Jumat, 03 Oktober 2014

SEKEPING SURGA, kata sambutan dalam buku Habatahon dahulu, sekarang dan masa depan

        Ternyata sebutan Samosir sekeping surga tidak lagi hal yang baru artinya sudah empat tahun yang lalu muncul dan kini lebih dinyatakan menjadi Samosir negeri indah kepingan surga. Pada masa itu, perhatian kita belum seperti sekarang ini. Memang kedengarannya terlalu wah-vulgar dan muncul pro kontra atas istilah yang kini menjadi semacam tag line ketika membicarakan Samosir sebagai salah satu destinasi wisata di kawasan Danau Toba.  Namun demikian hendaknya dipahami bahwa sesungguhnya potensi Samosir menjadi "sekeping surga" telah diakui oleh masyarakat dunia pariwisata, pertanyaannya apa yang harus dilakukan oleh segenap stakeholders Samosir untuk mewujudkannya, adakah masyarakat masih bersemangat untuk melakukan sapta pesona sehingga sungguh-sungguh Samosir menjadi destinasi yang berkelas dan berdaya saing?

Bagaimana Pemerintah Daerah (eksekutif dan legislatif) dapat bersinergi, berkolaborasi, terpadu dan saling memahami  akan cita-cita bersama pembangunan Samosir sebagai daerah tujuan wisata lingkungan yang inoovatif? Adakah menyongsong Visit Samosir Years 20014-2015 dan menangkap peluang ditetapkannya kawasan Danau Toba sebagai KSPN dan diusulkannya Geopark Nasional Kaldera Toba menjadi anggota Geopark Global Network Unesco, mendorong semua pihak khususnya Pemerintah Daerah/SKPD untuk lebih focus membangun dan mengembangkan "pariwisata memiliki sebuah ikon" seperti kawasan pusuk Buhit dengan berbagai potensi legenda sejarah budaya dan situsnya?

         Saya sesungguhnya tidak ingin berpanjang kata, yang jelas ada harapan dan cita-cita yang perlu digapai Samosir wisata dunia, "sekeping surga=taman eden=porlak Debata" di bumi Sumatera Utara kawasan Danau Toba. Selengkapnya silahkan dapat dibaca kata sambutan berikut yang saya rewrite dari buku Habatahon: dahulu, sekarang dan masa depan persiapan landasan kultural, pariwisata dan modernisasi, yang diterbitkan atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Samosir Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya dengan LKSB Kab.Samosir, tahun 2010  sbb :

KATA SAMBUTAN
       Dengan khasanah hidup bangso Batak masa kini, ditengah-tengah peradaban dunia, cukup banyak fenomena kehidupan yang terjadi tidak lagi sesuai dengan norma-nilai, falsafah, adat yang dicipta leluhur Batak. Dengan kata lain, tidak lagi seturut Habatahon. Mengapa demikian?
Sebagian masyarakat berpendapat secara dialektik logis bahwa fenomena atau masalah itu dapat terjadi karena pelaku atau orang Batak sendiri takut menunjukkan diri "eksistensinya" sebagai orang Batak, menganggap nlai-norma-falsafah hidup yang sudah kuno, tidak sesuai perkembangan zaman dan malu menjadi orang Batak? sehingga apa yang dilakukannya tidak perlu lagi berdasar pada identitas Batak.
          Alasan yang paling spesifik adalah karena tidak tersedianya bahan tertulis yang dapat dijadikan sebagai barang bukti dan sumber informasi tentang kehidupan Nenek Moyang/leluhur bangso Batak sejak mula ada dicipta oleh Mulajadi Nabolon (istilah ini yang selalu dipersoalkan oleh kaum agamis). Muara dari fenomena ini adalah kakuatiran kita bahwa pada saatnya nanti Habatahon sebagai identitas bangso Batak akan pupus dan punah dari peradaban bangsa-bangsa di dunia.
       Sesuai perkembangan waktu dan zaman, cukup banyak orang Batak yang berpikiran maju, sebagai ilmuwan, tokoh dalam berbagai bidang di kancah Nasional dan Internasional. Mereka memiliki kemampuan pikir dan kata, namun sangat jarang memiliki kemampuan dan kemauan untuk menangkap fenomena yang terjadi dari masa ke masa dan menuliskannya kembali dalam berbagai dokumen yang akan menjadi warisan masa depan.
        Habatahon, buat saya adalah wujud daya cita, rasa dan karsa nenek moyang orang Batak, warisan leluhur yang menjadi identitas (budaya) Batak, pedoman hidup; karena adapun budaya sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, alam dan lingkungannya. Adat budaya adalah juga ciptaan Tuhan, sebagaimana disebutkan oleh leluhur orang Batak " adat do ugari, sinihathon ni Mulajadi, uhum ni ngolu siulahonon ganup ari " yang harus dilestarikan dan dikembangkan serta dilakukan saban hari sehingga tidak punah dilindas zaman, tidak kering-retak di waktu panas dan tidak basah-lekang di musim hujan 
        Sebagai orang Batak yang beragama, seharusnya kita tidak mengesampingkan atau menjauhkan diri dari adat budaya kita (Batak), sebab jika demikian halnya, maka kita telah "menyesali" penciptaan Tuhan dan menghujat para leluhur kita, bahkan kita telah memisahkan diri dari "kehidupan" manusia sejati (sejati= hidup jasmaniah dan rohaniah)
         Sangat berharga sekali, jika buku Habatahon ini telah diterbitkan, pertama sebagai bagian dari pelestarian nilai-nilai adat budaya dan penegasan eksistensi Batak, kedua untuk memberi pengetahuan dan pemahaman tentang identitas adat-budaya Batak "Habatahon", ketiga mendorong generasi berikut untuk melakukan kajian-kajian penelitian bahkan pemanfaatanya buat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
          Selaku Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir, sudah barang tentu saya menyampaikan salut dan hormat kepada Yang Mulia Bapak Mgr.DR.A.B.Sinaga, OFMCap, Uskup Agung Medan, yang ditengah-tengah kesibukan beliau membina umat juga masih menyempatkan diri untuk menulis dan menyusun naskah buku Habatahon ini dan yang selalu memberi perhatian buat pengembangan budaya Batak di Samosir selaku Datu Parmangmang dalam acara visualisasi adat budaya Batak.
           Sembari bersyukur, saya menyambut baik penulisan naskah buku ini sebagai sebuah dukungan yang sangat besar dan baik buat Pembangunan dan Pengembangan Kebudayaan dan Kepariwisataan di Kabupaten Samosir. Dengan terbutnya buku ini, tersedia pula bahan informasi budaya bagi masyarakat dan dijadikan sebagai daya tarik wisata yang dikreasi dalam bentuk dan dimensi seni, misalnya performance theatre, sendratasik, audio visual, dan lain sebagainya. Secara bertahap akan menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pembinan dan pengembangan nilai-nilai mental-moral, adat istiadat Batak (habatahon).
       Pada gilirannya masyarakat dunia akan semakin berkeinginan utuk datang berkunjung (berwisata) ke Samosir, baik dalam rangka wisata minat khusus maupun wisata umum, sekaligus menikmati dan merasakan betapa Sang Ilahi, Pencipta Maha Besar, Mulajadi Nabolon, telah menempatkan "sekeping Surga-Taman Eden-Porlak Debata" di bumi Sumatera Utara kawasan Danau Toba.
          Buku ini juga akan menjadi salah satu Pustaha (pustaka) bagi generasi Bangso Batak yang akan dijadikan pedoman hidup, filosofis-theologis dalam gerak kehidupan berdasarkan nilai dan norma socio-cultural-spritual Batak modern. Dengan demikian, Samosir semakin maju dan menjadi destinasi wisata dunia berbasis lingkungan (sejarah, alam, lingkungan hidup dan adat budaya).
           Jika disana-sini terdapat tutur kata yang tidak pada tempatnya dalam kata sambutan ini, kami mohon dimaafkan. Semoga bermanfaat dan Horas..

                                                                               
Pangururan,    Desember 2010
                                                                         
                                                                      Kepala Dinas Pariwisata,Seni dan Budaya
                                                                                      Kabupaten Samosir
                                                                                              ttd
                                                                              Drs.Melani Butarbutar, MM

Tidak ada komentar: