabupaten se kawasan Danau Toba. Tim perumus yang terdiri dari Drs.Melani Butarbutar, MM (Samosir). Monang Naipospos (Tobasa). Paul Lumbangaol (Humbanghas), Dra.Masrina Silalahi, MPd (TB Center) dan A.Husin Ritonga, merumuskan 7 (tujuh) rekomendasi yakni :

1. Pembenahan sarana transportasi untuk mempercepat waktu tempuh Medan-KNIA ke Siantar, untuk saat ini mengingat jalur lintas kereta api yang sudah ada dari Medan-Pem.Siantar, maka dimungkinkan untuk membangun Kereta Api Cepat.
2.  Mengembangkan bandara Silangit menjadi bandara skala Nasional-Internasioal.
3. Melakukan pelatihan Standar Pelayanan pariwisata terhadap pelaku pariwisata di kawasan Danau Toba
4. Peningkatan ftekwensi daya tarik dan atraksi budaya yang dilakukan oleh masyarakat difasilitasi pemerintah di setiap kabupatren
5. Penanaman nilai-nilai budaya 'kesopansantunan' dan kearifan lokal lainnya kepada generasi muda melalui pendidikan karakter/nilai budaya lokal.
6. Melakukan pendidikan penyadaran lingkungan di kawasan Danau Toba
7. Mendorong Pemerintah Daerah di kawasan Danau Toba membuat Peraturan daerah tentang penataan dan pemeliharaan lingkungan, ekosistem dan tata ruang.


Usai pembacaan rekomendasi oleh Masrina dan menyerahkannya kepada Panitia Penyelenggara Seminar,  dilanjutkan dengan penutupan seminar pada pukul 16.30  oleh Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan Disbudparprovsu, seraya menyampaikan ucapan terimakasih

Tidak ada komentar: