Selasa, 18 April 2017

MENGENAL GEOPARK NASIONAL KALDERA TOBA (CALDERA TOBA SUPERVOLCANO GEOPARK) SEBUAH AKSI MENUJU UNESCO GLOBAL GEOPARK NETWORK ( UNESCO GGN)

*) Tulisan ini disusun sebagai salah satu bahan Sosialisasi-Edukasi kepada masyarakat Kabupaten Samosir dan kawasan Danau Toba, dalam rangka pengusulan GKT menjadi Anggota Unesco Global Geopark Network.
**) Penulis : Drs.Melani Butarbutar, MM, Divisi Edukasi Geoarea Samosir.

I.       PENDAHULUAN

  1. Geologi Indonesia,
Hipotesis Nebula, bumi terbentuk sekitar 4,5 milyar tahun lalu di dalam system alam semesta yang tak berbatas. Sisa-sisa pecahan benda angkasa sepertimeteor sering masuk ke dalam atmosfir, sehingga manusia dapat menganalisis susunan planet di sekitar bumi. Tataan geologi Indonesia tidak dapat lepas darikegiatan teknonik, yang membuktikan bahwa bumi ini bersifat dinamis. Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Samudera Pasifik, yang masing-masing bergerak ke utara dan barat, keduanya menyusup di bawah pinggiran Lempeng Eurasia berbentuk busu kepulauan Indonesia. Banyaknya gunung api dan sesar aktif, gempa bumi serta undak-undak terumbu di sebagian besar wilayah Indonesia menunjukkkan kalau gerak-gerak tektonik tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang.
Kalimantan adalah wilayah Indonesia yang relatif stabli sejak Tersier (dimulai 65 juta tahun lalu), di mana daerah ini tidak mempunyai gunung api aktif atau sumber-sumber gempa yang berkaitan dengan tektonik sekarang. Kawasan Delta Mahakam yang luas di Kalimantan Timur menciri salah satu sifat stabil pulau ini. Berbeda dengan Sulawesi, pulau ini merupakan daerah labil. Lajur sesar aktif di daerah daerah labil seperti itu merupakan kawasan yang rentan terhadap bencana gempabumi tektonik. Pematang Pengunungan Tengah di Irian Jaya menyingkapkan batua tertua di Indonesia yang berumur pra-Kalimantan (lebih dari 590 juta tahun lalu). Bentangalam pegunungan tersebut sangat unik dan langka, karena beberapa puncaknya ditutupi oleh salju ekuator.
Di Indonesia terdapat sekitar 129 gunungapi aktif yang tersebar mulai Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kepulauan Banda dan Sulawesi Utara membentukjalur kegunungapian yang genesanya berkaitan erat dengan tataan tektonik Indonesia. Keberadaan gunungan aktif di Indonesia menimbulkan aspek positif dan negatif. Fenomena alam tersebut merupakan sumber daya alam yang berdayaguna, sekaligus sebagai laboratorium alam yang membuka tabir misterikeadaan dan proses geologi yang sedang berlangsung di kedalaman bumi. Di samping itu, gunungapi menhyembunyikan kekuatan maha dahsyat yang sewaktu-waktu dapat memusnahkan kehidupan dan lingkungan biotik-abiotik di sekitarnya.
  1. Sejarah Kehidupan
Sejarah kehidupan di mulai sejak 3 milyar tahun lalu hingga sekarang. Proses pembentukan batuan, munculnya kehidupan awal serta perkembangan kehidupan dilaut dan di darat. Bukti sejarah dan hasil penelitian dipamerkan secara sistematis di Museum Geologi Bandung, antara lain: 
Ø   Koleksi replika reptilia-purba Tyrannosaurus rex yang hidup dan berkembang antara 210-97 juta tahun lalu,  dan punah bersama kerabat Dinosaurus lainnya sekitar 97-65 juta tahun lalu. Tyrannosaurus adalah hewan pemakan daging yang ganas, yang hidup pada jaman Jura dan punah di akhir jaman Kapur.
Ø   Fosil manusia purba dan perkakasnya (artefak) dari beberapa daerah di Indonesiadan yang ditemukan di lapisan bekas Danau Bandung. Melalui panel-panel bergambar dijelaskan prosespembentukan batubara dan minyak bumi yang asalnya berkaitan dengan erat dengan tumbuhan dan binatang yang pernah hidup jutaan tahun lalu. Sisa-sisa kehidupan masa lalu yang sudah membatu (fosil) sangat membantu bagi analisis umur relative batuan-sedimen dan lingkungan kehidupan purba.

  1. Geologi Untuk Kehidupan Manusia;
Tataan geologi di suatu daerah memberi pengaruh positif-negatif terhadap tata cara, tingkat kehidupan dan kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Aspek positif dari tataan geologi suatu kawasan mempengaruhi usaha manusia di dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya mineral dan energy yang terdapat di dalam bumi. Penambangan beragam jenis mineral yang bersifat ekonomi, di samping bahan bakar fosil dan pemanfaatan energy yang dihasilkan oleh panasbumi hingga kini terbukti memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan dan devisa negara. Demikian pula dengan sumber-sumber air dan cadangan air bawah tanah. Kebutuhan akan air bersih menjadi lebih terasa bagi penduduk kawasan kars, karena sesuai dengan sifat fisik dan lingkungan kars itu sendiri di mana air di permukaan sangat jarang dijumpai.
Di Indonesia, pemakaian bahan tambang oleh manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. Tercatat dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya (abad VIII) untuk memuat perhiasan dari emas,  manusia menggiling batu-batuan kemdian mencampurnya dengan air. Butiran emas hasil dulangan selanjutnya dilebur dan dicetak menjadi perhiasan yang dibutuhkan.
Bencana alam yang diakibatkan oleh keadaan geologi suatu diaerah seperti gempabumi, peletusan gunungapi, tanah longsor, tsunami dan sebagainya merupakan ancaman bagi masyarakat yang tinggaldi kawasan rawan bencana. Untuk menghindari dan memperkecil resiokoyang disebabkan oleh bencana tersebut, orang mulai banyak melakukan kegiatan mitigasi bencana alam geologi.

II.      TAMAN BUMI (GEOPARK)

1.       Pengertian Geopark (Geopark Definition)

Geologi berasal dari istilah Yunani ge-(geos-) artinya “bumi” dan logos artinya kata “alasan”, “ilmu”. Geologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang Bumi secara keseluruhan, baik mengenai asal kejadiannya, kandungannya, bentuk fisiknya dan sejarahnya, serta segala proses alamiah yang mempengaruhi perkembangannya.
Geopark adalah sebuah konsep manajemen sumber daya keragaman bumi (geodiversity) sebagai daya tarik wisata, yang mencakup geologi, biologi, sosial-budaya dan pariwisata.
Geoarea adalah kumpulan dari beberapa geosite yang berada dalam satu kawasan.
Geosite adalah suatu  objek minatan tertentu yang terdapat di permukaan bumi yang menunjukkan bukti terjadinya peristiwa geologi yang sangat unik/khas dan signifikan.

Pengertian Geopark dapat dipahami melalui arti, fungsi dan implementasinya sebagai komponen yang berkaitan dengan alam dan kehidupan di bumi. Oleh sebab itu konsep Geopark memiliki tiga pengertian dasar, yaitu:
a.   Merupakan kawasan yang memiliki makna sebagai suatu warisan geologi (sehingga perlu dilestarikan), sekaligus sebagai tempat mengaplikasikan strategi pengembangan ekonomi berkelanjutan yang dilakukan melalui struktur menejemen yang baik dan realistis.
b.   Geopark berimplementasi memberi peluang bagi penciptaan lapangan pekerjaan untuk masyarakat setempat dalam hal memperoleh keuntungan ekonomi secara nyata (biasanya melalui kegiatan pariwisata berkelanjutan).
c.   Di dalam kerangka Geopark, objek warisan geologi dan pengetahuan geologi berbagi dengan masyarakat umum. Unsur geologi dan bentangalam yang ada berhubungan dengan aspek lingkungan alam dan budaya.

 Pengertian Geopark dapat dipahami melalui beberapa aspek seperti:

a)   Sebagai suatu kawasan
Geopark merupakan sebuah kawasan yang berisi aneka jenis unsur geologi yang memiliki makna dan fungsi sebagai warisan alam.Di kawasan ini dapat diimplementasikan berbagai strategi pengembangan wilayah secara berkelanjutan, yang promosinya harus didukung oleh program pemerintah.Sebagai kawasan, Geopark harus memiliki batas yang tegas dan nyata.Luas permukaan Geopark-pun harus cukup, dalam artian dapat mendukung penerapan kegiatan rencana aksi pengembangannya.
b)   Sebagai sarana pengenalan warisan bumi
Geopark mengandung sejumlah situs geologi (geosite) yang memiliki makna dari sisi ilmu pengetahuan, kelangkaan, keindahan (estetika), dan pendidikan. Kegiatan di dalam Geopark tidak terbatas pada aspek geologi saja, tetapi juga aspek lain seperti arkeologi, ekologi, sejarah, dan budaya.
c)   Sebagai kawasan lindung warisan bumi
Situs geologi penyusun Geopark adalah bagian dari warisan bumi.Berdasarkan arti, fungsi dan peluang pemanfaatannya, keberadaan dan kelestarian situs-situs itu perlu dijaga dan dilindungi.
d)   Sebagai tempat pengembangan geowisata
Objek-objek warisan bumi di dalam Geopark berpeluang menciptakan nilai ekonomi.Pengembangan ekonomi lokal melalui kegiatan pariwisata berbasis alam (geologi) atau geowisata merupakan salah satu pilihan.Penyelenggaraan kegiatan pariwisata Geopark secara berkelanjutan dimaknai sebagai kegiatan dan upaya penyeimbangan antara pembangunan ekonomi dengan usaha konservasi.
e)   Sebagai sarana kerjasama yang efektif dan efisien dengan masyarakat lokal
Pengembangan Geopark di suatu daerah akan berdampak langsung kepada manusia yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan. Konsep Geopark memperbolehkan masyarakat untuk tetap tinggal di dalam kawasan, yaitu dalam rangka menghubungkan kembali nilai-nilai warisan bumi kepada mereka.Masyarakat dapat berpartisipasi aktif di dalam revitalisasi kawasan secara keseluruhan.
f)    Sebagai tempat implementasi aneka ilmu pengetahuan dan teknologi
Di dalam kegiatan melindungi objek-objek warisan alam dari kerusakan atau penurunan mutu lingkungan, kawasan Geopark menjadi tempat uji coba metoda perlindungan yang diberlakukan.Selain itu, kawasan Geopark juga terbuka sepenuhnya untuk berbagai kegiatan kajian dan penelitian aneka ilmu pengetahuan dan teknologi tepat-guna.

2.       Terminologi Geopark

Geopark merupakan kawasan warisan geologi yang mempunyai nilai ilmiah (pengetahuan), jarang memiliki pembanding di tempat lain, serta mempunyai nilai estetika dalam berbagai skala.Nilai-nilai itu menyatu membentuk kawasan yang unik. Selain menjadi tempat kunjungan dan objek rekreasi alam-budaya, Geopark juga dimaknai sebagai kawasan konservasi dan perlindungan, di mana sebuah warisan geologi akan diturunkan kepada generasi selanjutnya.
Beberapa lokasi sumberdaya dan warisan geologi bolehjadi berada di suatu kawasan di mana telah terjadi urbanisasi dan kegiatan ekonomi.Pengelolaan sumberdaya dan pendekatan yang sifatnya inovatif terhadap daerah yang berkarakteristik seperti itu dipromosikan oleh UNESCO sebagai sebuah Geological Park disingkat Geopark.Di dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Taman Geologi.

a.   Konsep Geopark UNESCO menawarkan peluang untuk mengenal, melindungi dan mengembangkan situs warisan bumi di tingkat global.
b.   Geopark akan mengenali kembali hubungan antara manusia dengan geologi, selain mengenali kemampuan situs itu sebagai pusat pengembangan ekonomi.

Konsep Geopark sangat dekat dengan paradigma penyatuan antara ilmu pengetahuan dengan budaya, yaitu melalui pengenalan keadaan fisik alam yang penting dan unik. Geosite, geotope dan geological monument merupakan istilah yang sering dijumpai di dalam konsep Geopark. Sejak beberapa tahun terakhir istilah-istilah itu sudah dipakai secara luas.  Meskipun demikian pemahaman akan arti, kepentingan dan implikasinya di dalam praktek masih terbuka untuk didiskusikan.

Geosite diartikan sebagai situs sejarah alam yang berhubungan dengan sejarah semesta, bumi, dan manusia.Situs ini terbuka untuk kegiatan pariwisata.Setiap situs geologi atau situs bentangalam yang mengandung unsur keragaman geologi penting adalah geosite. Geosite dapat dijabarkan sebagai singkapan batuan atau bentangalam yang menunjukkan nilai tinggi sebagai warisan bumi. Situs itu mungkin ditemukan di tempat lain, tetapi secara umum sulit dijumpai.
Pemahaman terhadap geosite secara utuh akan membantu manusia memahami sejarah bumi, sehingga tumbuh kepedulian terhadap upaya perlindungannya. Pembukaan geosite untuk kegiatan pariwisata sudah banyak dilakukan, dan semuanya berada di dalam kemasan pengembangan yang sifatnya berkelanjutan.Strategi pengembangan yang diterapkan mendasarkan pada arti dan fungsinya sebagai warisan alam.

Hasil identifikasi dan promosi geosite menunjukkan bahwa Geopark dapat menjadi alat untuk meningkatkan kepedulian orang terhadap nilai warisan geologi dan geomorfologi.Usaha perlindunganpun selanjutnya dapat diterapkan, selaras dengan potensi pengembangan yang dimilikinya.

Geotope didefinisikan oleh Sturm (1994) sebagai bagian penting dari geosfer yang dipahami melalui geologi, geomorfologi, bentukan alam, dan perkembangan alam yang memerlukan perlindungan dari pengaruh negatif yang berpeluang dapat merusaknya.Geotope merupakan komponen matriks abiotik yang terdapat di dalam suatu ecotope (istilah dalam ekologi).

Ecotope (patch) adalah bentangalam terkecil dengan ekologinya yang khas, yang disusun oleh unsur biotik dan abiotik.Karena geotope dianggap sebagai sumberdaya hasil pemahamannya sebagai warisan geologi, maka penciriannya akan jauh lebih baik jika dilakukan oleh sekelompok pakar, yaitu berdasarkan karakteristik, keunikan dan kajian-banding (komparatif).
Istilah geotope lebih banyak dipakai di Jerman.Pada tahun 1983 negara ini menggunakan geotope sebagai bentuk perlindungan warisan geologi.

Geosite dan geotope yang ditentukan berdasarkan makna geologi dan geomorfologi akan menjadi situs penting bagi penelitian dan pendidikan di antara para ilmuwan. Situs-situs itu mungkin tidak memiliki nilai estetika yang dapat menarik pengunjung atau para pembuat keputusan.Oleh karenanya tidak mudah meyakinkan orang yang bukan ahli geologi untuk melindunginya, yang notabene didasarkan pada pemahaman atas nilainya sebagai sebuah warisan alam.

3.       Manajemen Geopark (Geopark Management)

Tujuan dari geopark adalah untuk mengeksplorasi, mengembangkan dan melestarikan hubungan antara warisan geologi dan semua aspek lain dari warisan alam, budaya di kawasan tersebut. Yang intinya adalah tentang menghubungkan kembali seluruh lapisan masyarakat dengan planet kita dan sejarahnya yang membentuk setiap aspek dalam kehidupan masyarakat kita.

Setiap manajemen geopark, harus memiliki dan mencapai minimal 3 fungsi sekaligus yaitu:
a.   Konservasi/Perlindungan
      Sebagai kegiatan mempertahankan keberlanjutan sebagian sumberdaya fisik bumi yang mewakili tatanan budaya dan usaha pemahaman geologi.
      Dalam upaya mendukung pelestarian alam, lingkungan hidup, meminimalisir kerugian dari bencana dan konservasi sumber daya alam sehingga perlu dijaga dan dilindungi/dilestarikan supaya tidak hilang atau tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang lain.
b.   Aspek Pendidikan dan Penelitian
      Masyarakat perlu mengetahui proses geologi terbentuknya bumi tempat tinggalnya dan lingkungan sekitarnya, sebagai dasar bagi masyarakat untuk melestarikan warisan alam yang diberikan dan dapat mengetahui serta menghindari akibat negatif dari bencana geologi yang  dapat terjadi.  Bahwa benda-benda geologi ini belum kita ketahui atau belum bermanfaat pada saaat ini tetapi, dengan bantuan ilmu dan teknologi akan bisa bermanfaat suatu saat nanti.
.
c.   Aspek Ekonomi bagi Komunitas Masyarakat Lokal
      Geosite adalah inti dari geopark bersama-sama dengan kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya. Untuk mengelola dan mengkonservasi nilai penting yang terkandung di setiap geosite maka perlu diberdayakan masyarakat sekitar dalam bentuk kelompok sehingga mampu menjadikan geosite yang ada menjadi objek wisata yang menarik untuk dikunjungi (Geowisata). Melalui geowisata ini maka akan terjadi perputaran ekonomi secara berkesinambungan diantara masyarakat sekitar.

4.  Nilai Penting Taman Bumi (The Importance of Geopark)

Taman Bumi atau geopark adalah pola pengembangan kawasan secara berkelanjutan yang memadukan secara serasi tiga keragaman, yaitu geologi, hayati, dan budaya. Tujuan pengelolaannya adalah membangun dan mengembangkan ekonomi masyarakat setempat berasaskan perlindungan atas ketiga keragaman geologi, hayati dan budaya yang terdapat dalam kawasan itu. Pada dasarnya Taman Bumi adaah pola pengembangan kawasan yang memadukan prinsip atau nilai perlindungan, pendidikan, dan penumbuhan ekonomi setempat berbasis geowisata. Untuk menjamin agar ketiga nilai tersebut dapat diterapkan pada suatu kawasan,maka rencana geopark untuk pengembangan kawasan itu harus dapat diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang wilayah pada daerah yang telah terbangun dari kawasan tersebut.
Terminologi Geopark disini bukanlah berarti hanya sebagai Taman Bumi yang dipahami dan lebih dikaitkan dengan aspek wisata dan konservasi saja, tetapi merupakan suatu konsep baru yang mulai berkembang sejak tahun 1999. Konsep ini mengintegrasikan pengelolaan warisan geologi (geological heritages) dengan warisan budaya (cultural heritages) dari suatu wilayah untuk tiga tujuan utama, yakni konservasi, edukasi dan sustainable development.  Dengan demikian, keberadaan sebuah Geopark tidak hanya membawa misi konservasi dan ekonomi saja seperti layaknya sebuah taman yang memiliki berbagai attraksi, tetapi juga harus dapat menjadi media edukasi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Sebuah Taman Geologi yang selama ini hanya memiliki arti penting dan hanya dapat dinikmati oleh kalangan komunitas keilmuan tertentu untuk pengembangan ilmu, dengan konsep ini keberadaannya akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas kepada semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat tanpa kehilangan fungsinya sebagai sumber pengembangan ilmu.

Indonesia melalui Taman Bumi Kaldera Toba kini telah memasuki era pengembangan kawasan dengan pola geopark. Di negeri yang terkenal dengan julukan “untaian jamrud di khatulistiwa” ke depan diharapkan bermunculan pula taman Bumi Global lainnya.

5.  Jaringan Taman Bumi Dunia (The Global Geopark Network)

Taman Bumi sangat didukung oleh UNESCO melalui Jaringan Taman Bumi Dunia atau Global Geoparks Network (GGN) atau Global Network of National Geoparks.Pengembangan kawasan berpola taman bumi yang tergabung dalam GGN telah berhasil dipraktekkan banyak negara di dunia, seperti di Cina (27 GGN), Italia (8), Spanyol (8), Inggris (6), Jerman (6), Jepang (5), Perancis (4), Yunani (4), Irlandia (3), Austria, Portugal, Norwegia, dan Hongaria (masing-masing 2 GGN), dan Brazil, Kanada, Kroasia, Ceko, Slowakia, Finlandia, Polandia, Islandia, Korea, Malaysia dan Vietnam (masing-masing 1 GGN).
Dengan telah terbentuknya GGN dibawah Unesco pada 2004, perkembangan geopark di dunia tumbuh sangat pesat. Di berbagai negara banyak kawasan dikembangkan menjadi Geopark Nasional (GN). Berbagai GN ini kemudian diusulkan untuk mendapatkan pengakuan dari Unesco sebagai geopark global. Di China, dari total GN dan GGN :  11 geopark pada tahun 2000 menjadi 138 geopark pada tahun 2011. Di Irlandia Utara, geopark Gua Marbie Arch terpilih sebagai daya tarik pertama para turis yang berkunjung ke Irlandia Utara pada tahun 2006.
Indonesia pertama kali menjadi anggota GGN melalui Taman Bumi Batur,Bali. Masuknya kawasan Kaldera Batur sebagai geopark GGN pada 20 September 2012, menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga di Asia Tenggara yang masuk GGN, setelah Malaysia dan Vietnam. Dengan bergabungnya Taman Bumi Batur ke GGN, maka jumlah geopark di dunia yang tergabung dalam GGN mencapai 91 buah.
Kawasan lainnya yang memiliki keragaman geologi-sebagian diantaranya merupakan warisan geologi – berikut keragaman hayati dan keragaman budayanya di Indonesia dapat diusulkan menjadi geopark anggota GGN melalui UNESCO. Sebagaimana amanat UNESCO, pembentukan dan pengembangan geopark menggunakan pendekatan daeri bawah. Pendekatan dari atas dilakukan hanya sebatas memotivasi agar tumbuh kepedulian terhadap upaya perlindungan sumber alam berikut keragaman budayanya dan pada saat yang sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat melalui pengembangan berpola geopark.
Pemerintah melalui Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) membantu proses pengusulan suatu kawasan yang memiliki keragaman geologi untuk menjadi geopark ke GGN UNESCO. Sebelum suatu kawasan diajukan ke UNESCO, terlebih dahulu dilakukan penetapan kawasan tersebut menjadi Taman Bumi Nasional (National Geopark) oleh KNGI. Untuk itu sebelum menjadi Taman Bumi Nasional, terlebih dahulu dilakukan penentuan kawasan tersebut sebagai keragaman geologi dan warisan geologi oleh Kepala Badan Geologi, dan penetapan sebagai waritan geologi oleh Menteri ESDM.
Setelah berhasil menjadi anggota GGN,umur keanggotaan hanya empat tahun.  Sesudah empat tahun dilakukan validasi ulang, yaitu telaah atas kegiatan yang sudah dilakukan sebagai sebuah geopark, oleh UNESCO. Oleh karena itu, untuk setiap geopark yang telah diakui GGN diperlukan berbagai upaya untuk mempertahankan posisinya tersebut.

6.  Keuntungan Taman Bumi (The Benefit of Geopark)

Taman Bumi merupakan konsep konservasi geologi yang sangat baik, karena dapat mencakup seluruh komponen ruang serta mampu mengintegrasikan seluruh sumber daya alam yang ada di sekitar lokasi yang memiliki keunikan geologi. Tujuannya untuk perlindungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Sebagai gambaran keberhasilan konsep Taman Bumi yang memanfaatkan warisan geologi,konservasi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat, dapat dilihat pada Geopark Yuntaishan di Cina. Sejak bergabung sebagai anggota GGN pada 2004, Geopark Yuntaishan dikunjungi wisatawan sekitar 200.000 wisatawan dengan devisa US$ 3 juta, dan setelah bergabung dengan GGN, kunjungan wisatawan meningkat menjadi sekitar 1,25 juta wisatawan dengan devisa US$ 90 juta.
Selain itu, dalam jangka empat tahun sejak bergabung, telah dibangun 400 hotel dan restoran baru, termasuk pembangunan 250 penginapan keluarga. Hingga saat ini (2012), Geopark Yuntaishan telah menyerap lapangan kerja lokalsekitar 5.000 orang dan nilai investasi proyek dalam pengembangan kawasan tersebut senilai US$ 150 juta.

7.  Potensi Taman Bumi di Indonesia (Potential Entry toward GGN)

Bagi Indonesia yang memiliki keragaman geologi yang melimpah dan potensi warisan geologi yang tinggi, berikut keragaman hayati dan keragaman budayanya, kini terbentang kesempatan untuk mencapai keuntungan ekonomi sekaligus keuntungan lingkugan dan sosial budaya melalui pembangunan berpola geopark.
Sebanyak 32 lokasi di Indonesia kini tengah disiapkan untuk ditetapkan menjadi warisan geologi Indonesia yang nantinya dapat diusulkan ke KNGI menjadi Geopark Nasional untukseterusnya dapat diajukan ke UNESCO menjadi anggota geopark GGN.  Ke-32 lokasi itu adalah :
a.      Danau Laut Tawar, (Aceh);
b.      Danau Toba dan Pulau Samosir, ( Sumatera Utara );
c.      Formasi Mengkarang atau Jambi Flora dan Gunung Kerinci, (Jambi);
d.      Lembah Harau, Danau Maninjau, kota tua Sawahlunto, dan Danau Singkarak, Sumatera Barat;
e.      Kompleks Krakatau-Selat Sunda, (Lampung)
f.       Kompleks Batuan Tersier Citarik, (Banten)
g.    Gunung Tangkubanparahu, Panas Bumi Kamojang, Gunung Papandayan, Kars Rajamandala, Cukang Taneuh (Jawa Barat);
h.      Kars Gunung Sewu, Kompleks Batuan Tersier Karang Sambung, Kars Karang Bolong, Kompleks Pra Tersier Pebukitan Jiwo (Jawa Tengah);
i.        Gunung Bromo, (Jawa Timur)
j.        Gunung Rinjani, Gunung Api Purba Bawah Laut Kuta, Gunung Tambora (NTB)
k.      Gunung Kelimutu (NTT);
l.        FosilKayu Samarinda (Kalimantan Timur);
m.     Danau Sentarung (Kalimantan Barat)
n.      Kompleks Tondano (Sulawesi Utara)
o.      Kars Maros (Sulawesi Selatan)
p.      Kars Wawolesea dan Danau Napabale-Muna (Sulawesi Tenggara);
q.      Kars Raja Ampat dan Gletser Pegunungan Tengah (Papua)

Badan Geologi, Kementerian ESDM saat ini tengah mengupayakan lima lokasi lainnya yang memiliki keunikan geologi atau warisan geologi yang sangat khas juga mengandung keragaman hayati dan budaya untuk diajukan menjadi Taman Bumi Dunia. Kelima kawasan itu adalah Merangin-Jambi; KalderaToba-Sumatera Utara; Kars Gunung Sewu-Jawa Timur; Pulau Lombok-NTB dan Kars Rajaampat-Papua Barat;

III.    GEOPARK NASIONAL KALDERA TOBA  (GNKT)

1.   Penelitian para Ahli terkait Kawasan Danau Toba
1939 --- Van Bemmelen: rekonstruksi pembentukan D.Toba, selanjutnya dikoreksi oleh
1961 --- Vestappen
1981 --- Yokoyama & Hehanusa
1984 --- Nishimura
1986 --- Knight

1991 --- Chesner & Rose (Craig A. Chesner, prof geologi yg terus melakukan penelitian  
              hingga saat ini
1998 --- Stanley H Ambrose (University of Illinois at  Urbana-Champaign)
 2003 --- Stephen Oppenheimer, peneliti genetika dari Inggris (Journey of Mankind),  memper-
              tajam teori Toba Catastrophe penelitian Chesner & Rose, 1991 dan sebelumnya   
Letusan Gunung Toba terjadi sebanyak 3 (tiga) kali, dimulai sekitar 850 ribu tahun lalu, tahun yang lalu, dan yang terakhir pada 74.000 tahun yang lalu, yang material letusannya menyebar melintasi benua dan samudera. Thesis Chesner ,  Letusan Gunung Toba pada 74.000 tahun yang lalu merupakan  letusan Supervolcano, yang berdampak global, lahirnya embrio teori Toba Catastrophe

Bill Rose & Craig Chesner (Michigan Technological University)
-   Total material letusan 2.800 km3 (800 km3 ignimbrit yang mengalir di dataran dan 2.000 km3 abu vulkanik ditiup angin ke arah barat).
-   Letusan dahsyat selama 2 minggu tanpa henti.
-   Matahari tertutup tinggal 1% dari normal, bumi gelap.
-   Suhu turun hingga memicu salah satu zaman es.
-   Belerang dari letusan terakumulasi abadi dlm jumlah besar, membeku di lapisan es Greenland (Kutub Utara).
-   Endapan Tuff Muda Toba (YTT) dengan tebal > 600 m di P. Samosir.
-   Debu vulkanik menutup area seluas kira-kira 4 juta km2.
   Gunung Api Yellowstone, meletus sekitar 2,2 juta tahun yang lalu, volume piroklastik yang dihasilkan 2.500 km3.

Tahun 1994 Chesner mengirimkan sampel abu vulkanik Toba kepada peneliti John Westgate (University of Toronto). Saat itu Westgate sedang mencari asal abu vulkanik yang berusia 74.000 tahun yang lalu yang tersebar di berbagai belahan bumi. Kiriman ini mengakhiri pencarian Westgate.    (Chesner et al 1991 dan Dehn et al 1991, dalam Rampino dan Self, 1993). Hasil penelitian stratigrafi lapisan tufa Toba/YTT (74.000; 450.000;  840.000; 1,2 juta tahun yang lalu)   Perulangan 375.000 th dgn deviasi standar 15.000 th, Hidup di atas sumbu bumi yang pernah meledak hebat (VEI=8)

2.  Sejarah Geologi Meletusnya Gunung Toba (Geopark Kaldera Toba)

            Terbentuknya Danau Toba berawal dari Gunung Toba purba yang telah mengalami letusan sebanyak 3  
            kali. Dengan kronologi letusan sebagai berikut :
a.   Letusan I  : Erupsi generasi pertama terjadi sekitar 850 ribu tahun yang lalu, yang menghasilkan kaldera (kawah) di timur danau toba (Porsea dan sekitarnya); Memuntahkan 500 km3 material piroklastika bersusunan Andesitan hingga Riolit, menghasilkan endapan ignimbrite yang dikenal sebagai Tuff Toba Tua (Old Toba Tuff/OTT); Membentuk kaldera yang meliputi kawasan Sibaganding Porsea, di sebelah tenggara Danau Toba saat ini
b.   Letusan II  : sekitar  500 ribu tahun lalu, membentuk kaldera (kawah) di sebelah utara danau toba (Haranggaol dan sekitarnya)., memuntahkan 60 km3 material piroklastika bersusunan Andesitan hingga Riolit, menghasilkan endapan ignimbrite yang dikenal sebagai Tuff Toba Menengah (Middle Toba Tuff/OTT); Membentuk kaldera yang dikenal sebagai kaldera Haranggaol, di sebelah utara  Danau Toba saat ini
c.   Letusan III: yang terdahsyat terjadi sekitar 74.000 - 75.000 tahun yang lalu, yang sebagian besar materialnya dimuntahkan/terbuang yang membentuk kubah besar yang disebut kawah/kaldera Toba, dan letusan ini dikenal sebagai letusan Supervulcano.
 Memuntahkan 2.800 km3 material vulkanik bersusunan Dasitan hingga Riolit, yang dikenal sbg Tuf Toba Termuda (Youngest Toba Tuff/YTT).

Dengan volume material yang dimuntahkan >1000 km3, maka erupsi generasi ketiga ini disebut sbg “erupsi super volcano Toba” (terminologi ini diperkenalkan oleh program TV BBC Popular Science pada tahun 2000), dengan VEI>8. Erupsi Gunung Api Toba generasi ketiga adalah terdahsyat sepanjang sejarah Kuarter (dalam 2 juta tahun terakhir). Dari 2.800 km3, sebanyak 2.000 km3 adalah abu vulkanik yang tertiup angin ke barat dan menyebar ke separuh bumi hingga Kutub Utara.
Aliran piroklastika (awan panas letusan), hujan batu apung, dan abu vulkanik memusnahkan daerah bagian tengah Pulau Sumatera, menyebar ke arah barat-barat daya hingga mencapai Semenanjung Malaya, Indocina, dan India.

               Kemudian kawah/kaldera Toba berangsur-angsur terisi air hujan selama ratusan tahun lamanya itulah 
               yang membentuk Danau Toba.  Pada proses akhir, dimana tenaga magma yang masih tersisa 
               mengakibatkan terjadinya pengangkatan lapisan/kulit bumi  dari dasar danau ke permukaan sehingga 
               terbentuklah Pulau Samosir.

d.  Batas Wilayah Pengelolaan Geopark Toba

Karena luasnya sebaran geosite dari Geopark Toba ini yang meliputi 7 Kabupaten yaitu: Kabupaten Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, maka disepakati organisasi pengelolaannya dikelompokkan menjadi 4 (empat) geoarea. Penentuan 4 (empat) geoarea ini didasarkan pada urutan waktu kejadian dan proses geologinya yaitu:
1)      Geoarea Kaldera Porsea, di sebelah timur meliputi geosite di Parapat (Kabupaten Simalungun) sampai Porsea (Kabupaten Toba Samosir).
2)      Geoarea Kaldera Haranggaol, di sebelah utara meliputi geosite di Kabupaten Simalungun, Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi.
3)      Geoarea Kaldera Sibandang, di sebelah selatan meliputi geosite di Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan.
4)      Geoarea Pulau Samosir,  yang berada dibagian tengah meliputi geosite di Kabupaten Samosir .

Geopark Kaldera Toba  “supervolcano” dengan 15 Geosite Utama :
a.     Geosite Tongging                                                    Karo
b.    Geosite Silahi Sabungan                                          Dairi
c.     Geosite Haranggaol                                                 Simalungun
d.    Geosite Batu gantung, Sibaganding                         Simalungun
e.     Geosite Taman Eden                                               Tobasa
f.     Geosite Balige/Batu Basiha/TB Silalahi                     Tobasa
g.    Geosite Air terjun Binanga Lom/ Situmuru                 Tobasa
h.     Geosite Hutaginjang                                                Taput
i.      Geosite Muara-Sibandang                                        Taput
j.      Geosite Sipinsur                                                      Humbang Hasundutan
k.     Geosite Bakara – Tipang                                          Humbang Hasundutan
l.      Geosite Tele                                                           Samosir
m.   Geosite Pusuk Buhit                                              Samosir
n.    Geosite Endapan Danau Sidihoni-Hutatinggi          Samosir
o.       Geosite Ambarita-Tuktuk-Tomok (Amtuto)  Samosir          

 e.  Geoarea (Kabupaten/Pulau) Samosir

Kabupaten Samosir yang berada di tengah-tengah Kawasan Danau Toba dan terletak di jantung wilayah Provinsi Sumatera Utara, sejak awal telah dikenal sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang sangat potensial di Indonesia.
Kabupaten Samosir dengan luas wilayah ± 206.905 Ha, dan luas Daratan ± 144.425 Ha; terdiri dari Daratan Pulau Sumatera seluas ± 76.117 Ha di sebelah barat, daratan Pulau Samosir seluas ± 68.117Ha di sebelah timur, dan perairan Danau Toba seluas ± 62.480 Ha yang mengelilingi Pulau Samosir.

Kabupaten Samosir dengan jumlah penduduk 119.653 jiwa tahun 2010 (Sumber BPS Provinsi Sumatera Utara: Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2011), tahun 2016 dengan jumlah 143.563 jiwa (Dinas Dukcapil Samosir 2016) dengan administrasi Pemerintahan terdiri dari 9 kecamatan, 128 desa dan 6 kelurahan. Dengan panorama alam yang sangat indah, bukit dan lembah yang mempesona, danau yang sangat luas dengan iklim yang sejuk dengan temperatur berkisar antara 170C - 290C serta peninggalan situs-situs dan sejarah budaya Batak yang sangat unik dan lengkap,
Pada beberapa tempat di permukaan bumi ditemukan bukti-bukti ilmiah tentang terangkatnya Pulau Samosir dari dasar danau, antara lain terdapat di Huta Tinggi, Salaon, Huta Sidolon-dolon dan di lokasi lain. Geo Area Samosir terdiri dari 4 Geosite (Gs) yakni : Gs Pusuk Buhit, Gs Tele, Gs Endapan danau Sidihoni, Gs Ambarita-Tuktuk-Tomok (Amtuto); Geosite di GAS (geo area samosir) terbagi atas Geopoint (Gp) yakni : Gs Pusuk Buhit – 8 Gp; Gs Tele-4 Gp; Gs Hutatinggi Sidihoni-4 Gp dan Gs Amtuto-5 Gp;

Berdasarkan hasil penelitian para ahli geologi, telah diidentifikasi 42 geosite di Kawasan Danau Toba, dan 35 geosite ada di Kabupaten Samosir dan  di antaranya disepakati geosite unggulan sebagai berikut:

1)      Geosite Pusuk Buhit terdiri atas  Geopoint : Aek Rangat, Desa Sianjur-mulamula, Ekowisata Hutaginjang, Batu Hobon, Sigulatti, Puncak Pusuk Buhit, Pitu Mual di kaki pusuk buhit dan Tano Ponggol
2)      Geosite Tele terdiri dari geopoint Panatapan,Simanukmanuk,Simpang Gonting dan Simpang Limbong
3)      Geosite Hutatinggi-Sidihoni terdiri dari geopoint Hutatinggi, Danau Sidihoni, Salaon Toba dan Salaon Dolok
4)      Geosite Ambarita Tuktuk Tomok (Amtuto) terdiri dari : Batu Persidangan Siallagan, Batuan Tuktuk, Makam Tua Raja Sidabutar –Sigalegale Tomok; Kebun Raya Tomok dan Pagar Batu (Lontung)
5)      Geosite Nalontungon (?) : Banuaraja, Batu Sitapitapi, Pasir Sitiotio/Boru Saroding, Hariara Maranak, Sampuran Pangaribuan dan Bontean di Onanbatu;

           Selanjutnya untuk mengetahui kondisi terakhir (saat ini) beberapa geosite di Geoarea Samosir, 
            dapat  dilihat pada gambar berikut :

a.    Geosite Salaon Toba di Salaon
b.    Geosite Simpang Gotting di Simpang Harian
c.    Geosite Kursi Parsidangan di Siallagan - Ambarita
d.    Geosite Makam Raja Sidabutar di Tomok
e.    Geosite Pusuk Buhit
f.     Geosite Tele di sepanjang jalan raya Tele
g.    Geosite Air Panas Simbolon di Kecamatan Palipi
h.    Geosite Huta Tinggi di Kecamatan Pangururan

Berdasarkan Masterplan Geopark Toba yang telah disusun, maka Pusat Informasi/Etalase ditetapkan di Sigulanti Desa Sarimarrihit Kecamatan Sianjur Mula-mula, yang berada di sebelah barat kaki Gunung Pusuk Buhit.

Etalase/Pusat informasi ini berupa areal tanah seluas 22 Ha yang akan ditata dan dibangun sebagai tempat untuk menyimpan dan memajang contoh-contoh material dari semua geosite yang ada di geopark, disertai dengan data-data ilmiah disamping informasi tentang letak geografis, jarak dan peta geosite-geosite yang sudah diteliti. Pusat Informasi/Etalase berfungsi sebagai gerbang awal informasi bagi pengunjung tentang Geopark Toba secara keseluruhan, sebelum mengunjungi geosite yang ada.

Di lokasi Pusat Informasi/Etalase juga direncanakan akan dibangun gedung teater sebagai tempat memutar film animasi tentang peristiwa meletusnya Gunung Toba sampai terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir.
IV.   PROGRAM AKSI DAN AKTIVITAS YANG HARUS DILAKUKAN DALAM RANGKA GNKT MENUJU UNESCO GGN.

a.   5 (lima) rekomendasi UNESCO pada saat pengusulan GNKT di Jepang, 5 Oktober 2015 yakni  :

1.   Program Pendidikan Terpadu di masing-masing Geo Area yang nyata di bawah tema : supervolcano geopark:
-        Informasi dan display di  PIGKT
-        Materi pendidikan berbasis GKT
-        Identifikasi geosite/situs yang penting dan berhubungan dengan cerita supervolcano.
2.   Panel Edukasi pada Geosite, informasi tematik
-        Bahasa yang sederhana, jelas, mudah dipahami, dlm 2 bahasa /lebih, jangan pakai bhs geologi
-        Panel dapat menceritakan keterkaitan geologi dan kehidupan masyarakat sehari-hari misalnya pertanian dan perladangan, pembangunan rumah adat
-        Situs budaya harus memiliki cerita sejarah
-        Ada informasi biodiversity dikaitkan dengan geologi dan geomorfologi
3.   Strategi Promosi dan Marketing Tertulis yakni:
-        Web site, newsletter/jurnal/media cetak/media elektronik
-        Tanda-tanda masuk dan lokasi Geo Area misalnya : Anda berada di…; Anda memasuki….;  Jaga kebersihan, ketertiban;  Jaga dan lestarikan geopoint ini sebagai warisan.
-        Ada Papan petunjuk/ informasi dalam kawasan
-        Ada arahan menuju PIGKT dan geosite utama (jarak tempuh)
-        Ada peta Geopark, Geoarea, Geosite, Geopoint yang dapat dibaca dengan mudah, ditempat-tempat umum/public; seperti di Bandara, Pelabuhan/Dermaga, Mall, Permukiman penduduk.
-        Mengikuti pameran, event pada berbagai kesempatan;
4.   Pengembangan Strategi Wisata Budaya :  perkunjungan ke lokasi yang ada aktivitas budaya, pelatihan sendratasik, aktivitas home industry (ukir, pahat, tenun, lukis); aktivitas entertain sebagai bagian dari promosi (HSF dgn 10 kegiatan tahunan), fashion show.
5.   Aktivitas Geopark di 4  Geo Area : Perlakuan Pengelola dan Aktivitas Masyarakat sekitar.

b. Jika diperhatikan daftar pertanyaan yang menjadi bahan evaluasi dan penilaian (lihat lampiran II) dan rekomendasi tersebut diatas, dapat dikatakan “penyebab kegagalan GNKT menjadi Anggota  UNESCO GLOBAL GEOPARK tahun 2015”, dan mungkin terlalu cepat untuk diusulkan tanpa persiapan yang matang dengan harus ada aksi/aktivitas yang dilakukan berbasis partisipasi masyarakat dan komitmen Pemerintah (Daerah, Provinsi dan Pusat)
Dengan tidak berpretensi untuk mencari siapa yang salah, kegagalan ini harus diterima dengan terbuka dan menjadikannya moment melakukan evaluasi dan aksi persiapan yang baik dan sungguh-sungguh.
Mungkin kita menyebut usulan itu terlalu cepat jika dibandingkan dengan upaya yang dilakukan Geopark Kaldera Batur yang dipersiapkan dan diusulkan tahun 2009 hingga diterima menjadi Anggota GGN pada bulan September 2012 di Portugal, artinya butuh waktu 4 tahun untuk persiapan dengan perlakuan-kegiatan untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan. GN Kaldera Batur melakukan kegiatan berbasis masyarakat (bottom up) dan difasilitasi oleh Pemerintah (top-down).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka untuk terwujudnya cita-cita dan harapan GNKT diterima menjadi Anggota UNESCO GGN melalui evaluasi-penilaian tahun 2017, sudah seharusnya disusun program dan kegiatan menyangkut organisasi, sosialisasi-edukasi-informasi, konservasi lingkungan dan kegiatan ekonomi masyarakat berbasis pariwisata.

Bagi Pemerintah Kabupaten Samosir yang merupakan salah satu Geoarea GNKT dan berada di tengah (pusat) kawasan GNKT, dengan atau tanpa Geoarea yang lain dan tidak  focus pada pengusulan menjadi Anggota Unesco GGN, kegiatan-aksi terkait dengan hal-hal GNKT di Geoarea Samosir harus dilaksanakan sesuai dengan visi pembangunan (RPJMD) dan ditetapkannya pengelolaan pariwisata Samosir berbasis Geopark. (Komitmen Pemkab Samosircq. Bupati Samosir pada Lokakarya GNKT-Geoarea Samosir tgl. 8 Februari 2017 di Sigulatti)

c.   Geopark  Nasional Kaldera Toba:  zaman Dulu,  era Sekarang dan masa Depan.
1)      Zaman Dulu (Catatan sejarah geologi, demografi, biologi, sosial-budaya)
2)      Era Sekarang (Kenyataan yang dilakukan)
3)      Masa Depan (Harapan /Cita-cita)

d. Program aksi-kegiatan (crash program) yang harus “segera” dilakukan dalam rangka percepatan GNKT, sampai bulan September 2017,
1)   Informasi Umum :
a)      Batas wilayah yang jelas
b)      Pariwisata
c)      Ekonomi lokal
d)      Seni-budaya
e)      Warisan geologi
f)       Perlindungan
g)      Pendidikan
2)   Manajemen dan Pelibatan Pihak Lokal
a)      Ciri-ciri geologi dan non geologi
b)      Bottom-up
c)      Pelibatan pemerintah lokal
d)      Komunitas local (local community) dan Pembangunan Komunitas (community development)
e)      Pelibatan Swasta
f)       Pelibatan lembaga pendidikan dan riset/litbang
g)      Branding yang kuat (konservasi dan pariwisata)
h)      Kerjasama dengan komunitas lokal dalam ekonomi dan pariwisata
i)        Pembangunn berkelanjutan (sustainable development)
3)   Pengembangan Ekonomi
a)      Penciptaan masyarakat lokal yang inovatif
b)      Pengembangan UMKM (kerajinan tangan, home industry)
c)      Lembaga pengembangan SDM masyarakat lokal
d)      Penyediaan lapangan kerja
e)      Pendapatan dari geotourism dan geoproduct
f)       Pengembangan industry pariwisata
4)   Pendidikan
a)      Pendidikan dan pelatihan geologi, pariwisata, dan lingkungan hidup
b)      Penelitian dan pengembangan/riset geologi, pariwisata, seni-budaya, dan UMKM
c)      Pelestarian budaya
d)      Pemberdayaan masyarakat
e)      Kemitraan lokal
5)   Perlindungan dan Konservasi
a)      Peraturan perundang-undangan
b)      Regulasi dan Legalitas
c)      Perlindungan kekayaan alam kebumian
d)      Konservasi geologi
e)      Pelestarian nilai-nilai sosial-budaya
6)   Memiliki unsur Sapta Pesona yang merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah di Negara kita, dalam hal ini Geopark Nasional Kaldera Toba atau yang lazim dikenal “kawasan Danau Toba” .
Sapta Pesona harus dibudayakan  melalui gerakan pendidikan sejak dari lingkup kecil hingga luas :
a.   Aman: apakah bisa menjamin keselamatan jiwa, fisik dan psikis, termasuk milik (barang) wisatawan?
b.   Tertib: kondisi ini tercermin dari suasana yang teratur, rapi, dan lancar serta menunjukkan disiplin yang tinggi dalam semua segi kehidupan masyarakat. Apakah masyarakat di sekitarnya sudah mencerminkan hal tersebut?
c.   Bersih: merupakan suatu keadaan/kondisi lingkungan yang menampilkan suasana bebas dari sampah, limbah, penyakit dan pencemaran. Wisatawan akan merasa betah dan nyaman bila berada di tempat-tempat yang bersih dan sehat. Bagaimana dengan Batur Global Geopark?
d.   Sejuk: diimplementasikan dengan suasana lingkungan yang serba hijau, segar, rapi memberi suasana atau keadaan sejuk, nyaman, dan tenteram.
e.   Indah: dapat dilihat dari berbagai segi, seperti dari segi tata warna, tata letak, tata ruang bentuk ataupun gaya dan gerak yang serasi dan selaras, sehingga memberi kesan yang enak dan cantik untuk dilihat.
f.    Ramah Tamah: yang dimaksud adalah selalu menghormati tamu/wisatawan dan dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sikap ramah tamah ini merupakan satu daya tarik bagi wisatawan, oleh karena itu harus kita pelihara terus.
g.   Kenangan ( Image, Perasaan dan Souvenir) : tentunya kita semua menginginkan agar ingatan dan perasaan wisatawan dari pengalaman berpariwisata di Gunung Batur Geopark ini dengan sendirinya adalah yang indah dan menyenangkan.

V.  PROGRAM AKSI YANG AKAN DILAKSANAKAN DIVISI RISET, EDUKASI,  INFORMASI TIM PP GEOAREA SAMOSIR TAHUN 2017

Menyadari bahwa program aksi dan kegiatan yang perlu segera dilakukan tidak hanya mempersiapkan “dossier” dan infrastruktur fisik, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah penyiapan  infrastuktur sosial-budaya  yang melibatkan sumber daya manusia sebagai subjek sekaligus objek pembangunan.  Berikut ini pokok-pokok program aksi yang akan dilakukan di sektor divisi Edukasi.

A.  POKOK-POKOK AKSI YANG AKAN DILAKSANAKAN :
1.     Pertemuan-sosialisasi-edukasi  terbatas  terutama di geosite
2.     Pertemuan-sosialisasi-edukasi umum di geosite
3.     Kunjungan karya wisata dan camping, kerja lapangan ke Sigulatti
4.     Outbond dan Diklat/Riset ke kawasan Pusuk Buhit Sigulatti
5.     Perjalanan wisata geopark ke geosite-geopoint
6.     Pelatihan pemandu geopark
7.     Penelitian yang menghasilkan karya tulis, thesis
8.     Menyampaikan informasi/temu pers/talkshow/interaktif dengan pers-media cetak, media elektronik;
9.     Lomba-Festival berkaitan dengan edukasi dan budaya:
a.   Lomba cipta lagu bertema geopark/geo area Samosir
b.   Lomba menulis cerita dan atau hasil penelitian
c.   Lomba bercerita;
d.   Lomba melukis, mengukir,
e.   Lomba berpidato/promosi
f.    Lomba membuat film animasi tentang geopark/geoarea/geosite
g.   Lomba cipta musik, tari, drama ttg geopark
h.   Lomba hasil edukasi (kebiasaan hidup yang baik atas 5K/7K

B.  SASARAN PROGRAM AKSI (RISET, EDUKASI DAN INFORMASI);
1.     Tenaga/tokoh kependidikan (Kepala Sekolah dan Guru)
2.     Murid/Siswa Sekolah dan
3.     Mahasiswa dan Alumnus
4.     Komunitas Pemuda/Remaja/Generasi Muda
5.     Komunitas Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Budaya
6.     Peserta Diklat, Pegawai Perusahaan.
7.     Kelompok masyarakat beragama (jemaat gereja, umat masjid, dsb)
8.     Pelaku kepariwisataan (hotel, restoran, souvenir, transportasi dsb)
9.     Lembaga swadaya masyarakat/pers
10.    Aparat Pemerintah/birokrasi/badan usaha/ Kepala Desa-BPD-PKK

C.   BAHAN YANG PERLU DISEDIAKAN UNTUK DIBAGI :
1.     Modul Pelajaran tentang Geopark dan Geopark Kaldera Toba;
2.     Buku informasi-tentang geopark dan Kabupaten Samosir;
3.     Leaflet, brosur, banner, peta geopark/geoarea/geosite
4.     CD, Video dan film tentang geopark
5.     Foto-foto atau gambar yang berkaitan dengan geologi, geodiversity, biologi, budaya;  
6.     Berita Koran/majalah/Newsletter/tabloid/
7.     Sampel  benda-benda tinggalan ( misalnya : batu berumur 300 juta tahun di Gonting)
8.     Untuk karya wisata bahan2 seperti bibit, materi ukir/pahat/lukis perlu disediakan Tim PP Geoarea;

D.   PERALATAN (SARANA/PRASARANA) YANG DIPERLUKAN :
1.     Laptop untuk setting bahan paparan
2.     Screen (Infocus) untuk pemutaran video
3.     Sound system portable ke lapangan
4.     Ruang theater lengkap dengan sound system dan large screen untuk putar film
E.    MATERI UTAMA DALAM SOSIALISASI DAN EDUKASI:
1.   Pemaparan dan penjelasan tentang Geopark, Geoarea, Geosite,Geopoint 
2.   Penjelasan Bukti fisik, benda  tinggalan supervolcano;
3.   Karya nyata dengan penanaman pohon di kawasan Sigulatti (biodiversity), bibit
    disediakan;
4.   Karya nyata seperti melukis,memahat, mengukir (aktivitas)

VI.   PENUTUP

1.  Proses pengusulan Geopark Toba ini, dimulai melalui kerjasama Forum Lake Toba Regional Management (LTRM) dan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif serta Kementerian Energi & Sumber Daya Mineral sejak pertengahan tahun 2011, melalui penelitian beberapa geosite, penyusunan Masterplan Geopark Toba, dan sosialisasi awal.
2.   Sejak awal 2012 telah dilakukan sosialisasi tentang Geopark Toba dan prospeknya kepada beberapa pihak, baik tingkat Provinsi, Kabupaten dan Lokal.
3.   Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Nomor: 20/KEP/D.PDP/III/2012 tanggal 25 Maret 2012 telah ditetapkan Geopark Toba sebagai Geopark Nasional Indonesia.
4.   Pada bulan April 2012 melalui Keputusan Bupati Samosir Nomor 80 Tahun 2012 telah ditetapkan Tim Persiapan Pembangunan Geopark Toba di Kabupaten Samosir.
5.   Pada Tahun 2013 telah disusun “Dossier” (dokumen perencanaan pembangunan dan pengelolaan) Geopark  Toba  sebagai persyaratan bahan usulan untuk dinilai oleh badan dunia UNESCO, sebagai persyaratan calon anggota Global Geopark Networks (GGN).
6.  Sesuai jadwal pertemuan ahli-ahli geopark UNESCO, diharapkan Geopark Toba dapat ditetapkan/diterima sebagai anggota GGN pada tahun 2014, namun karena belum lengkap sesuai persyaratan yang ditetapkan UNESCO, saat ini (2014) sedang disempurnakan dan dilengkapi Dossier dimaksud dengan harapan tahun 2015  GNKT akan menjadi Anggota GGN.
7.   Pada tahun 2013 semua  Bupati sekawasan Danau Toba sepakat  mewujudkan GKT, 2015 Gubsu juga sepakat, Pemerintah pusat sepakat memasukkan kawasan Danau Toba menjadi destinasi  prioritas;
8.   Tahun 2015, GKT diusulkan masuk GGN namun belum berhasil, gagal karena: pengelolaannya belum serius, meliputi aktivitas, edukasi, berkelanjutan, oleh masyarakat termasuk pengelola homestay, dsb;
9. Tahun 2015, Unesco telah mengambil alih Geopark, karena diangggap mampu membangun kesejahteraan masyarakat; Betapa pesatnya perkembangan pariwisata Negara oleh karena Geopark, sehingga UGG memiliki  anggota dari 135   Negara;
10.    Peraturan Gubernur Nomor 34 Tahun 2015 tentang Badan Pengelola GKT Prov.Sumut (Berita Daerah Tahun 2015 Nomor 38)
11.  Keputusan Gubsu No. 158.44/5/Kpts/2016 tentang Badan Pelaksana dan Kelompok Pakar GKT Prov.Sumut.
12.    Keputusan Bupati Samosir Nomor 44 Tahun 2017  tentang Penunjukan Manajemen  Geo Area Samosir;

Nantinya, bila Geopark Toba sudah diterima menjadi anggota GGN-UNESCO, maka akan masuk ke dalam jaringan informasi dan promosi International, sehingga akan menambah kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba secara khusus dan Provinsi Sumatera Utara secara umum, serta akan menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas.  Hal ini sesuai dengan visi dan misi pembangunan Kabupaten Samosir yang tertuang dalam RPJMD-I (2005-2010) dengan visi “Samosir Kabupaten Pariwisata 2010 yang Indah, Damai dan Berbudaya Dengan Agribisnis yang Berwawasan Lingkungan Menuju Masyarakat yang Lebih Sejahtera”;

Kemudian dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2011 tentang RPJMD II (2011-2015) telah ditetapkan juga visi pembangunan Kabupaten Samosir yaitu “Samosir Menjadi Daerah Tujuan Wisata Lingkungan yang Inovatif 2015”, bahkan dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Samosir dengan visi “Samosir Menjadi Daerah Tujuan Wisata Internasional 2025”;

Melihat perkembangan dunia dan ternyata kepariwisataan menjadi leverage-trigger buat peningkatan perekonomian dan kesejahteraan, maka bidang pariwisata tidak ditinggalkan malahan makin diperkuat dengan Perda No….Tahun 2016 tentang  RPJMD-III (2016-2021) Kabupaten Samosir dengan visi “ Terwujudnya Masyarakat Samosir yang sejahtera, mandiri dan berdaya saing, berbasis pariwisata dan pertanian”

Geopark Kaldera Toba  sudah ditetapkan menjadi Geopark Nasional Kaldera Toba, dalam rangka pengusulannya sebagai salah satu geopark di dunia ( menjadi Anggota UNESCO) maka tugas Pemerintah Indonesia adalah menyiapkan bahan-bahan laporan untuk memenuhi persyaratan evaluasi yang dilakukan UNESCO.

Tantangan berikutnya yang harus dipahami oleh segenap stakeholders dan shareholders adalah bagaimana mengintegrasikan potensi warisan geologi dalam suatu strategi pengembangan sumber daya alam dan budaya berkelanjutan agar dapat memberikan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Prakarsa Taman Bumi menambah dimensi baru dalam Konvensi Perlindungan Warisan Budaya dan Alam di Dunia yang menekankan pada potensi interaksi positif antara pelestarian lingkungan alam dengan pengembangan sosial ekonomi dan budaya

Pendekatan inovatif terhadapkawasan yang berkarakter seperti GNKT yang (akan) dipromosikan Unesco sebagai Geopark atau Taman Bumi, memberikan peluang untuk mengenal, melindungi danmengembangkan situs warisan bumi itu di tingkat global. Melalui cara ini, diharapkan Taman Bumi Kaldera Toba (GNKT) menjadi pusat pengembangan ekonomi masyarakat melalui kegiatan wisata bumi (geowisata) berbasis nilai-nilai ilmu pengetahuan alam dan budaya.

Taman Bumi merupakan kawasan yang memiliki warisan geologi yang sangat khas berkelasdunia yang dikelola berdasarkan prinsip konservasi dan edukasi melalui pemberdayaan masyarakat. Dalam pelaksanannya terdapat hubungan saling menguatkan antara warisan geologi, keragaman hayati dan keragaman budaya, yang harus dikelola secara baik dengan melibatkan Pemerintah dan
pemberdayaan masyarakat setempat. Selanjutnya, pemberdayaan ekonomi masyarakat di kawasan Taman Bumi Kaldera Toba harus dapat ditingkatkan melalui kegiatan wisata alam (geowisata, ekowisata dan wisata budaya)

Melalui kegiatan yang dilakukan secara holistic dan terpadu dengan semua stakeholders, taman bumi dapat menjadi model pengelolaan sumber daya alam geologi, biologi, budaya secara berkelanjutan berdasarkan pilar konservasi, edukasi dan pertumbuhan nilai ekonomi lokal.

Pelatihan bagi masyarakat setempat untuk menjadi pemandu geowisata di setiap geotrek, panel-panel penjelasan situs geologi, peta-peta geotrek rinci, penyusunan panduan lapangan bagi wisatawan, dipadukan dengan penciptaan inovasi kreatif kriya dan jasa boga perlu terus digali dan disempurnakan.

Dalam kegiatan Geopark, terdapat beberapa instansi pemerintah yang terlibat, antara lain Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Destnasi Wisata,  Badan Geologi Nasional, Kementerian Kehutanan,  Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, BKSDA Provinsi, BPPT akan ikut terlibat dalam program 6 (enam)  Pemerintah Kabupaten di kawasan Danau Toba . geopark, dikaitkan dengan konsep teknopolitan.

Untuk mewujudkan komitmen Pemerintah, maka sinergitas, koordinasi, keterpaduan  yang makin lancar dan penanganan program GNKT lebih cepat dan lancar, penulis mengusulkan agar diusulkan pembuatan Instruksi Presiden tentang Pembentukan Badan Percepatan Pembangunan GNKT dan Kedeputian yang berinisiatif membangun koordinasi Instansi terkait di tingkat Pusat hingga Provinsi dan Daerah.

Bagaimanapun juga keberhasilan pembangunan dan pengelolaan Geopark Toba secara berkelanjutan, ditentukan oleh peran serta aktif semua pihak baik masyarakat lokal di sekitar geosite, pemerhati lingkungan dan sosial, tokoh agama, tokoh budaya, media massa, pelaku ekonomi dan pemerintah mulai dari pemerintah desa, kabupaten, provinsi sampai ke pusat.

Selaku warga Batak yang  hidup dan mengabdi selama 40 tahun di Samosir dan dipercaya ikut serta dalam Tim PP Geoarea Samosir GNKT, saya sungguh-sungguh memiliki pretensi untuk mempersiapkan buku ini melalui pengumpulan berbagai informasi dari buku, majalah ataupun brosur yang ditulis oleh para ahli dan pemerhati, sehingga kelak cita-cita dan harapan GNKT dapat diterima menjadi anggota UNESCO GGN.

Pada akhirnya, saya menyadari buku/tulisan ini jauh dari sempurna dan belum dapat memenuhi harapan, tiada rotan akar pun jadi, sehingga tulisan ini dapat dengan mudah dipahami oleh semua kalangan dan kiranya dapat memberi inspirasi pada semua pihak yang memiliki keinginan memberi kontribusi bagi pengembangan GNKT untuk kesejahteraan masyarakat.

                                                                             Ambarita, 6 Maret 2017
Sumber :

1)   KONSEP GEOPARK, Memuliakan warisan bumi, mensejahterakan masyarakat, 29 Januari 2012,  Hanang Samodra.
2)   Geopark Indonesia, Badan Geologi Kementerian ESDM, Bandung,
3)   Taman Bumi Global Batur, Indonesia, Badan Geologi, Kementerian ESDM RI, 2012.)
4)   Sekilas tentang Museum Geologi Bandung (leaflet), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, tahun 2000
5)   Informasi Pokok tentang Geopark Kaldera Toba, bahan sosialisasi kepada masyarakat dan siswa SMTA/SMP;  2016 (non publish), oleh Drs.Melani Butarbutar,MM, Staf Ahli Bupati Samosir.
6)   RPJMD Kabupaten Samosir 2016-2021

Lampiran-lampiran :

I.       DAFTAR PERTANYAAN UNTUK DOSSIER PENGUSULAN GKT MENJADI ANGGOTA Unesco Global Geopark (UGG)
(Disalin dari Buku Geopark Indonesia oleh Badan Geologi Kementerian ESDM)

A.    BIDANG INFORMASI DAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN (RISET,INFORMASI, PENDIDIKAN GEOLOGI)
1.      Adakah Institusi Ilmiah/akademi yang melakukan kegiatan di kawasan Geopark?
2.      Adakah Mahasiswa yang melakukan kegiatan ilmiah (pemetaan) dalam kawasan, dibuktikan dengan adanya laporan (1 laporan/tahun)
3.      Adakah tesis doktor hasilpenelitian ilmiah ( 1 tesis dalam 3 tahun)
4.      Adakah tulisan akademis tentang nilai ilmiah dan pariwisata ( 5 tulisan dalam 5 tahun)

B.    PENDIDIKAN LINGKUNGAN
1.     Apa ada staf tetap geopark mencakup ahli pendidikan lingkungan dan siapa orangnya
2.     Siapa yang menjalankan program pendidikan formal dan apa garis besar programnya.
3.     Bagaimana keikutsertaan Pengurus dalam satu program pendidikan formaloleh organisasi lain (misal museum)
4.     Program kunjungan anak-anak ke kawasan Geopark
5.     Program khusus untuk TK/SD; SMP/SMA; Mahasiswa;
6.     Program khusus untuk Lembaga Agama, Lembaga Masyarakat
7.     Adakah kampus atau pusat pendidikan dalam kawasan GKT atau GAS;

C.    JENIS MEDIA PENDIDIKAN ( ADA BUKTI FISIK)
1.     Apa bahan pendidikan yang dikembangkan untuk anak sekolah
2.     Apa ada film, video, slide show, dsb
3.     Apa ada media interaktif/internet
4.     Apa ada bahan pameran yang berganti secara teratur
5.     Apa ada pendidikan khusus (alat) seperti : puzzle, balok konstruksi, dsb
6.     Apa ada bahan pendidikan untuk anak usia dibawah 8 tahun.

D.    INFORMASI YANG TERBIT DI KAWASAN (ADA BUKTI FISIK)
1.     Adakah publikasi tentang perlindungan geologi
2.     Adakah publikasi ttg geologi kawasan geopark
3.     Adakah publikasi antara hubungan geologi, alam dan budaya di kawasan
4.     Publikasi perilaku ramah lingkungan di kawasan geopark
5.     Publikasi tentang sejarah alam lainnya di geopark; Publikasi tentang sejarah;
 
E.    KETENTUAN UNTUK PENGUNJUNG YANG DARI SEKOLAH DAN TERORGANISIR
1.     Wisata terpandu oleh staf geopark
2.     Wisata terpandu oleh anggota pengelola geopark
3.     Program baku yang senantiasa ditawarkan kepada semua pengunjung
4.     Ada kelompok pengunjung ( 30 orang/pemandu)
5.     Ada pilihan lain perjalanan wisata jika cuaca buruk misalnya nonton film, dengar penjelasan di pusat informasi
6.     Program kunjungan per kelompok usia
7.     Program ilmiah khusus
8.     Tawaran pelatihan untuk guru yang meterinya berkaitan dengan geopark;

F.    PENDIDIKAN DAN PEMANDU
1.     Adakah staf tetap yang ahli dapat melakukan pemanduan kegiatan wisata oleh pengelola geopark
2.     Apakah ada ahli dari mitra geopark,dapat melakukan kegiatan wisata geopark
3.     Apa ada pemandu yang menjadi staf tetap geopark
4.     Apa ada pemandu dari mitra geopark
5.     Ada pemandu lepas yang terlatih didukung oleh geopark
6.     Apakah ada pelatihan pemandu.

G.    INFORMASI YANG DIBERI KEPADA PENGUNJUNG
1.     Bentuk surat yang dikirim kepada Sekolah dan PT
2.     Bentuk brosur, leaglet dsb
3.     Siaran pers (Koran, radio, tv)
4.     Tabloid, jurnal, laporan berkala (news letter)
5.     Penggunaan internet untuk program sekolah dan jenis layanan
6.     Situs jaringan tersendiri untukmenyampaikan informasi tentang pendidikan lingkungan
7.     Tanggungjawab program pendidikan melalui surat elektronik (surel)
8.     Berita berkala elektronik
9.     Pembahasan kalender kegiatan

II.    92  BUTIR PEDOMAN  PENGUSULAN GKT KE UNESCO GLOBAL GEOLOGI NETWORK
1.  Situs geologis yang memiliki  outstanding universal values, yang tidak ada duanya di dunia (Ahli Geopark, Ahli Geologi)
2.  Jumlah situs dan panel informasi (bahasa umum). (Ahli Geopark, Ahli Geologi, Ahli Biologi, Ahli Arkeologi, dan Ahli Antropologi memberi masukan kepada Ahli Komunikasi Publik (PR)
3.  Database Situs Geologis di Badan Geologi
4.  Peta situs geologis Skala 1:50000 di Badan Geologi
5.  Peraturan perundangan-undangan dan Peraturan Daerah tentang larangan penggalian dan pengumpulan material yang diinformasikan melalui website, panel informasi, atau selebaran dll. (Undang-Undang Cagar Budaya dan Peraturan Daerah)
6.  Penawaran untuk pengumpulan spesimen geologis di bawah pengawasan Badan Geologi pada situs-situs geologis tertentu.
7.  Pemeliharaan dan pembersihan situs-situs geologis secara rutin oleh PemKab.  /Manajemen Geopark/Badan Geologi
8.  Langkah-langkah konservasi situs geologis (inventarisasi, dokumentasi, perawatan, preservasi, dll) oleh PemKab. dan Badan Geologi
9.  Langkah-langkah pelindungan situs geologis (pencegahan dan pengamanan dari kerusakan/ kehilangan, yang disebabkan oleh faktor alam maupun manusia) oleh PemKab. dan Badan Geologi
 10.  Promosi cetak (selebaran, booklet dll), elektronik (radio televisi), media luar ruang, dan online (website, media sosial), yang berisi informasi tentang hubungan situs-situs geologis dengan keanekaragaman hayati,  dan warisan budaya di dalam kawasan Geopark oleh PemProv. dan PemKab.
11.  Panel-panel informasi yang berisi informasi tentang situs-situs geologis, keanekaragaman hayati (biodiversity), dan warisan budaya, dalam bahasa yang mudah dipahami oleh umum  dilakukan oleh PemKab. dibantu ahli Geopark, ahli Geologi, ahli Biologi, ahli Arkeologi, ahli Antropologi, dan ahli Komunikasi Publik.
12.  Bahan-bahan promosi cetak, elektronik, media luar ruang, media online (website, media sosial), yang berisi informasi tentang hubungan situs-situs geologis dengan keaneka-ragaman hayati dan warisan budaya oleh PemProv/Manajemen Geopark/ PemKab.
 13.  Bahan ajar yang berisi informasi tentang hubungan situs-situs geologis dengan keaneka-ragaman hayati dan warisan budaya di pendidikan formal (SD-Pendidikan Tinggi) dan nonformal (pelatihan untuk pramuwisata, pelatihan untuk kelompok sadar wisata, pelatihan untuk UKM) oleh PemProv., PemKab., Kemenpar, Kementerian UKM dan Koperasi.
14. Penganggaran (K/L, PemProv, PemKab)
15. Master plan Geopark (PemProv. & PemKab.)
16. Area pengembangan untuk pariwisata berbasis komunitas (desa wisata) dengan prinsip  pariwisata berkelanjutan (lingkungan alam, sosial-budaya, dan ekonomi) oleh PemProv., PemKab., dan Kemenpar.
17.  Akses dari dan ke situs-situs geologis, situs alam dan budaya, tempat parkir, transportasi lokal, sistem pengendalian lalu lintas, petunjuk arah dll) oleh PemKab.
18. Jalur pendakian yang ramah lingkungan (tidak menggunakan bahan-bahan yang merusak lingkungan) oleh PemKab.
19. Jalur sepeda atau jalur lainnya, seperti jalur sungai atau jalur jembatan oleh PemKab.
20. Tersedianya kantor yang menjalankan fungsi kehumasan oleh PemKab.
21.  Kios informasi di dalam wilayah Geopark yang berisi informasi tentang Geopark (situs-situs geologis, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya), tujuan, dan kegiatan oleh Pemda dibantu ahli Geopark, ahli Geologi, Ahli Biologi, Ahli Arkeologi, Ahli Antropologi, Ahli Pariwisata Alam dan Budaya, Ahli Teknologi Informasi dan Komunikasi
22.  Panel-panel informasi di kawasan Geopark yang berisi informasi yang menghubungkan situs-situs geologis dengan keanekaragaman hayati dan situs cagar budaya, termasuk warisan budaya takbenda atau budaya hidup, yang sampai sekarang masih diwariskan dari generasi ke generasi, yang mencakup ekspresi lisan; seni pertunjukan; praktik sosial, ritual, dan perayaan/festival; pengetahuan tentang alam dan semesta; dan kemahiran kerajinan tradisional, oleh Pemda dibantu Ahli Geopark, Ahli Geologi, Ahli Biologi, Ahli Arkeologi, Ahli Antropologi, dan Ahli Komunikasi Publik (PR).
23.  Jalur-jalur geologis di dalam area/kawasan Geopark yang sudah dikembangkan dan melibatkan Geopark (peta jalur-jalur geologis) oleh PemKab./Manajemen Geopark
24.  Program/kegiatan untuk individu, anak-anak yang akan mengunjungi area Geopark oleh PemKab./Manajemen Geopark
25.  Program/kegiatan khusus untuk TK/SD oleh PemKab./Manajemen Geopark
26.  Program khusus untuk SMP/SMA oleh PemKab.
27.  Pusat pendidikan universitas di kawasan Geopark oleh Universitas
28.  Materi pendidikan yang interaktif (permainan, video games, papan permainan) oleh PemKab.
29.  Peralatan khusus untuk media pendidikan (puzzle, papan permainan, permainan yang  konstruktif, dll) oleh PemKab.
30.  Bahan ajar untuk anak-anak usia di bawah 8 tahun oleh PemKab.
31.  Pelindungan situs-situs geologis yang diinformasikan melalui papan informasi yang berisi larangan Vandalisme (menggali, mengumpulkan, mencorat-coret, merusak, menghancurkan, dan menghilangkan situs geologis) dengan ancaman hukuman (sanksi) oleh PemKab.
32.  Publikasi (cetak, elektronik, media luar ruang, dan online yang berisi informasi yang menghubungkan situs geologis dengan keanekaragaman hayati  dan warisan budaya) oleh PemProv./PemKab
33.  Informasi mengenai perilaku yang ramah lingkungan (environmental friendly) tentang apa yang   boleh dan apa yang tidak boleh (Do's & Don'ts) dengan ilustrasi gambar yang menarik oleh PemProv./PemKab.
34.  Informasi dan pendidikan lingkungan mengenai elemen sejarah berupa bahan ajar untuk pendidikan formal, panel informasi, website, media sosial) oleh PemProv./PemKab.
35. Wisata Geopark Individual yang dipandu oleh Pemandu Geopark (jalur geopark, akses/transportasi, titik keberangkatan dan kembali, pemandu, manajemen pengunjung, bahasa komunikasi) oleh Pemandu/Usaha Perjalanan Wisata/ Manajemen Geopark
36.  Paket wisata yang dipandu oleh Anggota Manajemen Geopark sesuai paket yang ditawarkan (paket wisata yang berisi informasi tentang jalur, akses/transportasi, titik keberangkatan dan kembali, manajemen pengunjung, pemandu, bahasa komunikasi) oleh Pemandu/Usaha Perjalanan Wisata/Manajemen Geopark.
37.  Program-program reguler yang ditawarkan kepada pengunjung (wisata edukasi/ darmawisata untuk pelajar, wisata Geopark untuk umum, apakah menyediakan program khusus untuk difabel, misalnya tunarungu, tunanetra, pengguna kursi roda) oleh Pemandu dan Usaha Perjalanan Wisata
38.  Manajemen pengunjung (1-5 orang, 6-10 orang, 11-20 orang,  21-30 orang), pengaturan lama waktu berkunjung, pemandu, titik keberangkatan dan kembali, keamanan dan keselamatan pengunjung, dsb oleh Manajemen Geopark
39.  Program untuk kelompok umur yang berbeda-beda (segmen umur 4-5 tahun, 6-12 tahun, 13-15 tahun, 16-18 tahun, 19-23 tahun, 24-55 tahun, 56 tahun ke atas), menjelaskan jalur, akses/transportasi, titik keberangkatan dan berkumpul, pemandu, bahasa komunikasi, penjelasan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, keamanan dan keselamatan, perlengkapan penunjang oleh Manajemen Geopark/Pemandu/Usaha Pariwisata.
40.  Pemandu yang memiliki keahlian khusus, misalnya ahli situs geologi, ahli biologi, dan ahli warisan budaya oleh Pemandu khusus Geopark.
41.  Pemandu dari staf Geopark untuk melayani pengunjung individual (personal guide) oleh Staf Geopark yang berfungsi sebagai Pemandu khusus Geopark.
42.  Pemandu dari mitra Geopark (HPI, Komunitas Lokal)
43.  Pemandu lepas (freelance) yang melakukan pelatihan dan/ atau menyusun program dukungan untuk organisasi Geopark.
44.  Pelatihan pemandu Geopark oleh Kemenpar bekerja sama dengan Badan Geologi (Ahli Geopark, Ahli Geologi), LIPI (Ahli Biologi), Balai Arkeologi (Ahli Arkeologi), dan Ahli Antropologi dari Universitas/Lembaga penelitian.
45.  Informasi berupa surat untuk sekolah-sekolah dan universitas agar mau berkunjung ke Geopark oleh PemProv./Manajemen Geopark
46.  Informasi melalui surat kabar, surat elektronik, newsletter (surat elektronik berlangganan) untuk sekolah-sekolah dan universitas agar mau berkunjung ke Geopark oleh PemProv. /Manajemen Geopark
47.  PIC yang bertanggung jawab untuk program pendidikan yang dapat dihubungi melalui email oleh Manajemen Geopark
48.  Majalah elektronik (newsletter) yang dirilis secara rutin untuk pelanggan sekolah-sekolah dan universitas oleh Manajemen Geopark
49.  Calendar of Event terkini oleh PemProv./Manajemen Geopark
50.  Bahan promosi cetak tentang Geowisata (leaflet, majalah, surat kabar) oleh PemProv./Manajemen Geopark
51.  Bahan promosi geowisata yang berupa literatur populer/umum, seperti buku panduan oleh PemProv./Manajemen Geopark
52.  CD atau material VIDEO geowisata oleh PemProv./Manajemen Geopark
53.  Bahan promosi geowisata yang berupa media cetak (selebaran, booklet), elektronik (radio, televisi), media luar ruang (panel informasi), online (website, media sosial) dalam bahasa (Inggris, Mandarin, dsb) oleh PemProv./Manajemen Geopark.
54.  Satu atau lebih pusat informasi yang dikelola oleh Manajemen Geopark atau organisasi mitra Manajemen Geopark.
55.  Titik-titik informasi atau fasilitas yang serupa yang dikelola oleh Manajemen Geopark atau satu dari organisasi mitra Manajemen Geopark.
56.  Pusat informasi di lokasi/ tempat berkumpul pada saat akan memulai kunjungan ke lapangan oleh Manajemen/Mitra Geopark
57.  Apakah pusat informasi dapat diakses bagi pengguna kursi roda atau difabel oleh Manajemen Geopark
58.  Materi layar interaktif (touch screen) di pusat informasi oleh Manajemen Geopark
59.  Pameran Geopark secara rutin di museum oleh Badan Geologi, LIPI, Balai Arkeologi, Balai Pelestarian Nilai Budaya, dan Universitas.
60.  Apakah tersedia transportasi khusus wisata? Oleh PemKab./Manajemen Geopark
61.  Apakah transportasi umum terintegrasi dengan jalur pejalan kaki dan pesepeda? Oleh PemKab.
62.  Apakah ada fasilitas parkir yang terhubung dengan jalur wisata yang dikembangkan? Oleh PemKab.
63.  Apakah tersedia toilet bersih di area-area parkir (parking area atau rest area) oleh PemKab.
64.  Bahan promosi cetak, elektronik, dan online yang berisi informasi tentang transportasi umum dari dan ke kawasan Geopark oleh PemProv./Manajemen Geopark
65.  Website khusus Geopark yang berisi informasi tentang jadwal dan transportasi yang dikelola oleh Geopark dan/atau organisasi pariwisata lain oleh PemProv./Manajemen Geopark
66.  Penawaran khusus untuk wisatawan yang menggunakan transportasi umum, sepeda, atau transportasi lainnya yang ramah lingkungan (tidak menggunakan bahan bakar minyak, misalnya transportasi dengan menggunakan tenaga kuda) oleh PemKab./Manajemen Geopark
67.  Penawaran wisata khusus Geologi dan Geomorfologi (perlu Pemandu khusus) oleh Manajemen Geopark dan Badan Geologi
68.  Penawaran wisata yang dilaksanakan secara reguler setiap tahun (masuk dalam calendar of event) oleh PemProv./Manajemen Geopark, Kemenpar (Promosi)
69.  Penawaran wisata untuk masyarakat umum (wisatawan nusantara) oleh PemKab. dan Kemenpar (Promosi)
70. Penawaran wisata khusus difabel oleh PemKab.
71.  Penawaran wisata alternatif, jika cuaca buruk (indoor activities) oleh PemKab./Manajemen Geopark
72.  Sistem pendaftaran pengunjung yang fleksibel melalui pendaftaran harian untuk wisatawan atau yang tidak memerlukan pendaftaran terlebih dulu, dapat dikelola secara online (website Geopark) oleh PemProv./Manajemen Geopark
73.  Panel-panel informasi di kawasan Geopark atau di lokasi wisata, yang mudah dibaca oleh pengunjung umum, tidak menggunakan bahasa yang terlalu ilmiah. Oleh Ahli komunikasi publik yang bahannya diperoleh dari Badan Geologi, LIPI, Balai Arkeologi, Balai Pelestarian Nilai Budaya, dan Universitas.
74.  Website Geopark yang dikelola sendiri, yang berisi informasi umum tentang Geopark oleh PemProv./Manajemen Geopark
75.  Link dari website Geopark yang dikelola Pemda Prov. ke website yang dikelola Kemenpar, dan Komunitas lokal, yang berisi informasi umum tentang kawasan Geopark (Pemda Prov./ Manajemen Geopark, Kemenpar/Promosi, Usaha Perjalanan Wisata, HPI, Komunitas lokal)
76.  Berita elektronik (newsletter) secara reguler kepada pelanggan Geopark oleh Manajemen Geopark.
77.  Tersedia fasilitas layanan untuk memesan publikasi secara online bagi pengunjung website yang tertarik ingin memiliki bahan informasi yang dipublikasikan di website Geopark atau link ke website yang menyediakan bahan informasi tentang Geopark oleh PemKab./Manajemen Geopark.
78.  Calendar of Event terbaru oleh Pemda/Manajemen Geopark, Kemenpar/Promosi.
79.  Panduan untuk pengunjung yang akan berkunjung ke daya tarik wisata potensial di kawasan Geopark, misalnya wisata ke desa wisata, agrowisata, wisata memancing, wisata kuliner,  wisata danau, wisata kerajinan, wisata seni pertunjukan, pasar seni dsb. Oleh PemKab./Manajemen Geopark.
80.  Jejaring jalan-jalan setapak yang menghubungkan daya tarik wisata ke situs-situs geologi, wisata ke lokasi flora dan fauna, dan wisata ke warisan budaya oleh PemKab.
81.  Tersedianya rambu-rambu jalan sesuai standar yang memudahkan pengunjung dalam berwisata di kawasan Geopark oleh PemKab.
82.  Pengecekan infrastruktur (sarana dan prasarana) secara berkala dan adanya kepastian untuk perbaikan oleh pihak yang berwenang oleh PemKab.
83.  Penghitungan jumlah pengunjung yang dilakukan secara berkala (mingguan, bulanan, tahunan) melalui survei pengunjung berdasarkan tiket masuk oleh PemProv./PemKab./ Manajemen Geopark.
84.  Evaluasi negara asal pengunjung (pandaftaran pengunjung secara online di website Geopark akan mudah diketahui asal pengunjung dan penghitungan jumlah pengunjung) oleh PemProv / PemKab./Manajemen Geopark.
85.  Apakah menggunakan data pengunjung untuk perencanaan ke depan (pertanyaan ini menunjukkan bahwa Geopark sudah berfungsi minimal setahun sehingga dapat dievaluasi hasilnya untuk perencanaan ke depan) oleh PemProv./PemKab./Manajemen Geopark.
86.  Pasar yang menjual produk utama pertanian daerah yang dikelola Geopark, misalnya buah-buahan, sayuran dsb oleh PemKab.
87.  Label Geopark untuk produk makanan daerah atau gastronomi lokal, yang terdaftar sebagai makanan dalam negeri di Badan POM, berlabel halal (kalau dibuat dari bahan yang halal dan diolah dengan cara yang halal), kandungan makanan, dengan merk/label Geopark atau mitra lainnya, dengan penjelasan singkat tentang nama dan sejarah makanan daerah (gastronomi) oleh PemKab./Manajemen Geopark.
88.  Berinisiatif untuk mempromosikan produk yang berupa replika geologis yang tidak dibuat dari bahan yang bersumber dari situs geologis dan/ atau warisan budaya yang dilindungi sebagai cagar budaya oleh PemKab./Manajemen Geopark.
89.  Pemberian label Geopark untuk produk-produk atau jasa-jasa yang telah dikembangkan oleh Geopark atau mitra lainnya, dengan kriteria produk berupa barang tidak boleh menggunakan bahan dari situs geologis dan situs cagar budaya. Produk harus memiliki karakter yang khas. Produk tidak berbahaya untuk kesehatan. Produk tidak merusak lingkungan. Untuk jasa yang diberi label Geopark, misalnya Jasa Pramuwisata Geopark, Jasa Transportasi Wisata Geopark, Jasa Fotografer Geopark, Jasa Keamanan dan Keselamatan bagi Wisatawan Geopark, Jasa Perajin Geopark, Jasa Seni Pertunjukan Geopark, Jasa Pelukis Geopark, dsb. oleh PemKab./Manajemen Geopark.
90.  Kolaborasi pemasaran dan manajemen destinasi pariwisata dengan bisnis lokal, melalui website Geopark yang link dengan pelaku usaha pariwisata dan komunitas lokal oleh  PemKab./Manajemen Geopark dan web. Indonesia.travel yang dikelola Kemenpar.
91.  Kontrak formal antara Manajemen Geopark dengan mitra kerjanya.
92.  Adanya proyek-proyek yang dibiayai bersama oleh Geopark, Pelaku Usaha, PemProv., PemKab., dan Pemerintah.
 
III,  WARISAN GEOLOGI KALDERA BATUR (Geological Heritage of Batur Caldera)
      Taman Bumi Global Batur, Indonesia: “Memuliakan Warisan Bumi dan Menyejahterakan    
      Masyarakat” (Honoring Geological Heritage and Making Social Welfare)

Secara geografis kawasan ini terletak di bagian timur laut pulau Bali atau sekitar 70 km utara Denpasar, secara administrative berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Kaldera Gunung Api Batur, disiapkan untuk bergabung dalam GGN sejak tahun 2009  bersama dengan kawasan Kars Pacitan, Kementerian ESDM melalui Badan Geologi terlibat sejak awal dalam pengusulannya sebagai geopark GGN. Pada tahun 2011, kawasan ini untuk pertama kalinya diajukan sebagai geopark GGN, namun penetapannya ditangguhkan karena berdasarkan penilaian tim penilai dari UNESCO,kawasan itu masih belum memenuhi semua persyaratan yang telah ditetapkan.

Pada awal 2012, kerjasama antara Badan Geologi Kementerian ESDM dengan Kementerian Parekraf serta Pemerintah Kabupaten Bangli melakukan perbaikan dan penyempurnaan usulan atas dasar rekomendasi UNESCO sebelumnya. Setelah semua persyaratan terpenuhi maka Pemerintah Indonesia kembali mengusulkan kawasan Kaldera Batur untuk diterima menjadi anggota GGN.

Setelah melalui beberapa penilaian dan uji kelayakan oleh tim dari GGN, UNESCO bersamaan dengan berlangsungnya pertemuan the 11th European Geopark Network Conference pada September 2012 yang diselenggarakan di GeoparkArouca, Portugal, akhirnya Kaldera Batur mendapatkan sertifikat dan diakui sebagai bagian dari GGN UNESCO dengan nama Batur Global Geopark, Indonesia (“Taman Bumi Dunia, Batur, Indonesia”, disingkat “Taman Bumi Batur, Indonesia”)

Dengan telah diakuinya Kaldera Batur sebagai geopark dunia (geopark anggota GGN), kini terbukalah kesempatan bagi Indonesia untuk menggerakkan pembangunan yang berbasiskan warisan geologi. Melalui taman bumi, pelestarian alam, khususnya warisan geologi, dan sumber daya alam lainnya berikut budaya lokal dapat sejalan dengan pendidikan dan penumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Warisan geologi adalah dasar dari pengembangan Taman Bumi di kawasan Gunung Batur. Warisan geologi diperoleh dari berbagai keragaman geologi yang khas, unik dan mengagumkan,namun tidak dapat diperbaharui, sehingga perlu dilindungi. Pola pembangunan geopark menerapkan upaya-upaya perlindungan itu bersamaan dengan upaya pendidikan berbasis keragaman geologi yang ada beserta lingkungannya, dan penumbuhan ekonomi masyarakat setempat melalui geowisata dan wisata lainnya.

1.   Keragaman Geologi Geopark Batur
a.                         Kaldera Batur : kaldera tua: ignimbrit Ubud, kaldera muda: ignimbrite Gunungkawi,  ignimbrite Batur;
b.                         Kaldera Batur bagian dalam, kerucut batu apung payang,
c.                            Sumbat Laya Bunbulan
d.                            Endapan Seruakan Blingkang
e.                            Danau Batur
f.                             Gunung Api Batur (aktif)
g.                            Kerucut Gunung  Api Utama
h.                            Kerucut Parasut Gunung Abang
i.                             Bukit di dalam kaldera
j.                             Bukit Sampeanwani
k.                            Longsoran Bukit Poraknya
l.                             Sumbat Lava gunung Bunbulan
m.                          Lava Gunung Batur
 2.   Keragaman Hayati (Biodiversity):
a.     Anjing Kintamani (Anjing Gembrong)
b.     Taru Menyan (pohon raksasa tegak, satu-satunya pohon yang pernah ada di bumi)
3.   Keragaman Budaya (Culturaldiversity)
a.     Desa Trunyan (desa asli Bali di kaki gunung Abang)
b.     Subak (manajemen pengelolaan pengairan ribuan hektar sawah)
c.      Hulu Danu Batur dan Pura Dalem Balingkang
d.     Berutuk
4.   Konservasi, Pendidikan dan Produk Bumi (Conservation, Education, and Geoproduct)
a.     Konservasi :
-        Dilakukan dengan membangun Taman Wisata Alam Penelokan
-        Penetapan Subak sebagai warisan dunia, merupakan bagian dari konservasi dikaitkan dengan kondisi alam dan lingkungan.
-        Kawasan Kaldera Batur dan sekitarnya ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi (dengan SK KepalaBadan Geologi Kementerian ESDM) sebagai kawasan konservasi;
b.   Pendidikan :
-        Dilakukan dengan mengorganisasi kegiatan dan menyediakan logistic
-        Penyampaian pengetahuan ilmu kebumian dan konsep lingkungan dicapai melalui interpretasi situs-situs geologi yang dilindungi, ditafsirkan
-        Adanya museum, pusat informasi, geotrek; pengetahuan tentang gunung api
-        Perjalanan yang dibimbing, Penggunaan/penyediaan media yang memudahkan penyampaian seperti pustaka populer, peta, bahan dan tayangan pendidikan dll.
-        Memberi peningkatan nilai ekonomi melalui pariwisata;
-        Situs-situs geovolkanologi (bentang alam dan material hasil letusan arkeologi dan budaya;
      Pada akhirnya akan muncul harmoni antara bumi, manusia di  daerah gunung api
-        Melatih interpreter professional yang mampu menjelaskan tentang gunung api, bentang alam dan budaya manusia bagi pengunjung;
c.     Produk Bumi (geoproduct):
-        Jeruk Kintamani (Tungerine Kintamani)
-        Kopi Arabica Kintamani (Arabic coffee )
-        Sayur mayur  (vegetables)
-        Ukiran Batu dan Kayu (carving)
d.   Geowisata (geotourism)
-        Situs geologi : lava 1849; lava 1888; ;lava 1904; lava 1905; lava 1921; lava 1926; lava 1963 dan lava 1968;  Jelajah bumi (geotreck), telusur bumi (geotrail/geotrack), :
-        Lokasi pemandangan indah, pendakian gunung, amfiteater, taman hiburan dan pengetahuan, lokasi gabungan, museum dan pameran tetap;  Penyatuan dengan paket wisata yang telah ada;

(Sumber : Taman Bumi Global Batur, Indonesia, Badan Geologi , Kementerian ESDM, 2012)

Tidak ada komentar: