Kamis, 21 Mei 2015

Penyakit HIV/AIDS dan Ancamannya Bagi Kita

Akhir-akhir ini penyakit HIV/AIDS menjadi penyakit yang sangat ditakuti dan banyak orang berupaya untuk menghindari mereka yang mengidap penyakit ini (orang dalam HIV/AIDS-ODHA)  Rasa takut itu cukup beralasan, karena penyakit ini sering berujung dengan kematian dan sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Kalaupun ditemukan beberapa macam obat, berfungsi hanya sebagai pencegahan supaya tidak terjadinya komplikasi penyakit dan menghambat berkembangnya virus di dalam tubuh penderita..

Masyarakat buta AIDS. Suatu hal yang sangat ironi, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui dan memahami seluk beluk penyakit yang mematikan ini. Tidak hanya mereka yang bermukim di pedesaan bahkan mereka yang hidup di perkotaan termasuk pegawai Pemerintah masih memiliki pengetahuan yang minim tentang HIV/AIDS. Kondisi ini mengakibatkan HIV/AIDS terus berkembang, kepedulian terhadap ODHA pun semakin menyeret mereka jatuh ke dalam bencana kemanusiaan.  Lebih dari 20 tahun penyakit HIV/AIDS ditemukan dan berkembang di Indonesia, telah menyebabkan ratusan ribu penduduk Indonesia meninggal dunia. Ada kesan di masyarakat bahwa yang mengidap penyakit ini adalah kutukan Tuhan, penyakit warisan, penyakit yang sangat mudah menular, sehingga ODHA harus diusir dan disingkirkan dari kehidupan masyarakat ataupun keluarga. 

Ketidaktahuan tentang penyakit HIV/AIDS juga menjadi penyebab makin banyaknya yang mengidap penyakit yang berujung kematian. Kendatipun jumlah penderita penyakit ini dari tahun ke tahun terus berkembang namun “rasa takut” ternyata tidak mampu mengalahkan keinginan untuk “memelihara” media penularannya.

Oleh karenanya adalah penting untuk mengetahui pengertian HIV/AIDS, asal muasal, gejala penyakit, penularannya, statistik penderita HIV/AIDS di Indonesia. Selain itu perlu juga diketahui siapa saja yang beresiko menderita penyakit, perilaku apa yang menyebabkan seseorang terkena penyakit HIV/AIDS, dan yang terakhir adalah  dampaknya terhadap kehidupan manusia serta upaya yang harus dilakukan untuk pencegahan.



HIV (human immunodeficiency virus) atau  virus imunodifisiensi manusia adalah suatu virus yang dapat memperlemah kekebalan pada tubuh manusia dan menyebabkan penyakit AIDS.  AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency )  adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya.Orang yang terkena virus HIV sangat menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor yang sering dijumpai pada penderita penyakit paru-paru utama, penyakit saluran pencernaan utama, penyakit syaraf dan kejiwaan utama, penyakit kanker dan tumor ganas.
Sebagian besar masyarakat Indonesia meyakini bahwa penyakit HIV/AIDS menular (menyebar)  melalui pakaian (keringat), makanan/minuman, mandi bersama (memakai air yang sama), tidur bersama, bersalaman dengan ODHA, menggunakan alat yang sama, gigitan nyamuk. Dengan keyakinan tersebut maka seseorang yang diduga mengidap penyakit HIV/AIDS akan selalu disingkirkan dari pergaulan masyarakat, bahkan ada yang “dibuang” dari tengah keluarga, dijauhkan dari lingkungan adat istiadat.
Semua orang beresiko terkena HIV/AIDS


HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim(vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun. Penyaluran virus HIV bisa melalui penyaluran semen (reproduksi)darah, cairan vagina, dan ASI. HIV bekerja dengan membunuh sel-sel penting yang dibutuhkan oleh manusia.  Tanpa pengobatan, seorang dengan HIV bisa bertahan hidup selama 9-11 tahun setelah terinfeksi, tergantung tipenya. Sebaliknya meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun hingga saat ini penderita penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan dan obat penangkal, pembunuh virus pun belum ditemukan. 

Sejarah munculnya HIV/AIDS. Para ilmuwan kesehatan berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara dan pengakuan pertama kali adanya penyakit HIV/AIDS oleh WHO dan UNAIDS pada tanggal 5 Juni 1981. Hasil penelusuran melalui media teknologi informasi bahwa pada tahun 1983 Françoise Barré-Sinoussi seorang ahli  virologi  kebangsaan  Prancis yang menjabat sebagai direktur Unité de Régulation des Infections Rétrovirales Institut Pasteur di Paris, Prancis. Bersama Jean Claude Chermann, Francoise untuk pertama kalinya berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi virus HIV dari seorang penderita sindrom penyakit pada nodus limfa (limfadenopati). Awalnya, virus itu disebut ALV (lymphadenopathy-associated virus).  Selanjutnya bersama Luc Montagniermereka membuktikan bahwa virus tersebutlah penyebab AIDS  

Pada awal tahun 1984, Robert Gallo dari Amerika Serikat juga meneliti tentang virus penyebab AIDS yang disebut HTLV-III.  Setelah diteliti lebih lanjut, terbukti bahwa ALV dan HTLV-III merupakan virus yang sama. Hingga pada tahun 1986, istilah yang digunakan untuk menyebut virus tersebut adalah HIV atau lebih spesifik lagi disebut HIV-1.
Di Indonesia, kasus pertama penyakit  HIV dilaporkan pada tahun 1987. Akibat penyakit ini hingga tahun 2009 diperoleh data terdapat 3.492 orang meninggal.  Dari 11.856 kasus yang dilaporkan pada tahun 2008, sebanyak 6.962 di antaranya adalah orang-orang berusia di bawah 30 tahun, termasuk 55 orang bayi di bawah usia 1 tahun. Ada sejumlah kasus beresiko tinggi yang terkonsentrasi di Indonesia yakni orang-orang pengguna narkoba injeksi (jarum suntik), mitra dan klien pekerja seks, pria homoseksual dan bayi yang terjangkit penyakit ini melalui rahim atau dari yang disusui. 
Gejala dan Komplikasi.  Penyakit HIV/AIDS tentu saja tidak datang tiba-tiba menyerang tubuh manusia. Gejala penyakit ini umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan gejala tersebut terjadi akibat infeksi oleh  bakteri,  virus fungi  dan  parasit yang menginap di tubuh manusia biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV.Salah satu cara untuk mendeteksi HIV adalah dengan melaksanakan test terhadap sel darah putih (sel CD4 atau T-sel) yaitu sel yang berfungsi sebagai penolong sel. Sel darah putih adalah sel yang akan menyerang infeksi berupa kuman, jamur maupun enzim berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Penurunan sel CD4 mengindikasikan bahwa seseorang telah terjangkit HIV. Beberapa kondisi atau gejala yang mengindikasikan seseorang mengidap penyakit HIV/AIDS antara lain, demam ringan, iritasi kulit,  diare (muntah-muntah membuat kekurangan cairan/dehidrasi),   nafsu makan yang berujung penurunan pada berat badan, nyeri sendi,  batuk kering, perubahan pada kuku jari tangan/kaki. infeksi pada mulut yang diakibatkan oleh jamur. Gejala lain yang ditemukan antara lain berkeringat (terutama di malam hari, pembengkakan kelenjar, kedinginan dan selalu merasa lemah.
Selain gejala tersebut, pada umumnya Infeksi oportunistik yang memengaruhi hampir semua organ tubuh didapati pada penderita AIDS/HIV. Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik, seperti  demamberkeringat (terutama pada malam hari).  Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien. Beberapa infeksi opportunistik antara lain : penyakit paru-paru, penyakit saluran pencernaan, penyakit syaraf dan kejiwaan. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti  sarkoma  kaposi kanker leher rahim, kanker anus dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.

HIV sepertinya melakukan penetrasi ke dalam sistem saraf pusat (SSP) dengan cepat setelah infeksi perifer, dan kemudian menetap secara primer di dalam makrofag perivaskuler dan mikrogliaTampaknya virus tidak menyerang sel saraf secara langsung tetapi membahayakan fungsi dan kesehatan sel saraf. Peradangan yang diakibatkannya dapat merusak otak dan saraf tulang belakang dan menyebabkan berbagai gejala. Misalnya seseorang pengidap HIV/AIDS menjadi orang yang sering kebingungan dan pelupa, perubahan perilaku, sakit kepala berat, kelemahan yang berkepanjangan, mati rasa pada lengan dan kaki, dan stroke. Kerusakan motor kognitif atau kerusakan saraf perifer juga umum. Komplikasi ini dapat muncul pada segala usia tetapi cenderung berkembang secara lebih cepat pada anak-anak. Komplikasi sistem kekebalan dapat termasuk penundaan pengembangan, kemunduran pada perkembangan penting yang pernah dicapai, lesi pada otak, nyeri saraf, ukuran tengkorak di bawah normal, pertumbuhan yang lambat, masalah mata, dan infeksi bakteri yang kambuh.Kelainan sistem saraf terkait AIDS mungkin secara langsung disebabkan oleh HIV, oleh kanker dan infeksi oportunistik tertentu (penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus lain yang tidak akan berdampak pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat), atau efek toksik obat yang dipakai untuk mengobati gejala.
  .
Meluruskan pemahaman tentang HIV/AIDS.
Selain itu ada keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa penyakit ini hanya menjangkiti “orang yang tidak baik”, melakukan tindakan amoral, sehingga mereka layak untuk mendapatkannya. Keyakinan yang demikian menyebabkan  orang dengan HIV/AIDS (ODHA) diberi stigma (cap buruk) sehingga dipaksa keluar dari desanya. Mereka “ditolak” dokter bila berobat, kalaupun diterima untuk mendapat perawatan di rumah sakit, para ODHA akan diperlakukan seperti “hewan peliharaan”. Hal seperti disebut di atas terjadi akibat kurangnya pengetahuan dan sedikitnya yang mendapat informasi yang tepat tentang penyakit HIV/AIDS.             
Menurut seorang konselor/penggiat HIV/AIDS dari Komisi HIV/AIDS (HKBP), bahwa “media utama hidup dan berkembang  virus HIV yang menyebabkan AIDS adalah darah (manusia) sesuai dengan pemakaian sebutan Human”.  Selain dalam darah,  virus ini dapat hidup pada sperma dan air susu ibu (ASI). Kendatipun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi disebabkan cairan-cairan tersebut, sehingga resiko infeksinya secara umum dapat diabaikan” demikian dijelaskan lebih lanjut. Perlu diketahui, kebanyakan orang yang terjangkit gejala penyakit HIV/AIDS adalah orang-orang yang sering melakukan hubungan badan (seks) dengan berganti-ganti pasangan, pengguna narkoba yang menggunakan alat suntik dipakai secara bergantian, bawaan lahir jika orangtua bayi mengidap penyakit HIV maka anak yang dilahirkan akan positif mengidap hal yang sama. Virus ini pada umumnya menyerang kekebalan tubuh, dan membuat penderita menjadi semakin lemah. 

Dengan demikian jalur utama penularan atau masuknya virus HIV ke dalam tubuh manusia berlangsung melalui adanya kontak cairan yang mengandung sel terinfeksi virus atau partikel virus. Yang dimaksud cairan tubuh disini adalah darah, semen (sperma), cairan vagina, cairan serebropinal dan air susu ibu. Dalam konsentrasi yang lebih kecil virus ini terdapat pada air mata, air liur, air ludah dan air kemih. Dengan demikian HIV pada umumnya ditularkan melalui cara transfusi darah, sebelum dan selama proses persalinan/kelahiran, melalui ASI, penggunaan jarum suntik bersama-sama, hubungan seks anal/oral reseptif dan insertif.

Terdapat empat besar jalur utama penularan virus HIV ke dalam tubuh manusia yakni :

Pertama, penularan melalui hubungan seksual. Penularan HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan penularan HIV.

Penyakit menular seksual akan meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan  trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga
Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antar orang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi, tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin.
Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.

Kedua, transfusi darah.  Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C.   Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko itu.

Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh.  WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV   ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak aman. Oleh sebab itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas kesehatan khususnya jarum suntik.Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun, menurut WHO, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi".

Ketiga, penularan masa kehamilan dan saat persalinan.  Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (inutero) selama  masa  perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%. Namun, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus (ARV) dan melahirkan dengan cara operasi besar (bedah caesar) maka tingkat penularannya hanya sebesar 1%. Sejumlah faktor dapat memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya), sedangkan tindakan menyusui meningkatkan risiko penularan sebesar 4%.

Keempat, penggunaan jarum suntik dan napza. Penggunaan napza dengan cara suntik memainkan peranan yang penting dalam  penyebaran HIV di Indonesia. Kelompok ini bukan saja memiliki risiko tinggi terinfeksi karena perilaku berbagi jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom. Kebanyakan pengguna jarum suntik (penasun) pertama kali berhubungan seksual dengan pacamya. Selain itu, selama hidupnya penasun terlibat hubungan seksual dengan berbagai jenis pasangan. Baik pasangan seks tetap (istri/suami/pacar), pasangan seks kasual (singkat dan sewaktu-waktu, bisa teman atau kenalan) dan pasangan seks komersial. Pada periode yang bersamaan mereka dapat melakukan hubungan seks dengan semua jenis pasangan tersebut. Sebagian besar penasun memiliki lebih dari satu pasangan seksual dalam setahun terakhir. Sebagian dari pasangan itu juga memiliki pasangan seksual lain, termasuk pada pasangan tetap penasun.

Penggiat HIV/AIDS menyebutkan bahwa: “para penasun yakin bahwa napza - terlepas dari jenisnya - memberikan efek positif dalam berhubungan seksual, seperti membuat bertahan lama, lebih berani dan percaya diri melakukan pendekatan, dan lebih merasa bergairah. Para pengguna napza berat boleh jadi lebih bergairah dan puas jika melakukan seks dengan kekerasan”. Sebagian besar para penasun meyakini kondom dapat mencegah diri dan pasangannya dari penularan penyakit IMS (infeksi menular seksual) dan HIV/AIDS.  Penggunaan kondom cenderung dilakukan oleh penasun jika pasangannya tidak tetap, tidak dikenal dan memperoleh informasi tentang seks. Sedangkan penasun cenderung tidak menggunakan kondom jika berhubungan seks dengan pasangan yang tetap, tinggal serumah, dikenal dalam jangka waktu lama. Kemungkinan pengguna narkoba suntikan (penasun) HIV-positif tetap bertahan hidup lima tahun setelah mulai terapi antiretroviral (ARV) adalah serupa dengan orang HIV-positif yang bukan penasun

Indonesia, negara ketiga penderita terbanyak. Badan Dunia yang menangani HIV/AIDS, the Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS) mengatakan bahwa HIV/AIDS di  Indonesia  adalah salah satu epidemi tercepat berkembang di negara  Asia.  Data nasional hingga 30 Juni 2005, menunjukkan 7.098 kasus HIV/AIDS di Indonesia, atau meningkat signifikan dari data sebelumnya yaitu 6.789 kasus per 31 Maret 2005. Indonesia adalah negara ketiga di dunia yang memiliki penderita HIV terbanyak yaitu sebanyak 640.000 orang, setelah China dan India, karena ketiga negara ini memiliki jumlah penduduk yang banyak. Hanya saja prevalensi di Indonesia hanya 0,43 persen atau masih di bawah tingkat epidemi sebesar satu persen.

Pada tahun 2007, Indonesia menduduki peringkat ke-99 di dunia dalam tingkat prevalensi, tetapi karena rendahnya pemahaman gejala penyakit dan stigma sosial yang tinggi yang melekat padanya, hanya 5-10% dari penderita HIV / AIDS yang bisa didiagnosis dan diobati. Sehingga pada tahun 2010, diperkirakan sebanyak 5 juta orang Indonesia akan mengidap penyakit HIV / AIDS.  Di tahun 2014, UNAIDS memberikan rapor merah kepada Indonesia sehubungan penanggulangan HIV/AIDS. Pasien baru meningkat 47 persen sejak 2005. Kematian akibat AIDS di Indonesia masih tinggi, karena hanya 8 persen Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang mendapatkan pengobatan obat antiretroviral (ARV).

Beberapa faktor penyebab yang menempatkan Indonesia dalam bahaya epidemi yang lebih luas sebagai berikut:
Pertama, perilaku seksual berisiko yang umum.  Hanya 54,7% dari pekerja seks dan 56,5% dari laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) menggunakan kondom secara konsisten dan hanya 18,5 persen penasun secara konsisten menggunakan kedua alat jarum suntik steril dan kondom. Banyak ODHA/IDU juga pekerja seks atau klien pekerja seks, meningkatkan kemungkinan HIV/AIDS menyebar ke populasi umum. 
Kedua, kesadaran seseorang dengan status HIV di kalangan populasi berisiko, sangat rendah.   Stigma dan diskriminasi terhadap banyak orang yang hidup dengan HIV memaksa mereka menyembunyikan statusnya. Mereka takut kehilangan pekerjaan, status sosialdukungan dari keluarga dan masyarakat, sehingga mengurangi kemungkinan mereka akan menerima pengobatan yang tepat dan akanmeningkatkan kemungkinan penyebaran HIV yang tidak terdeteksi.
Ketiga, Indonesia sebagai negara kepulauan (nusantara) membentang lebih dari 3.000 mil di sepanjang khatulistiwa. Dengan praktek budaya dan tingkat urbanisasi yang berdampak pada epidemi HIV / AIDS. Misalnya, budaya "transaksional" seks antara pria dan wanita muda berusia 15 hingga 24 telah menjadi faktor pendorong di Papua. 

Laporan Ditjen PP & PL Kementerian Kesehatan RI tanggal 17 Oktober 2014 menyebutkan bahwa secara kumulatif sejak 1 April 1987 s/d 30 September 2014 penderita HIV/AIDS di Indonesia sejumlah 205.084 orang terdiri dari penderita HIV sebanyak 150.285 orang dan penderita AIDS  55.799 orang, yang meninggal sebanyak 9.796 orang. Kasus HIV yang terbanyak ditemukan di DKI Jakarta (32.782), Jawa Timur (19.249) dan Papua (16.051) sedangkan pengidap AIDS paling banyak ditemukan di Papua (10.184), menyusul Jawa Timur (8.976) dan posisi ketiga di DKI Jakarta (7.477).  Dari sisi prevalensi kasus AIDS per 100.000 penduduk, Papua berada pada urutan pertama 359,43 %, disusul Papua Barat dan Bali sebanyak 228,03 % dan 109,52%. Kematian penderita HIV/AIDS mencapai ribuan orang pada tahun 2008-2012. Secara kumulatif penderita HIV/AIDS menurut jenis kelamin, terbanyak adalah Laki-laki sejumlah 30.001 orang, sedangkan Perempuan sebanyak 16.149 orang. Menurut golongan umur, penduduk berusia antara 20 – 29 tahun sebanyak 18.352 orang, usia 30-39 tahun sebanyak 15.890 tahun dan usia 40-49 tahun sebanyak 5.974 orang.

Siapakah sajakah orang yang bisa tertular penyakit HIV AIDS?  Semua orang yang melakukan perilaku beresiko HIV AIDS dapat terinfeksi, tidak perduli orang baik-baik atau bukan, miskin atau kaya, bodoh atau pintar, heteroseksual atau homoseksual.  AIDS bukanlah penyakit reproduksi dan tidak semua cairan tubuh yang dapat menularkan virus HIV. Cairan tubuh yang dapat menularkan virus HIV terutama adalah darah, semen (sperma) dan air susu ibu. Virus HIV yang ada dalam darah menyerang system pertahanan tubuh (sel darah putih) seseorang.

Beberapa perilaku yang menyebabkan seseorang terkena HIV AIDS dan yang bisa menularkan antara lain : hubungan seksual dengan penderita HIV, penerima transfusi darah yang sudah tercemar HIV, penggunaan jarum suntik, jarum tindik dan jarum tato yang sudah tercemar HIV, penggunaan jarum suntik tanpa lebih dahulu disterilkan, Ibu hamil yang sudah terkena infeksi HIV dapat menular pada bayi yang dikandungnya dan pemakai narkoba suntik (Penasun)
Memperhatikan statistik penderita HIV/AIDS dan kematian akibat penyakit ini, kini AIDS telah menjadi wabah penyakit yang paling ditakuti umat manusia. Bahkan  penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mengerikan dan mematikan dalam sejarah kehidupan manusia.  Diperkiraan, HIV/AIDS telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.

Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni1981.  Pada tahun 2005 saja, AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa  dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia.

Bagi Indonesia, dalam 15 tahun terakhir, HIV/AIDS telah menjadi epidemi terbesar dan tercepat berkembang.  Epidemi penggunaan narkoba suntikan terus menjadi modus utama penularan, diperhitungkan 59% dari pengguna terinfeksi HIV. Transmisi heteroseksual menyumbang 41% pada tahun 2006.  Meningkatnya jumlah pengguna narkoba suntik (penasun) menyebabkan  jumlah infeksi baru telah berkembang dengan pesat sejak tahun 1999. Berdasarkan survei berbasis populasi menemukan tingkat dewasa prevalensi 2,4% pada tahun 2006. Ini adalah ancaman bahkan sebuah bencana besar, khususnya di Papua lebih dari 48% warga   tidak menyadari perkembangan HIV/AIDS.  Persentase orang yang dilaporkan tidak menyadari adanya HIV/AIDS  meningkat hingga 74% diantara orang berpendididikan di wilayah tersebut.

Ancaman bencana  buat kehidupan manusia
Memperhatikan laporan statistik Kementerian Kesehatan RI tahun 2014 sebagaimana telah disebutkan, tidak satupun wilayah Provinsi di Indonesia yang terbebas dari penyakit yang mematikan ini. Daerah-daerah yang didiami oleh paling besar penduduk beragama tidak terkecuali dari fenomena sosial dan ancaman kemanusiaan.  

Para dokter yang bergerak di bidang pengobatan dan pencegahan HIV/AIDS menyatakan bahwa tanpa terapi antiretrovirusrata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Kendatipun laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun, namun kekuatiran akan keberlanjutan hidup penduduk/masyarakat Indonesia secara berkualitas tetap ada bahkan menjadi sebuah bencana kemanusiaan nasional.  Penderita penyakit ini akan mengalami gangguan secara fisik, psikis dan psikologis.  Jika demikian halnya maka  produktifivitas penderita akan hilang, generasi muda akan kehilangan usia produktif di Indonesia.

Hukuman sosial umumnya akan diterima penderita HIV/AIDS bahkan lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Hal ini akan berdampak psikologis pada penderita maupun perawat, termasuk konselor penggiat penanganan HIV/AIDS. Jika demikian halnya, mereka akan “membiarkan” atau tidak memperdulikan para penderita untuk mati pelan-pelan tanpa penanganan yang berarti.

Diketahui bahwa hingga sekarang ini belum ditemukan obat yang tepat untuk penderita HIV/AIDS, namun pihak yang berkompeten dan para penggiat dalam masalah kesehatan  mempromosikan HIV/AIDS dapat dicegah.

Cara yang terbaik untuk memastikan apakah gejala ini merupakan tanda-tanda penyakit HIV/AIDS adalah memeriksakan diri pada instalasi kesehatan dan melakukan tes laboratorium.  Hasilnya akan bisa lebih jelas, pasti dan dapat dengan segera melakukan pengobatan supaya penyakit tidak menambah parah. Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

Mereka yang terdeteksi menderita HIV/AIDS akan ditangani dengan . perawatan  antiretrovirus (ARV) yang akan dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, kendatipun  akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua tempat.

Mencegah terjadi dan tertularnya HIV/AIDS tentu dilakukan, pertama dengan menghindari perilaku yang menjadi penyebab HIV/AIDS masuk ke dalam tubuh manusia. Pencegahan itu dilakukan melalui program sosialisasi, penyampaian informasi dan peningkatan pengetahuan masyarakat menyangkut HIV/AIDS. Sasaran program ini pertama ditujukan kepada ODHA, Penasun, Pekerja Seks, kemudian kepada masyarakat umum, pegawai-karyawan, tenaga kesehatan, anak sekolah, jemaat/umat beragama, termasuk penderita HIV/AIDS.  Tujuan dari program ini adalah untuk membatasi jumlah orang yang terjangkit penyakit ini,  memberi pendidikan pada kelompok berisiko, meningkatkan kualitas hidup menderita, dan mengurangi efek sosial ekonomi.  Melalui kerjasama antara pemerintah, LSM dan para pihak terkait, diharapkan dengan program ini  dapat meningkatkan kesadaran akan risiko dan metode pencegahan.

Hal kedua yang harus dilakukan adalah melalui pendekatan ABC yang selalu dipromosikan oleh para penggiat HIV/AIDS yakni Anda jauhi seks (bebas), Bersikap saling setia pada pasangan dan Cegah dengan kondom. Pendekatan ini dianjurkan oleh Pemerintah Amerika Serikat dan berbagai organisasi kesehatan untuk menurunkan risiko terkena HIV melalui hubungan seksual.  

Ketiga, Pekerja/tenaga kesehatan perlu mengikuti prosedur kewaspadaan universal terhadap HIV/AIDS, seperti mengenakan sarung tangan lateks ketika menyuntik dan selalu mencuci tangan, akan dapat membantu mencegah infeksi HIV. Menyarankan pengguna narkoba untuk tidak berbagi jarum suntik dan bahan lainnya yang diperlukan  antara lain kapas, sendok, air pengencer obat, sedotan). Setiap orang  menggunakan jarum yang baru dan disterilisasi untuk tiap suntikan (membersihkan jarum menggunakan pemutih disediakan oleh fasilitas kesehatan) Pemerintah melalui instalasi kesehatan, apotik, praktek dokter, bidan perlu menyediakan  jarum bersih   gratis. Di banyak negara telah melegalkan kepemilikan jarum dan mengijinkan pembelian perlengkapan penyuntikan dari apotek tanpa perlu resep dokter.
Keempat, pencegahan terhadap ibu hamil dan anak menyusui.  Penelitian menunjukkan bahwa obat antiretrovirus, bedah caesar, dan pemberian makanan formula mengurangi peluang penularan HIV dari ibu ke anak (mother-to-child transmission, MTCT). Jika pemberian makanan pengganti dapat diterima, dapat dikerjakan dengan mudah, terjangkau, berkelanjutan, dan aman, ibu yang terinfeksi HIV disarankan tidak menyusui anak mereka. Namun, jika hal-hal tersebut tidak dapat terpenuhi, pemberian ASI eksklusif disarankan dilakukan selama bulan-bulan pertama dan selanjutnya dihentikan sesegera mungkin.

Bahwa pencegahan yang paling aman adalah dengan menjauhi hubungan bebas, pemakaian narkoba dengan suntikan secara bergantian   

Kelima. Salah satu yang sering diabaikan dalam penanganan HIV/AIDS adalah pendekatan moral dan agama. Pendekatan moral dan agama sering dianggap “tidak penting” lagi, karena HIV/AIDS semata-mata menjadi masalah kesehatan.  Buktinya adalah adanya wacana pembagian kondom gratis untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan masyarakat yang rentan terhadap bahaya penyakit tersebut. Kendatipun wacana itu  menuai banyak kritikan karena dianggap memberi peluang bagi seks bebas yang dilarang agama, namun dengan pemahaman atas perkembangan dan penularan penyakit HIV/AIDS, mau tidak mau harus dilakukan.  Jika dari sisi fisik, psihis, psikologis (kesehatan jasmaniah) ditangani oleh tenaga kesehatan/kedokteran, maka sisi etika-moral-mental dan agama (iman) tentu dilakukan oleh para tokoh agama dan tokoh adat. Nilai-nilai moral dan keagamaan harus diikutsertakan dalam penanganan HIV/AIDS.

Penyakit HIV/AIDS menuntut perhatian kita semua karena beberapa alasan yang dapat diterima akal sehat. Semua orang bisa terkena penyakit HIV AIDS, belum ditemukan vaksin   pencegahannya, penyebarannya sangat cepat dan proses pengobatannya tidak diketahui, fase perkembangannya berlangsung lama antara 6 bulan sampai 20 tahun dan dapat menyebabkan kematian pada penderitanya. Statistik menginformasikan betapa banyaknya penduduk Indonesia yang terkena/mengidap virus HIV dan penyakit AIDS. Perkembangannya selama 10 tahun terakhir sungguh mengerikan yang mengakibatkan puluhan ribu meninggal dunia.

Mencegah penularan dan penyebaran HIV/AIDS di Indonesia, memang bukan pekerjaan mudah. Penularan dan penyebaran penyakit HIV/AIDS merupakan masalah sosial yang dipengaruhi banyak faktor. Misalnya budaya, sikap mental, pengetahuan, kesadaran masyarakat, pendekatan, teknik dan cara penyuluhan HIV/AIDS, isi pesan dan himbauan yang disampaikan termasuk keterlibatan para tokoh adat/tokoh agama.Seharusnya dengan semakin banyak upaya atau program dilakukan untuk mencegah HIV/AIDS, maka korban dan penderita hiv aids akan semakin turun. Namun faktanya,   kecenderungannya penderita HIV/AIDS terus meningkat dari waktu ke waktu, berkembang dari satu daerah ke daerah lain melintasi nusantara bahkan antar benua.HIV/AIDS bagi penduduk Indonesia tidak lagi sekedar penyakit tetapi sudah menjadi bencana sosial, bencana kemanusiaan yang akan menenggelamkan manusia Indonesia yang berkualitas (pintar, sehat, bermoral dan agamais), manusia seutuhnya. Tidak satu orangpun masyarakat di dunia ini yang rela terkena HIV/AIDS yang mematikan. Tetapi siapa yang akan disalahkan, siapa yang bertanggungjawab? Akankah kondisi ini kita biarkan?

Samosir, 30 Maret 2015.
Melani Butarbutar

Tulisan ini telah ditayangkan di halaman utama Harian Online Kabar Indonesia (www.kabarindonesia.com) tanggal 10, 21, 28 dan 30 April 2015

Tidak ada komentar: