Selasa, 03 April 2018

koaliai nasional jokowi

[4/4 08:51] ‪+62 821-6820-0110‬: Jannerson Gisang

Bacaan segar di pagi hari.

KOALISI NASIONAL JOKOWI

Anda pasti mengernyitkan dahi saat membaca judul tulisan pertama saya tentang Jokowi. Apalagi Gatot Nurmantyo baru saja memulai upaya memasarkan diri. Majalah berita mingguan TEMPO dia pilih sebagai corong.

Di tempat lain kader Gerindra sedang berisik, cengar-cengir menoleh ke Putin serta Erdogan sebagai pemimpin tegas. Harapan mereka, rakyat Indonesia lumayan giting lalu menemukannya dalam sosok Prabowo.

Agus Harymurti pun sedang giat memamerkan ketampanan dan ketrengginasan di Jawa Timur serta Jawa Tengah. Ia keluar-masuk kampung, menyapa rakyat, sambil berkampanye bagi Koffifah.

Ada yang lain? Oya, TGH Muhammad Zainal Majdi. Meski berasal dari PKS, saat ini ia terdaftar sebagai kader Partai Demokrat. Pencapaian sebagai Gubernur NTB lumayan mentereng.

Bagaimana dengan Anies Baswedan? Ah, dia masih sibuk dengan urusan Tanah Abang, juga Rumah DP0%, pun seabrek-abrek persoalan Jakarta yang bukannya selesai malah jadi menjulang. Tengoklah, pekan ini dia kelabakan menjelaskan ke komunitas OK-OCE bahwa tak ada dana digelontorkan. Sebentar lagi rakyat Jakarta bakal menudingnya sebagai pembohong. Mengharapkan dia maju menjadi calon entah dari partai mana pun dalam 4 bulan dengan problema membelukar adalah lamunan tukang cendol.

Rasanya cuma itu. Mari kita urai satu per satu.

PRABOWO
Saya tak tahu apa modal Prabowo kali ini untuk bertarung melawan Jokowi. Prestasinya tak ada. Kemampuan orasinya menurun jauh dibanding 2014. Kesehatannya juga mulai diragukan beberapa kalangan. Kalau hanya “bocor” dan “bubar” sebagai bekal, ia kelak mempermalukan diri. Meski elektabilitasnya berada di peringkat 2 menurut berbagai polster, ia bukan lawan sepadan Jokowi.

Ia harus mengumpulkan dana banyak. Siapa yang mau bertaruh untuknya? Di 2014 Jokowi tak punya apa-apa dan siapa-siapa kecuali rakyat yang banting tulang untuk lelaki Solo itu. Sekarang, Jokowi punya segalanya. “Bocor” dan “Bubar” lenyap dalam 2-3 hari begitu dipakai sebagai isyu pamungkas. Lalu punya apa lagi dia?

TGH MUHAMMAD ZAINAL MAJDI
Mungkin sebagian pesorak ngimpi ia bisa mengikuti jejak Jokowi saat lompat dari kursi Gubernur DKI ke posisi calon presiden. Tapi elektabilitasnya terlalu rendah. Waktu tinggal 4 bulan. Kecuali suara PKS cukup untuk mengusung, dugaan saya tak ada partai berselera mendukungnya. Sebaiknya kita singkirkan dia dari daftar kandidat.

AGUS HARIMURTI
Usianya terlalu muda. Ia kalah telak di DKI. Satu-satunya harapan SBY dan Demokrat adalah memajukannya untuk menjadi wakil presiden mendampingi Jokowi. Tapi itu pun tak mudah. PDIP pasti tidak tertarik pada gagasan ini. Lagipula kesan yang lahir akan sangat menggelikan: kalah di pilkada DKI tahu-tahu lompat jauh menjadi wakil presiden.

GATOT NURMANTYO
Dengan berasumsi Prabowo tahu situasi, Gerindra mungkin akan mencalonkan orang satu ini. Apalagi Tommy Winata siap mendukung. Akan bagus kalau ia berpasangan dengan Agus Harimurti. Sayangnya dugaan saya SBY berkeberatan. Kalau menang, Gatot berkemungkinan melaju hingga 2029. Itu terlalu lama bagi SBY. Ia tak punya kemewahan waktu seperti itu.

Lalu berpasangan dengan siapakah Gatot sebagusnya? Dengan TGH Muhammad Zainal Majdi. Yang satu jendral mantan panglima TNI, yang satu lagi gubernur sukses. Itu pasangan menawan. Mereka juga dekat dengan PKS, dengan 212, dengan banyak kalangan Islam garis keras. Mereka berpotensi membangkitkan ghirah Islam.

Sekarang, mari kita bahas peluang pasangan ini.

Mereka butuh dana kampanye dalam jumlah besar. Ok, Tommy Winata siap turun tangan. Tapi seberapa besar? Maksud saya, seberapa besar dana yang sanggup mereka keluarkan untuk mencederai Jokowi agar terlihat macam lelaki rombengan di mata rakyat?

Jokowi punya segalanya. Elektabilitasnya tinggi. Di mata rakyat ia tak punya cela. Keluarganya tampil sederhana. Anak-anaknya berbisnis sendiri dan sukses. Istrinya tak pernah ikut-campur pekerjaan suami. Mereka keluarga Islam taat. Jokowi dan Iriana sudah naik haji. Tak ada celah bagi 212 untuk meng-Ahok-kan Jokowi. Belakangan ia giat bertemu ulama. Yang terakhir, dan dalam pekan ini, dengan ulama Jabar.

Meski Gerindra mengagung-agungkan Erdogan, dalam berbagai summit Jokowi selalu terlihat berada di sisi para pemimpin dunia atau di sebelah tuan rumah. Ia nampak menjadi figur penting, lebih penting daripada Erdogan. Saya punya cerita rahasia tentang bagaimana Putin serta Trump berebut Jokowi di sebuah kesempatan.

Jokowi juga punya perhelatan besar di Indonesia sepanjang 2018 hingga April 2019. Ada Asian Games, ada IMF-World Bank meeting, ada pertemuan Asia-Afrika, dan banyak event besar lain. Elektabilitasnya bakal makin moncer. Kegiatan-kegiatan itu kelak mengukuhkan Jokowi sebagai salah satu pemimpin penting dunia.

Sudah cukup? Belum.

Sila tengok daftar proyek di Kementerian Pekerjaan Umum. Berapa yang akan diresmikan di kurun waktu Januari-April 2019. Lalu sekian juta sertifikat tanah, yang pembagiannya tinggal disesuaikan dengan jadwal dan lokasi kampanye Jokowi.

Para pesaing boleh berkaok-kaok menyajikan negative campaign. Fadli Zon sila bikin puisi tiap hari. Fahri Hamash bercuap sini-sana. Keesokan hari, di kota dan kampung yang sama, Jokowi berkampanye lalu salah seorang menteri membagikan sertifikat tanah atau meresmikan jalan tol, atau bendungan, atau bandara, dan banyak lagi. Semua caci-maki lenyap gak tahu kemana, berganti senyum merekah di wajah rakyat banyak. Tak ada kampanye yang lebih kuat daripada pembuktian janji

Belum lagi, tak seperti 2014, relawan Jokowi sudah melengkapi diri dengan data terkini dan apps tercanggih untuk memonitor keadaan. Gak percaya? Sila lempar satu isyu saja menghantam Jokowi, tak sampai 3-4 jam counter-attack-nya sudah dialami para pesaing dan bahkan menghujam lebih deras. Fadli dan Desmond sempat mulas.

Para pesaing tidak bertarung melawan Fauzi Bowo yang tak berbuat apa-apa selama masa kepemimpinannya. Mereka bakal berhadapan dengan Jokowi, yang telah memenuhi sebagian besar janji-janji. Ia presiden kecintaan Indonesia. Perhatikanlah, kemana pun ia pergi, rakyat histerikal menyambut dan minta berfoto.

Siapapun lawan Jokowi, kita akan disuguhi pertarungan tidak seimbang. Biaya kampanye serta penyerangan yang dikeluarkan bakal terlalu banyak dan berkemungkinan besar kalah. Taipan siapa yang sanggup dan tega membakar uangnya?

Sila Gatot bermimpi kebangkitan 212 dan dengan Kivlan Zein sebagai corong tuanya. Cukup dengan menaikkan Mahfud MD untuk duduk di sebelah Jokowi sebagai cawapres, pertarungan langsung klaar, jauh sebelum waktunya.

Seluruh kartu ada di tangan Jokowi. Dengan berhitung secermat-cermatnya, semua taipan bakal tarik diri. Walhasil Gatot cuma bisa melongo.

CALON TUNGGAL
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Buya Syafii Marif yang tidak berharap Jokowi menjadi calon tunggal, saya mengusulkan kepada semua partai untuk tahu diri. Di atas kertas tak ada partai yang dengan kekuatan suaranya di DPR sanggup mengusung capres seorang diri. Secara normatif mereka memang tak layak. Kita tak menemukan pengkhianatan terhadap demokrasi di sini.

Lalu, apa yang mereka harus lakukan?

Bergabung dengan PDIP, Golkar, PPP, Nasdem, Hanura, Perindo, PSI dan lain-lain yang sudah lebih dulu mencalonkan Jokowi. Kalian belum lumayan tolol untuk bakar uang 'kan?

Semua partai bergabung untuk membentuk apa yang disebut koalisi nasional. PKS tak perlu malu-malu. Fadli Zon jangan sungkan menjilat lidah. Syaratnya satu: tidak satu partai pun berhak memaksakan calonnya menjawi cawapres. Urusan itu biarlah diserahkan ke Jokowi semata.

Lalu mereka bikin kesepakatan mengenai jatah di kabinet. Jokowi tentu lebih dulu menyimpan kursi kementerian yang akan dia taruh bagi orang-orangnya. Katakanlah bersisa 20 kementrian. Posisi-posisi tersebut dibagikan ke seluruh partai berdasarkan perolehan suara di Pileg 2019.

Masing-masing partai, berdasarkan perolehan suara, mengajukan 3-5 calon untuk setiap kementrian. Jokowi menjadi pemegang kata akhir. Dia memilih salah satu berdasarkan jatah yang dia berikan untuk partai tersebut.

Nah, dipandu Jokowi, Mahfud, Luhut Panjaitan, serta para senior lain, seluruh menteri dari partai-partai berlomba menyajikan kerja terbaiknya bagi Indonesia di masa bakti 2019-2024. Mereka tahu, masing-masing berpotensi menjadi capres 2024. Di sinilah pertarungan sejati terlihat—pertarungan sama kuat, sama rendah, dan sama tinggi.

Dengan cara itu mereka tidak lagi bekerja bagi partai, tapi bagi rakyat Indonesia. Upahnya jelas dan pasti: Presiden Republik Indonesia 2024 – 2029.

Juga, membangun koalisi nasional membuat semua partai punya waktu dan dana yang cukup untuk bertarung hanya di pemilu legislatif. Itu pijakan mereka untuk ikut pilpres 2024.

Hendaklah yang bertelinga mendengar,
yang berotak bernalar.

#Pegari

(jumpa lagi Rabu pekan depan)
[4/4 08:52] ‪+62 821-6820-0110‬: Artikel di atas ditulis Sahat Siagian, seorang penulis yang sedang bersinar

Tidak ada komentar: